Kutipan dari Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Setelah semesta menghancurkan hidupmu berkali-kali meski kau sudah memohon dengan teramat sangat, rasa perih itu tak kunjung juga berhenti. Terkadang, tak percaya lagi pada kekuatan doa menjadi hal yang rasanya wajar sekali. (2)
Kenapa hidup orang-orang begitu terlihat berwarna? Apakah cuma hidupku yang tidak mempunyai warna? Atau, karena mereka pintar mengatur warnanya sendiri. (3)
Lalu pertanyaan itu muncul lagi di kepalaku. Apakah hidupku bisa jauh lebih bahagia jika dulu aku berani mengambil kesempatan untuk menjalaninya sesuai dengan yang aku inginkan, alih-alih menghabiskan waktu menyembuhkan diri sendiri dari banyaknya hal buruk yang terjadi meski itu bukan salahku? Entahlah. Hanya Tuhan yang tahu. (4)
Orang-orang bilang, bagian terberat dari menjadi dewasa adalah kamu akan dipaksa untuk selalu berjalan, tidak peduli sedang sesulit apa keadaanmu saat itu, kamu harus tetap berjalan. Sebab, hidup memang seperti itu. Hari ini, aku telah memutuskan untuk berhenti menjadi dewasa.(6)
Aku adalah pohon yang tumbuh dengan cacat. Alih-alih tinggi menjulang, aku dipaksa tumbuh menunduk menatap tanah seperti bonsai. Dulu, aku adalah anak kecil yang pantang menyerah, senang berjuang, dan tak mau kalah. Namun kepercayaan diriku hilang dikubur oleh orang-orang dari keluargaku sendiri.(14)
I'm creep. I'm just a weird. What the hell I'm doing here? I don't belong here.
Am I living? Or just passing time?
Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskan perasaan yang sedang aku rasakan sekarang. Semua terasa begitu menyakitkan. Hatiku terasa sangat berat hingga rasanya menangis saja tidak cukup. Aku lelah. Bukan lelah secara fisik, tetapi ada sesuatu di dalam diriku yang ingin kusudahi. Aku lelah menjalani semuanya. Lelah tidak ada satu pun yang berhasil di dalam hidupku. Lelah berkorban dan memberikan segalanya untuk orang lain.
Sekarang yang aku inginkan hanyalah beristirahat, tetapi aku tidak tahu istirahat seperti apa yang harus aku ambil agar bisa lepas dari semua perasaan busuk ini. Yang bisa aku lakukan selama ini hanya terus berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.
Jika kehadiranku adalah masalah dalam kehidupan orang-orang di sekitarku, maka pulangkan aku kepada-Mu saja, Tuhan. Aku sudah lelah....(17)
Aku bernyanyi sepuasnya. Berteriak sekencang-kencangnya. Aku juga memesan makanan mahal. Mencoba mencicipi yang tak pernah aku beli sebelumnya karena tidak punya uang. Persetan dengan tabungan, sebentar lagi aku mati dan uang tidak ikut masuk peti. (20)
Sebelum mati, setidaknya sekali saja aku harus melawan dunia. Rencanaku harus terlaksana. (32)
Kalau kamu hidup dan besar di jalanan, jadi orang jahat akan jauh lebih aman ketimbang jadi orang baik.(46)
Justru di tempat paling tidak manusiawi ini, untuk pertama kalinya aku merasa dimanusiakan. Terkadang kamu justru bisa menemukan harta karun di tempat yang tidak pernah kamu sangka-sangka sebelumnya.(66)
Hilangkan sikap pengecut lo itu. Perasaan orang lain bukan tanggung jawab lo. Berdiri tegap dan lawan seakan-akan itu adalah cara lo bisa tetap hidup dan gak mati. Lagian apa lo udah lupa?! Orang yang takut pisau itu cuma orang-orang yang pengen hidup, sedangkan lo itu kan pengen mati!(72-73)
Lucunya, justru di tempat paling tidak manusiawi ini, untuk pertama kalinya aku merasa dimanusiakan. Benar kata orang-orang, terkadang kamu justru bisa menemukan harta karun di tempat yang tidak pernah kamu sangka-sangka sebelumnya.(84)
Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat kamu tidak perlu memohon ара-ара.(86)
Gue sempat nyoba nyari kerja lain, tapi masyarakat gak selalu mau menerima orang-orang buangan seperti kami. Diasingkan, dipandang sebelah mata, dihina, bahkan andai mati pun mungkin gak ada yang peduli.(94)
Tapi inget, setelah berhasil pergi dari tempat ini, lo jangan pernah gampang melabeli orang. Di dunia ini, yang mabuk itu tidak selalu berarti dia orang jahat, dan yang berdoa itu belum tentu dia orang baik. Inget itu.(96-98)
Tapi dibanding lo, coba deh lihat gue dan barbie-barbie gue yang kerja di sini. Dibanding lo, kami adalah orang-orang yang akan selalu menjadi pilihan paling akhir untuk dipilih sebagai pasangan hidup. Kalaupun ada pilihan yang buruk, kami akan tetap kalah dengan pilihan buruk itu. Sebab posisi kami ada jauh di bawah kata buruk itu sendiri. Siapa sih yang mau sama orang bekasan seperti kami?(99)
Tapi menurut gue, lo punya kesamaan sama barbie gue yang lain. Elo dan mereka itu seringnya mencari cinta di tempat yang salah. Setiap manusia seharusnya tidak perlu meminta orang lain untuk mencintainya atau bahkan sampai memohon agar dicintai. Sebab, di hadapan orang yang tepat, lo gak perlu memohon apa-apa. Sudah banyak barbie gue yang pergi dari tempat ini karena dipinang oleh lelaki yang mencintai mereka tanpa peduli dengan apa yang sudah mereka kerjakan di sini. Mereka bahkan rela membayar deposit sama gue buat ngizinin melepas barbie-barbie itu.
Kalau lo sampai harus memohon sama seseorang, itu artinya lo masih mencintai orang yang salah. Lo itu bukan gak pantas dicintai karena bentuk lo, Le. Tapi karena lo sendiri gak bisa mencintai diri lo yang bentuknya seperti ini.
Inget kata-kata gue yang satu ini, kalau lo belum bisa bahagia saat sendiri, jangan limpahkan tugas itu ke orang lain, apalagi kepada orang yang lo cintai.(102)
Di kota yang lebih kejam ketika menjelang pagi ini, semua orang akan berusaha bertahan hidup dengan cara apa pun. Tidak akan ada yang membantu lo. Semua orang dipaksa untuk membantu dirinya sendiri. Seperti yang sudah gue bilang, menggantungkan hidup lo ke orang lain itu sama seperti memberikan mereka pistol berpeluru dan percaya jika mereka gak akan pernah memakainya untuk menembak lo sendiri. Jangan salahkan orang lain jika lo mati, tapi salahkan diri lo sendiri karena percaya kalau mereka gak akan melukaimu.(106)
Le, mungkin sekarang perjalanan lo bukan lagi soal mencari cinta. Mungkin sekarang lo lagi dipaksa buat hidup sendirian. Mungkin sekarang lo sedang dipaksa untuk melihat kehidupan yang selama ini gak pernah lo lihat. Biar apa? Biar suatu hari nanti saat lo bangun dari tidur, lo bakal ngerasa harapan itu masih ada. Mungkin sekarang lo dipaksa untuk bisa sadar kalau sebenarnya lo juga bisa kok untuk tetap hidup, ketemu orang baru, dan menerima keadaan yang selalu aja berjalan di luar rencana. Dan nanti di akhir cerita, lo akan paham kalau sebenarnya lo juga bisa mengandalkan diri lo sendiri. Mungkin dengan cara lo ketemu Murad, ketemu gue, itu semua adalah kesempatan kedua dari Tuhan untuk hidup sekali lagi. (106-107)
Ternyata benar, terkadang kita justru bisa mendapatkan hal-hal yang indah di tempat-tempat yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Seseorang yang baru kutemui dua minggu lalu justru adalah orang yang paling banyak memberikan pelajaran ketimbang seseorang yang sudah aku kenal puluhan tahun sekalipun.(111)
Kadang semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita sudah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita cuma bisa menerima.(114)
Kata psikiaterku dulu, kesedihan tak sepenuhnya bisa hilang. Ia akan selalu ada selayaknya bopeng di tubuh atau selulit di paha yang cantik. Ia hanya bara api kecil yang menyala dengan warna yang pudar. Hanya butuh satu embusan angin besar saja sebelum bara itu berkobar dan berubah menjadi api yang membara, yang bisa membumihanguskan apa saja yang selama ini kau simpan di dalam kepala. Termasuk segala perjuanganmu untuk tidak depresi lagi. Semua bisa hilang hanya dalam satu jentikan jari.(118)
"Capek sih, Mas, tapi ya...Saya sih bagian jalanin aja,” itulah yang namanya hidup. Soalnya buat orang-orang rendah kayak saya, hidup tuh jarang ngasih kesempatan kedua, Mas. Kadang semua hal bisa berakhir begitu saja. Meskipun kita udah berjuang dengan sekuat tenaga, ada beberapa hal yang harus berakhir dan kita cuma bisa menerima. Jadi, selama saya masih dikasih kesempatan hidup, saya sebisa mungkin akan tetap hidup. Setidaknya, saya hidup bukan untuk diri saya sendiri ...tapi untuk anak dan istri saya. Biar mereka bisa menikmati hidup tanpa perlu ngerasain susah kayak saya.(122)
Hidup bakal jadi lebih gampang kalau kita sudah bisa belajar untuk menerima kekecewaan dan melihatnya sebagai sebuah berkah yang asing. Waktu saya ditolak di banyak tempat kerja, saya bilang sama diri saya sendiri, mungkin kerjaan itu bukan untuk saya. Ketika saya terlambat untuk mengambil sebuah kesempatan, saya berpikir kalau mungkin ada kesempatan di tempat lain yang jauh lebih baik. Atau kalaupun itu gak lebih baik, setidaknya saya yakin itu bisa membuat saya lebih bahagia. Bisa saja toh, Mas, seperti itu? Kalau yang terbaik itu gak selalu yang paling bisa membuat bahagia."128-129
Beberapa pintu kesempatan yang sudah kadung tertutup itu, kalau Mas lihat dari sudut pandang lain, justru itulah yang menyelamatkan kita dari hal-hal buruk yang bisa terjadi kepada kita jika kita memaksa membukanya. Terkadang, Tuhan membelokkan jalan hidup kita dengan amat keras sampai kita terkejut dan terluka hebat, tetapi sebenarnya Tuhan sedang menyelamatkan kita dari jalan yang salah, Mas. Siapa tahu jika kita tetap berjalan di jalan yang sebelumnya, mungkin kita akan terluka jauh lebih hebat. Demi menyelamatkan kita dari jalan yang salah, terkadang Tuhan akan mematahkan kita sepatah-patahnya. (129)
Kita hidup di dalam masyarakat yang memandang bahwa kebahagiaan adalah sebuah kewajiban dalam menjalani kehidupan. Dan itulah yang justru sering membuat kita merasa tertekan. Orang-orang dipaksa untuk terus mencari kebahagiaan, tanpa diajari bagaimana caranya hidup sambil membawa kesedihan.(132)
Aku benar-benar tidak bisa memaafkan semua orangtua yang tak menghargai anak yang sudah dilahirkannya. Persetan dengan durhaka. Justru para orangtua itu yang sudah jauh lebih dulu durhaka pada anak-anaknya. Membuat seorang anak yang terlahir suci itu jadi harus tumbuh sambil membawa lebam gelap di hatinya. Membuat mereka menjadi apatis pada apa pun yang melahirkan bahagia. Alih-alih tumbuh bersinar bak bunga matahari, anak-anak itu malah berubah menjadi segelap arang hitam. (140-141)
Ibu ingin sekali bilang kalau Ibu ikut bahagia, tetapi dia belum mau memaafkan Ibu. Sampai sekarang Ibu masih terus berdoa, semoga suatu saat dia bisa terlahir kembali dari rahim orang lain. Biar dia bisa merasakan bahagia sejak dari kecil. Gak harus tumbuh dengan perasaan kecewa, marah, dan membenci diri sendiri. Biar dia bisa merasakan rasanya disayang dan dibanggakan. Ibu terus berdoa seperti itu. Meskipun itu artinya dia bukan lagi jadi anak Ibu, Ibu rela. Ibu pikir sudah memberikan yang terbaik yang Ibu bisa. Namun Ibu lupa untuk bertanya kepadanya apa yang terbaik untuknya dan apa yang membuatnya bahagia. Ibu yang salah. Ibu minta maaf ya, Le ... Ibu minta maaf ....(148)
Hidup dengan trauma masa kecil membuatku tumbuh dengan merasa bahwa kebahagiaan tak lebih dari hal bacin yang tak ada gunanya. Ia hanya sementara dan tidak bertahan selamanya. Justru kebahagian bisa membuatmu merana, membuatmu berharap, sebelum kemudian kau dibuat patah kembali karena ternyata tidak ada kebahagiaan yang benar-benar bisa bertahan lama. Bahkan ketika kau menemukan cinta sejatimu pun, suatu saat ia akan mati juga.
Kebahagiaan itu hanya sebentar. Dan lucunya, saat ini kita hidup di dalam masyarakat yang memandang bahwa kebahagiaan adalah sebuah kewajiban dalam menjalani kehidupan. Dan itulah yang justru sering membuat kita merasa tertekan. Orang-orang dipaksa untuk terus mencari kebahagiaan, tanpa diajari bagaimana caranya hidup sambil membawa kesedihan. Tidak ada buku pelajaran yang membahas bagaimana caranya menangis, bagaimana caranya mengeluh, dan bagaimana caranya tegar di hadapan kesedihan.(149)
Aku lahir di keluarga yang tak pernah terbuka soal perasaan masing-masing. Terlebih aku adalah seorang laki-laki. Di keluargaku, laki-laki tidak bercerita. Laki-laki yang bercerita adalah hal yang tabu. Menangis adalah banci. Sejak kecil, aku dipaksa untuk terus bertarung tanpa sekali pun boleh bercerita. Tidak peduli jika aku kalah dan tersiksa. Hal itu membuatku tumbuh menjadi sosok yang selalu memendam perasaan ketika menghadapi sebuah masalah di kehidupanku. Aku menjadi sosok yang enggan melawan. Tak membela diri ketika harus memperbaiki kesalahan yang dibuat oleh orang lain dan dilimpahkan kepadaku. Selalu menunduk seperti bonsai. Sebab, aku memang tidak pernah belajar bagaimana caranya berbicara.
Segala perkataan menyakitkan dari orangtuaku yang dimaksudkan untuk membuatku tumbuh menjadi sosok yang setegar karang itu benar-benar omong kosong. Pada nyatanya, hal itu tidak pernah bisa membuatku menjadi sosok yang kuat. Justru itu membuatku menjadi seonggok mayat hidup yang piawai menyembunyikan perasaanku sendiri.(151)
Kini yang bisa aku lakukan di sisa hidupku hanyalah belajar untuk terus hidup sembari membawa sisa luka-luka yang belum sembuh itu. Mungkin, ibu kandungku tidak pernah meminta maaf kepadaku. Namun aku akan mencoba memaafkannya.
Sampai kapan? Entahlah.
Aku tidak ingin pergi dari dunia ini dengan membawa bara kemarahan yang masih tertambat di hatiku. Selayaknya peribahasa, nasi memang sudah telanjur menjadi bubur, tetapi tugasku sekarang adalah menjadikan bubur itu terasa enak.(152)
Hidup itu paradoks. Untuk bisa sembuh, kamu harus merasakan sakit dulu. Untuk bisa mengenal kedamaian, kamu harus beperang dulu. Untuk bisa mengenal apa itu bahagia, kamu harus pernah sedih dulu. Untuk bisa bangkit melawan, kamu harus jatuh kalah dulu.(154)
Layangan itu aneh, Bung. Semakin kita tarik, dia malah semakin tinggi. Namun semakin dilepas, dia malah akan jatuh. Hidup saya kemarin juga seperti itu. Saya pernah di tahap hidup segan tapi mati pun enggan. Setelah saya berada di titik ini, saya benar-benar bersyukur kalau dulu pernah hidup sengsara seperti itu. Tanpa itu semua, saya gak lebih dari manusia yang mudah jatuh seperti layangan yang dilepaskan kenurnya. Justru semakin saya melawan angin dan arus kehidupan, semakin tinggi pula hidup saya.
Belum lagi, layangan yang terbang akan menghadapi embusan angin yang besar. Tapi dia akan tetap melayang selama bergantung pada senar kenur yang sangat tipis. Tanpa benang setipis itu, dia bisa jatuh. Nah, hal itu juga sama dengan hidup. Saat kita sedang merasa tersesat di hidup ini, tetap berpeganglah pada sebuah harapan meski harapan itu terlihat kecil dan tipis sekali. Sebuah harapan yang akan membuat Bung terus mau menjalani hidup dan bisa percaya lagi bahwa kelak Bung juga bisa terbang tinggi seperti layangan tadi.
Intinya, jangan pernah menyesali semua pengalaman buruk yang terjadi di hidup Bung sampai detik ini. Entah itu pengalaman baik atau pengalaman buruk, itu semua yang justru kelak akan menjadikan hidup Bung seimbang. Seperti layangan yang melayang dengan ajek di langit. Itulah yang dinamakan dengan filosofi layangan, Bung.(165-166)
"Filosofi pohon jati?" Pak Uju bertanya dengan curiga.
"Betul. Pohon jati itu meranggas setiap tahun tapi dia tetap berdiri tegak dan menunggu musim hujan datang untuk pada akhirnya rimbun lagi. Dia gak akan mati. Dia cuma istirahat sebentar. Dia gak menyerah menghadapi musim kemarau. Dia hanya menyesuaikan diri saja. Begitu juga dengan hidup, jalani aja sekuatnya, nanti juga ketemu musim hujannya sendiri-sendiri. Sayang kalau memutuskan untuk berhenti hidup sebelum waktunya. Mie ayam masih enak. Bukan begitu, Bung Ale?" jelas Dimas sambil menoleh ke arahku. (166)
Bung, kunci bertahan hidup itu bukan selalu berpikir positif, melainkan kemampuan untuk menerima keadaan. Menerima kalau hidup tuh gak selamanya bahagia. Suatu saat kita akan sedih, akan kehilangan, akan gagal, akan jatuh cinta, akan patah hati, atau bahkan akan mengalami hari-hari yang sangat pahit sampai rasanya ingin mati saja. Tapi ya ... itu tidak apa-apa. Sebab, itulah hidup. Sebuah seni untuk terus memaksa diri agar bisa menerima segala apa yang sudah terjadi. Jangan biarin hidup memaksa Bung tumbuh menjadi seseorang yang Bung sendiri akan benci.(168)
Jangan lupa untuk memberikan apresiasi kepada dirimu sendiri. Hidupmu itu sudah sulit. Jangan paksa kakimu untuk terus melangkah. Cobalah sesekali beristirahat. Sekali-sekali, pergilah keluar. Hargailah pencapaian di hidupmu meski itu hanya pencapaian kecil. Sebab, kamu memang pantas untuk itu. Jika sedang lelah, kamu boleh marah dan meluapkannya. Jangan ditahan terus. (172)
Musuh yang paling menyebalkan adalah diri kita sendiri. Dibiarkan hidup, dia akan terus melawan. Dibunuh pun, kitanya ikutan mati.(181)
Selama ini saya menjalani hidup berbekal pengetahuan bahwa semua orang punya masalahnya masing-masing. Oleh sebab itu, saya gak mau membebani orang lain dengan menceritakan masalah saya pada mereka. Sejak saat itu, saya mulai terbiasa menahan perasaan saya sendiri. Menyembuhkan luka saya sendiri.
