Postingan

Kematian-Kematian Kecil yang Kita Sembunyikan

Gambar
  Kapan kematian itu datang? Apakah ketika sang malaikat maut menjemput? Apakah ketika kita tidak lagi menapak di hamparan bumi dan hanya berbaring bersama belatung dalam gelapnya tanah? Dulu aku juga berpikir demikian. Bahwa kematian adalah sebuah peristiwa. Sebuah akhir. Sebuah garis yang memisahkan kehidupan dan ketiadaan. Namun semakin lama hidup, semakin aku menyadari bahwa kematian mungkin jauh lebih dekat daripada yang selama ini kita bayangkan. Sebab dalam hidup, orang-orang bisa mati berkali-kali sebelum benar-benar tidak bisa terbangun untuk selamanya. Ada kematian yang tidak mengundang pemakaman. Tidak ada pelayat. Tidak ada doa-doa yang dipanjatkan. Tidak ada batu nisan yang menandainya. Namun sesuatu di dalam diri seseorang benar-benar telah mati. Mungkin harapannya. Mungkin mimpinya. Mungkin keberaniannya untuk percaya. Atau mungkin dirinya sendiri. Berapa banyak dari kita yang pernah tertikam oleh dunia? Oleh orang-orang yang pernah kita percayai? Oleh keadaan yang t...

Review Buku: Dunia Dalam Senyap dan Keheningan yang Hilang dari Manusia Modern

Gambar
Di zaman ketika manusia semakin sulit diam, Dunia Dalam Senyap hadir seperti sebuah ironi. Kita hidup di era yang dipenuhi suara. Notifikasi, opini, ambisi, pencitraan, dan perlombaan untuk terus terlihat “hidup”. Namun di balik semua itu, manusia modern justru tampak semakin jauh dari dirinya sendiri. Kita mengenal banyak hal, tetapi gagal mengenali isi kepala sendiri ketika malam mulai sunyi. Mungkin karena itu buku karya Rahka Susanto ini terasa begitu dekat. Buku ini tidak hadir seperti buku motivasi yang sibuk menyuruh orang bangkit, produktif, lalu menang melawan hidup sebelum jam lima pagi. Tidak. Dunia Dalam Senyap terasa lebih seperti seseorang yang duduk di sebelahmu dalam keadaan hening, lalu perlahan berkata: “Capek, ya?” Dan entah kenapa, kalimat-kalimat sederhana di dalamnya terasa menampar dengan tenang. Yang cukup terasa sepanjang buku ini adalah nuansa Zen dan Buddhisme yang berulang kali muncul dalam cara penulis memandang hidup. Tidak selalu dibahas secara teorit...

Di Tengah Dunia yang Tidak Memberi Ruang untuk Runtuh

Gambar
  Dalam usia tertentu, hidup mulai terasa seperti perlombaan diam-diam. Ada rasa tertinggal ketika melihat orang lain perlahan berkembang, sementara diri sendiri terasa berjalan di tempat. Di tengah teknologi dan sosial media hari ini, membandingkan diri menjadi semakin mudah dan semakin menyakitkan. Kita bisa melihat kehidupan orang lain kapan saja. Pencapaian mereka, hubungan mereka, kebahagiaan mereka, bahkan versi terbaik yang sengaja dipertontonkan kepada dunia. Perlahan muncul pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah benar-benar tenang: “Aku ke mana?” “Aku mau jadi apa?” “Kenapa semua orang terlihat melangkah, sementara aku masih bingung menentukan arah?” Ironisnya, di tengah krisis identitas seperti itu, manusia tetap dituntut terlihat baik-baik saja. “Aku baik-baik saja,” menjadi kalimat pamungkas untuk menyembunyikan hidup yang sebenarnya sedang berantakan. Banyak orang memilih berpura-pura tenang bukan karena mereka kuat, tetapi karena dunia tidak benar-benar member...

Siapa yang Menentukan Seseorang “Cukup Umur” untuk Membaca?

