Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian


Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati - Brian Khrisna

Blurb


Seperti malam-malam lain, aku pulang selepas lembur. Orang-orang di kantor yang sudah menikah, mereka akan pulang ke keluarganya masing-masing. Sementara aku yang tidak punya siapa-siapa ini, sekarang masih duduk sendirian di parkiran mobil yang sudah lengang, bersama sebotol bir, rokok murah, dan sepotong kue ulang tahunku sendiri yang kubeli dari toko manisan dekat kantor.


Aku takut kalau ternyata selama ini aku tidak pernah berhasil menjalani hidup seperti sebagaimana seharusnya. Di kepalaku sekarang, pertanyaan ini semakin lama semakin membesar. Pantaskah hidup ini kulanjutkan?


Aku berdiri menatap ke langit malam. Kini tekadku sudah bulat. Aku akan bunuh diri 24 jam dari sekarang.


Menceritakan tentang Ale umur 37 tahun yang dilanda depresi berada di titik terendah dalam hidup dan membulatkan tekad untuk mengakhiri hidupnya. Tapi dititik krusial sebelum meminum obat penenang yang jumlahnya cukup untuk overdosis—sebagai cara dia untuk mati, dia tiba-tiba kepikiran mie ayam. Mie ayam yang menjadi langganannya setiap pagi sebelum masuk kantor.


Dari situlah awal mula perjalanan baru Ale dalam menyiapkan kematian, atau lebih tepat disebut perjalanan memaknai hidup(?)


Di awal buku saya sangat ke trigger dengan kondisi si Ale yang mengidap depresi akut. Perasaan yang sudah dipendam berapa puluh tahun, kebencian terhadap dunia, orang-orang sekitar, bahkan dengan diri sendiri, membuat lobang menganga di hati. 


Membuat saya tidak bisa untuk melanjutkan lagi dan memilih untuk berhenti. Butuh waktu beberapa hari untuk melanjutkan. Tipe manusia yang mudah terbawa suasana novel ke kehidupan nyata. Tapi karena beberapa orang sering bertanya "bagaimana bukunya?", "sudah selesai bukunya?", "sudah makan mie ayam?", jadilah saya setidaknya punya "tekanan" untuk melanjutkan menyelesaikannya.


Dari segi isi buku, pesan-pesan yang disampaikan sangat dalam. Menurut saya, ini masuk kategori self-help sih, bahkan diakhir buku si penulis menyampaikan bahwa ini cerita-cerita dari para penyintas depresi.


Untuk alur cerita, di awal-awal cukup menarik, tapi di pertengahan buku, cerita mulai membosankan. Terkesan terlalu membuat takdir yang kebetulan nya itu ngebetulan banget banget. Jadi terlalu flat. Di awal terasa banget depresi dan tantangan kepasrahan hidupnya, sampai perasaan deg-degan, ini si Ale diapakan lagi. Tapi di titik tertentu, saya melanjutkan baca hanya sebagai syarat menyelesaikan buku. Tidak ada perasaan excited dengan kejadian-kejadian yang sedang dan akan terjadi.


Membosankan bukan berarti buruk ya! Meskipun agak membosankan di pertengahan sampai akhir. Pesan-pesan yang disampaikan dalam buku ini tetap bagus dan direkomendasikan untuk orang-orang yang khususnya menuju, sedang, atau pernah di titik terendah dalam hidup. Sebelum masuk ke fase depresi, atau bahkan sudah mengidap depresi.


Untuk orang-orang yang "waras"pun juga bagus sih, agar tau kalau setiap manusia tuh punya struggle nya masing-masing. Biar kita lebih bijak, peka, dan tidak mudah menjustifikasi orang lain, entah orang yang tidak dikenal atau bahkan orang yang dianggap dikenal.


Kalau menjelaskan dalam 1 kalimat yang mewakili buku ini, saya akan mengatakan "bagus, tapi tidak menarik".


Banyak banget quote-quote menariknya, nanti aku buatkan postingan khusus ya. Dan beberapa POV atau pesan-pesan yang menarik akan aku bahas di lain waktu. (Kalau lagi mood:v) Aku udah update quotesnya guyss, wuih banyak banget.

Kutipan dari Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori