Ego dan Kegagalan — Sebuah Refleksi
Lucu sebenarnya melihat bagaimana sesuatu yang dulu terlihat penuh makna perlahan berubah menjadi tempat paling melelahkan untuk dipertahankan. Semua orang berbicara tentang nilai, tentang kehormatan, tentang solidaritas dan rasa memiliki. Kalimat-kalimatnya terdengar indah. Terlalu indah malah, sampai akhirnya sulit dibedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang hanya sebatas suara untuk menjaga citra diri sendiri.
Dan semakin lama melihat semua itu, semakin terasa kalau sebagian manusia memang lebih mencintai pengakuan dibanding makna dari jalan yang mereka pijak. Sibuk ingin dianggap paling benar, paling berjasa, paling terluka, paling layak didengar. Seakan semuanya berubah menjadi perlombaan ego yang dibungkus dengan kata “kepedulian”. Ironis. Tempat yang seharusnya menjadi ruang bertumbuh justru perlahan dipenuhi manusia-manusia yang sibuk meninggikan dirinya sendiri.
Yang lebih memuakkan lagi, semuanya dilakukan sambil tetap berbicara tentang moral. Tentang etika. Tentang harga diri. Padahal di waktu yang sama, mereka sendiri sedang menghancurkan hal-hal itu dengan tangannya sendiri. Kadang membuat heran, manusia ini benar-benar suka sekali menjadikan kata-kata mulia sebagai topeng paling aman untuk menyembunyikan ambisi dan kerakusannya.
Dan bodohnya, banyak dari kita tetap bertahan. Tetap mencoba percaya bahwa semua ini masih bisa dibenahi. Masih bisa diselamatkan. Meski setiap harinya yang terlihat justru ego yang semakin tumbuh liar dan manusia-manusia yang makin nyaman hidup dalam pembenaran dirinya sendiri. Kritik dianggap ancaman. Nasihat dianggap menjatuhkan. Sementara kesalahan perlahan berubah menjadi kebiasaan yang ditoleransi ramai-ramai.
Kadang rasanya malu. Malu karena pernah menaruh harapan terlalu besar pada sesuatu yang ternyata juga dipenuhi manusia-manusia biasa dengan ego yang sama kotornya. Tidak ada yang benar-benar ingin memperbaiki keadaan, sebagian hanya ingin tetap terlihat paling baik di hadapan yang lain. Dan lucunya lagi, semua orang sadar itu terjadi, tapi memilih diam karena takut merusak kenyamanan lingkarannya sendiri.
Pada akhirnya mungkin memang benar, kerusakan terbesar tidak selalu datang dari luar. Kadang ia lahir dari dalam, tumbuh pelan-pelan, diberi makan oleh ego, pembiaran, dan manusia-manusia yang terlalu sibuk menjaga gengsinya sampai lupa menjaga nilai yang dulu mereka banggakan sendiri.

Komentar
Posting Komentar