Buku dan Mataku



Tentang buku lagi? Iya, hehehe.

Entah karena keseringan di lingkungan yang ada bau-bau bukunya, ataukah memang tidak punya bahan wkwkwkwk. Tapi apapun itu semoga bermanfaat.

Membaca adalah hal yang masih belum lumrah menjadi kebiasaan kebanyakan orang Indonesia. Ini dibuktikan karena minat baca masyarakat Indonesia tergolong masih rendah jika dibandingkan dari negara lain. Disamping segala pegiat literasi yang sudah sangat banyak dan sudah perlahan memberi perubahan dalam dunia baca (saya sangat berterima kasih kepada semuanya) namun tak dipungkiri bahwa ranking Indonesia memang masih tergolong rendah.

Tapi saya tidak akan membahas tentang rating tersebut.

Gambaran orang yang suka membaca buku digambarkan dengan orang yang cupu, kuper, dan pastinya yang berkacamata. Dengan tokoh berkacamata yang digambarkan membentuk pola pikir tersendiri bahwa kebanyakan membaca akan merusak mata. Sehingga terdapat beberapa tips bagaimana cara agar membaca dengan baik, kalau perumpaan membaca Al-Qur'an bagaikan adab lah. Hal ini dilakukan, agar membaca tidak memberikan dampak yang buruk terhadap mata.

Itu saat dulu, kondisinya sekarang sudah berbeda. Namun tetap saja perspektif itu yang masih tertanam dalam kebanyakan orang.

Era sekarang adalah era digitalisasi, dimana hampir segala hal mengalami proses digitalisasi tahap demi tahap. Tak terkecuali dalam dunia literasi, khususnya buku.

Telah banyak berseliweran sekarang buku-buku dalam bentuk digital, buku yang terkesan susah untuk diperoleh apalagi di daerah yang belum terfasilitasi secara baik dalam pemenuhan buku-bukunya.

Buku digital ini menjadi kebahagiaan tersendiri bagi orang-orang yang ingin membaca namun tidak bisa membeli buku tapi juga mau baca buku yang sedang hits.

Nah diluar dari dunia baca, digitalisasi yang menggunakan media seperti gadget dan sebagainya, disamping sangat fungsional ternyata juga memiliki dampak negatif, salah satunya karena radiasi dari layarnya. Sehingga jika berlebihan dalam menggunakannya akan memiliki dampak buruk terhadap mata.

Nah, ada sedikit hal lucu disini (ketawa ya,, awas kalau tidak merasa lucu).

Ada yang pernah menegur saya, "Eh kok membaca tidur, matamu nanti rusak loh", saya tidak menyalahkan seseorang yang menegur itu, terima kasih ya karena telah perhatian. Aseekkk. Tapi dari hal tersebut membuat saraf otak saya saling sambung menyambung dan membuat saya berpikir, ohiya ya kenapa selama ini kita seolah terlalu kaku dalam membaca tidak boleh ini dan itu, mesti harus begini dan begitu, dengan dalih menjaga mata.

Ada juga satu lagi dengan permasalahan begini, ketika beberapa orang bertanya "bukunya keren, pinjam dong" atau "kamu baca buku lewat apa?", "Pinjam dimana?", Dan segala pertanyaan lainnya. Ketika menjawab "lewat hape", lewat aplikasi ini dan itu. Mereka mengatakan "wah, lewat hp ya, ahh mataku tidak bisa kalau lewat" dengan alasan blabla. Permasalahan hampir sama, tidak bisa membaca lewat hp karena berat, mata rusak, radiasi, dsb.

Namun, tapi kok kenapa hal tersebut hanya berlaku kalau ajakan membaca buku ya? Padahal kan pagi, siang, sore, malamnya, bahkan setiap waktunya hampir melihat layar hp. Entah situasi, gelap ataupun terang, berdiri, duduk, atau baring, tanpa melihat situasi dan kondisi, hp selalu stand by. Pakai sosmed, nonton, dan segala aktivitas lainnya. Nah, kenapa coba tidak pernah berpikir kalau itu semua malah penyebab mata terganggu? Kan kan? Jadi aneh, kalau baca buku saja dibilang mata rusak, tapi kalau main lain tidak ada istilah rusak wkwkwk.


Karena kita lebih duluan merasa berat akibat pikiran 'membaca buku'nya dibanding memulainya. Memang memulai itu sedemikian sulit sih. Karena harus melawan hawa nafsu diri yang terlalu nyaman dengan kebiasaan yang terbentuk.


Jadi salah dong orang-orang yang beralasan seperti itu? Tidak juga, kenapa harus ada salah menyalahkan. Hanya saja perspektif kita terhadap sesuatu sedikit demi sedikit harus lebih diarahkan agar pemaknaan terhadap hal-hal yang remeh temeh sekalipun tidak luput untuk kita pantau, karena terlalu banyak logika yang kita selalu bawa kemana-mana namun setelah dicerna secara seksama malah ada keganjalan.

Kita diberi akal untuk berpikir, sebagai bentuk kesyukuran mari gunakan akal dengan sebaik-baiknya. Bukan untuk menentang Tuhan tapi memaknai segala ciptaan Tuhan sehingga membawa kita pada keyakinan akan ke-Maha Besar-annya.


Ohhiya, lucunya tadi mana ya?



Writer;Yuls Al Guevara

Komentar