Dari kecil, sedikit demi sedikit saya membangun tembok tinggi untuk melindungi saya dari orang luar. Saya selalu berpura-pura bahwa hidup saya baik-baik saja. Sampai akhirnya, di tempat makan tadi, tembok yang selama ini sudah saya bangun kokoh itu tidak kuat lagi buat menahan segala beban yang ada di dalam hati saya.(187)
Kalau suatu saat kamu tak kunjung melihat hal-hal yang menyenangkan, mungkin kamu perlu membutakan diri sesaat. Membatasi pandanganmu karena kamu selalu saja melihat hal-hal buruk secara dominan ketimbang hal-hal baik di sekitarmu. Biarkan telinga dan juga perasaanmu bekerja.(188-189)
"Tidak ada kata-kata yang tepat untuk melarang orang bunuh diri. Di satu sisi, memintanya tetap hidup akan terdengar egois. Di sisi lain, mendorongnya untuk mati pun tidak elok. Entah sudah berapa banyak orang-orang memberikan nasihat saat saya sedang ingin mati. Namun alih-alih membantu, yang mereka katakan justru seperti sedang menghakimi."
Aku mengangguk setuju, sangat mengerti dengan apa yang Pak Jipren katakan.
"Mereka selalu bilang untuk mengambil hikmahnya. Lah, justru kalau kita bisa melihat hikmahnya, kita gak akan depresi. Betul gak?"
"Betul banget, Pak," sahutku.
"Meminta orang depresi untuk melihat hikmah itu sama seperti menyuruh orang buta untuk melihat matahari. Justru kita depresi karena gak bisa melihat hikmah itu. Meski niat mereka baik, tapi rasanya itu tidak membantu sama sekali."
Aku lagi-lagi setuju.
"Lalu, ada yang menyuruh kita agar tetap sabar. Kamu tahu rasanya jadi orang buta lalu disuruh sabar?"
"Saya pasti marah sekali."
Nah! Itulah yang saya rasakan. Mereka beranggapan seakan selama ini saya gak cukup sabar menjalani hari-hari gelap seperti mati lampu gini. Dan yang paling parah ketika mereka menyuruh kita untuk makin beribadah dan membaca doa-doa." Pak Jipren terdengar menarik napas panjang, nada suaranya berubah sedikit. "Saya gak bilang kalau berdoa dan beribadah itu tidak memberikan efek baik, justru saya percaya sekali. Akan tetapi menurut saya, bagi orang-orang depresi seperti kita, doa dan ibadah hanyalah salah satu dari solusi. Bukan satu-satunya solusi.
Contoh lain, kalau misal kamu sakit, berdoa adalah salah satu solusi. Solusi yang lain ya pergi ke dokter dan berobat. Lagi-lagi, meminta orang depresi agar makin giat beribadah itu jatuhnya menghakimi juga. Padahal yang kita butuhkan itu sederhana, cuma orang yang mau mendengarkan tanpa ada tendensi untuk menjawab. Seperti Mas Ale sekarang. Bukan begitu, Mas?"(190-191)
Jangan lupa untuk memberikan apresiasi kepada dirimu sendiri. Hidupmu itu sudah
sulit. Jangan paksa kakimu untuk terus melangkah, Mas. Cobalah sesekali beristirahat. Nikmati mie ayam itu dengan perasaan senang, bukan untuk dinikmati sebagai makanan terakhir sebelum mati.
Sekali-sekali, pergilah keluar. Lihatlah langit yang gak pernah bisa saya lihat. Nikmati warnanya. Hargailah pencapaian di hidupmu meski itu hanya pencapaian kecil. Sebab, kamu memang pantas untuk itu. Jika sedang lelah, kamu boleh marah dan meluapkannya. Jangan ditahan terus. (193)
Hidup itu seperti pertandingan tinju. Kekalahan tidak ditentukan ketika kamu jatuh, tetapi ketika kamu memutuskan untuk tidak mau bangkit lagi.(195)
Aku belajar bahwa kunci untuk bertahan hidup bukanlah selalu berpikir positif, tetapi mempunyai kemampuan untuk menerima. Menerima jika tidak semua hari akan berjalan baik, tidak semua rencana akan berjalan lancar, tidak semua orang akan berlaku baik ketika kamu baik kepada mereka. Dan itu semua tidak apa-aра.(198)

Komentar
Posting Komentar