Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2021

Cur-Kal Buku Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam

Gambar
Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam  karya Ahmad Syafii Maarif Cur-Kal (Curhatan Akal) Kalau ada yang suka baca tentang peradaban Islam, buku karya Buya Syafii ini rekomen sekali untuk dibaca. Supaya kita tidak ngehalu terus untuk mencapai kejayaan dan persatuan Islam. Terasa ditampar-tampar sih juga hmm.. pernah mendengar perspektif dr Pak Fahruddin Faiz terkait alasan kita Islam Indonesia tidak bisa bersatu, kenapa ada latar belakang Muhammadiyah dan NU. Tapi sejauh ini, kenapa Islam (scr global maupun Indonesia) susah dan bahkan kelihatan mustahil untuk bersatu, alasan yang paling relate dan paling ngena menurutku, yaitu yang dibahas dalam narasi-narasi Buya Syafii ini. Buka matamu sobat, kondisi Islam ternyata jauh lebih parah bin kacau. Bukannya kemustahilan bahwa Islam akan kembali ke masa jayanya, bahwa Islam tidak akan bisa bersatu. Namun... Ada beberapa realita kelamnya sejarah yang harus juga berani untuk kita sadari. Hingga kita bisa menyadari kekompleksitasan problem...

Ruang

Banyak keindahan yang ditawarkan duniawi, namun terkadang semesta terlalu asyik bercanda hingga memporak-porandakan semuanya.  Kita sering luput, terlalu terbuai dengan keindahan sampai lupa menyisikan sedikit ruang tempat kekecewaan. Hingga pada titik klimaks kebahagiaan lantas semesta mulai tak terkendali dan menampar dengan dengan realitas yang lain, diri tidak siap untuk menanggungnya, mendobrak ruang yang penuh dengan keindahan sehingga ruang itu hancur menyisakan pecahan luka. Berbahagialah seperlunya, nikmati seutuhnya. Tapi jangan lupa untuk sedikit menyisakan ruang kekecewaan agar ketika badai datang tidak mengobrak-abrik semua kebahagiaan itu.

Penjara Diri

Aku ingin berkelana, merawat usia dengan penuh perjalanan. Aku ingin bebas, terbang ke sana kemari membersamai angin kehidupan. Berada di sekeliling manusia, menyosialkan diri sebagai bagian dari tatanan kehidupan. Melihat manusia dari perspektif yang lain, yang indah dan menawan. Membuat gurat tawa dalam lengkungan bibir yang bahagia. Banyak harap yang menjadi angan-angan, namun terbentur realitas bahwa diri ini hanya manusia yang terjebak dalam penjara besar. Terikat oleh kungkungan kepedihan, ingin merdeka namun tak merdeka. Ingin berjalan, namun takut melangkah. Ingin berlari, tapi takut menambah beban. Ingin mati tapi masih takut mempertanggungjawabkan dunia