Gambar
Di rak-rak toko buku, ada angka kecil yang diam-diam menentukan siapa yang dianggap “cukup umur” untuk membaca sebuah cerita, gagasan, atau mungkin luka yang dituliskan seseorang di dalam buku itu. Menariknya, di tengah dunia digital yang nyaris tanpa batas, buku justru masih menjadi salah satu media yang terus diberi pagar usia. Di satu sisi, hal tersebut memang dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan. Tidak semua orang memiliki kesiapan emosional yang sama dalam menerima suatu bacaan. Beberapa tema seperti trauma, depresi, kekerasan, seksualitas, hingga krisis eksistensial memang dapat memunculkan kebingungan maupun penafsiran yang belum matang, terutama bagi pembaca yang masih berada dalam tahap perkembangan tertentu. Psikolog perkembangan Jean Piaget menjelaskan bahwa kemampuan berpikir abstrak dan memahami persoalan kompleks berkembang secara bertahap seiring usia. Artinya, dua orang dapat membaca buku yang sama, tetapi memahami hal yang sangat berbeda dari halaman yang sama....

Ego dan Kegagalan — Sebuah Refleksi

Gambar
  Ketika ego menjadi pemimpin yang sebenarnya. Lucu sebenarnya melihat bagaimana sesuatu yang dulu terlihat penuh makna perlahan berubah menjadi tempat paling melelahkan untuk dipertahankan. Semua orang berbicara tentang nilai, tentang kehormatan, tentang solidaritas dan rasa memiliki. Kalimat-kalimatnya terdengar indah. Terlalu indah malah, sampai akhirnya sulit dibedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya sebatas suara untuk menjaga citra diri sendiri. Dan semakin lama melihat semua itu, semakin terasa kalau sebagian manusia memang lebih mencintai pengakuan dibanding makna dari jalan yang mereka pijak. Sibuk ingin dianggap paling benar, paling berjasa, paling terluka, paling layak didengar. Seakan semuanya berubah menjadi perlombaan ego yang dibungkus dengan kata “kepedulian”. Ironis. Tempat yang seharusnya menjadi ruang bertumbuh justru perlahan dipenuhi manusia-manusia yang sibuk meninggikan dirinya sendiri. Yang lebih memuakkan lagi, semuanya dilakukan sambil teta...

Konotasi

Gambar
  Sudah siap? Seseorang melihat buku yang saya story di WA, judulnya "Jalan Cinta Para Pejuang". Terus dikomen "Baca buku itu buat bacaan atau buat persiapan ka?" Ya saya jawab polos, "cuma bacaan". Terus dia jawab lagi, 'ohh kirain sudah siap'. "Siap apa?", Jawabku. Lalu jawabnya, "Siap nikah". Lah lah, kok malah nikah. Jadi hal ini bukan tentang tentang persiapan saya menikah yang ingin saya sampaikan, bukan. Itu bukan konsumsi publik wkwkwkwk. Jadi begini, dari pertanyaan itu bisa disimpulkan bahwa sebagaian besar sesuatu bisa jadi maknanya seperti yang kita inginkan, tapi bisa juga tidak. Contohnya mungkin kita berpikir bahwa buku ini tentang persiapan nikah, karena beberapa kisah dan bahas cinta yang digunakan. Tapi kembali lagi kepada kita seorang pembaca, apakah pemahaman kita ingin kita bawa pada ranah tersebut atau mengartikannya lebih kepada konsteks nyata kehidupan kita. Memang bukunya menceritakan beberapa tentang ki...

Manusia dan Malam

Gambar
  Dalam kelamnya malam, gelapnya dunia. Manusia itu sedang bergumul dengan pikirannya. Ketika dunia sudah lelah dengan kehidupan di siang hari, isi kepalanya justru mulai memberontak. Kehidupan yang semu, hampa, dan tidak bergairah. Setiap detiknya yang terlewati hanya sebuah jalan untuk menyambung hidup dari satu detik ke detik yang lain, menit ke menit, jam ke jam, hingga hari berganti hari. Pertanyaan tentang makna dunia dan isinya tidak pernah alpa untuk datang mendesak dan meminta jawaban atas arti kehidupan. Manusia bisa saja bercanda dan tertawa di siang hari, tapi ternyata membuka luka di malam hari. Siang hari disibukkan dengan manusia di sekitarnya, malamnya disibukkan dengan manusia di dalam dirinya. Seperti beberapa orang yang sedang berembuk mencari jalan terbaik, padahal hanya satu tubuh yang memiliki banyak jiwa. Jiwa yang sunyi, sepi, dan nestapa. Manusia yang melewati hari-hari dengan kelupaan untuk hidup.