Pulang - Leila S. Chudori

 

"Pulang" itu kemana? Rumah? Rumah itu apa? Bangunan? Keluarga? Identitas? Negara? Atau sesuatu yang bisa jadi tidak ada?


/


Buku ini berlatar belakang sejarah, lebih tepatnya peristiwa politik dari tahun 1965-1998. Posisi sejarah di sini bukan hanya sekedar background tapi luka hidup dan pembentukan identitas tokoh.


Tentang sekelompok eksil politik yang terkena dampak tragedi politik tahun 1965, yang mengakibatkan mereka terluntang-lantung di negeri orang, tapi tidak bisa pulang ke negerinya sendiri.


Kehidupan di Paris mulai tahun 1968 dan setelahnya. Dibuka dengan peristiwa Mei 1968 di Prancis yang memperlihatkan dinamika politik global dan personal para tokoh eksil.


1984 yang menyoroti propaganda Orde Baru, menggambarkan realitas sosial di Indonesia, termasuk mewajibkan menonton film "Pengkhianatan G30S/PKI" setiap tanggal 30 September. Yang dinilai sebagai propaganda pemerintah untuk mencecoki rakyatnya dengan mencap kelompok tertentu sebagai pemberontak. 


Reformasi 1998, meski hanya sebentar ditampilkan di akhir, tapi ini merupakan puncak konflik sejarah panjang yang sudah terjadi sebelumnya. Penuntutan turunnya Presiden Soeharto pada Mei 1998, yang menandai jatuhnya Orde Baru.


Sejarah ternyata bukan hanya tentang apa yang telah terjadi, tapi bagaimana pengalaman manusia merespon dan melewati itu semua.


/


Buku ini memuat POV yang berbeda dari setiap karakter. Hal unik karena kita bisa melihat sudut pandang dan pemikiran dari setiap tokoh. Karena alur maju mundur, seolah dipaksa untuk menyusun sendiri cerita sesuai urutan kejadian. Adanya perbedaan POV juga membuat saya tersadar bahwa begitulah adanya sejarah, dia bersifat parsial dan subyektif.


Hal ini juga memberikan tantangan tersendiri untuk saya agar bisa memahami dengan baik, terkadang ketika lagi asyik membaca saya tiba-tiba bingung, "tunggu, ini POV siapa lagi sebenarnya?". Cukup sulit membedakan kekhasan penuturan dari POV setiap tokoh.


Meski cukup banyak POV dari beragam tokoh, Dimas Surya dan Lintang Utara adalah yang mendominasi. Dimas sebagai perwakilan generasi pertama, dan Lintang sebagai generasi kedua.


Salah satu yang membuat saya excited juga dengan POV ini, karena saya bertemu dengan Segara Alam—salah satu tokoh fiksi favorit saya. Hal ini disebabkan saya sudah duluan membaca novel Spin-off nya "Namaku Alam" beberapa tahun lalu, dan baru membaca novel utamanya di tahun ini. Jadi bertemu dengan Alam di novel ini memberikan keunikan tersendiri dalam pengalaman membaca saya.


/


Membaca buku ini seolah pembaca juga belajar sastra. Banyak judul dan penulis sastra yang disebut, ntah dari penulis Indonesia ataupun yang dari luar. Menjadi referensi tersendiri untuk pembaca ketika ingin memasuki dunia sastra yang ditampilkan dengan keindahan khas.


James Joyce, Lord Byron, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rivai Apin, John Keats, T.S. Eliot, Situr Situmorang, W.H. Auden, Goenawan Mohamad, Subagio Sastrowardoyo, dan masih banyak lagi.


"When in disgrace with Fortune and men's eyes/ I all alone beweeo my outcast state/ and trouble deaf heaven with my bootless cries..." Salah satu bait yang menarik.


Selain itu Dimas berhasil membuat saya sangat tertarik membaca Mahabarata. Karena POV yang diceritakan Dimas, cukup unik, tidak seperti yang diceritakan pada umumnya.


Selain sebagai bagian pengenalan terhadap sastra, literatur ini juga terlihat sebagai cara untuk menguatkan identitas setiap tokoh serta gambaran dari realitas politik yang terjadi.


/


Gejolak emosi sangat terasa ketika menyelami kepingan demi kepingan peristiwa. Penulis berhasil mengarahkan empati pembaca ke korban sejarah yang sering terlupakan. 


Segala perasaan ini bukan hanya sekedar intrik drama, namun juga menjadi alat politik untuk menarasikan ulang sejarah dari sudut tergelap. Menyusun ulang puzzle sejarah dari ruang yang ditutup rapat.


Emosi yang sampai ke pembaca—khususnya saya, tentang bagaimana peliknya kehidupan para eksil dan keluarganya meninggalkan bekas yang mendalam, ada harapan besar agar sejarah bisa terkuak secara jernih, tanpa ada embel-embel ideologi tertentu.


Karena setelah mempelajari beberapa jenis ideologi, saya juga masih menyimpan pertanyaan, bagaimana bisa PKI bisa memberikan trauma yang mendalam bagi rakyat Indonesia?


/


Bagian akhir, "Beberapa Catatan Akhir" yang berisi istilah, peristiwa, dan nama yang perlu untuk diketahui yang menjadi rujukan dari setiap peristiwa yang ditampilkan dalam buku. Juga beberapa referensi dari bait puisi dalam novel beserta sumbernya. Semuanya ditampilkan cukup detail, sehingga pembaca menyadari bahwa ini bukan hanya sekedar fiksi tapi disadur dari beberapa fakta.


Meninggalkan kesan pertanyaan "ini cerita atau sejarah?". Yang kuharap berakhir dengan keinginan mempelajari sendiri sejarah dengan lebih dalam.


/


Jadi kembali ke pertanyaan awal, "Pulang itu kemana?". 


Kalau pulang hanya membuka luka lama, apakah kembali masih menjadi jawaban terbaik?


Kalau sejarah ternyata meninggalkan luka, apakah mencintai negara masih mungkin?


/


Peluang: Sebuah Novel; Leila S. Chudori; Cetakan Keduapuluh Sembilan, Juni 2024; Jakarta, Kepustakaan Populer Gramedia; xiv+461 hlm



/


“Aku tak ingin berakhir seperti mereka, saling mencintai. Lantas kehilangan dan kini mereka hanya mengenang dan merenung dari jauh.”


“Jangan sekali-kali meminta maaf untuk mempertahankan prinsip!”


“Rumah adalah tempat di mana aku merasa bisa pulang. (Dimas Suryo)” 


“Mengapa benda mati disebut sesuatu yang mati? Terkadang mereka lebih 'hidup' dan lebih jujur memberikan saksi.”


“Aku hanya yakin pada diri sendiri, bahwa keinginanku hanya terus-menerus berlayar. Atau menggunakan bahasa Maman, aku terbang seperti burung camar tanpa ingin hinggap. Akibatnya, nasib yang memilihku. Bukan aku yang menentukan nasib.” 


“Apakah kita sudah harus mengambil jeda dalam perjalanan yang masih panjang ini. Saat menulis, aku tak suka titik. Aku gemar tanda koma. Tolong jangan perintahkan aku untuk berhenti dan tenggelam dalam stagnansi. Jangan.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian