Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita


Blurb

Sapi merah sudah disembelih sebagai ritual pendirian Kuil Ketiga dan penyambutan Mesiah. Propaganda dan ancaman penghancuran Masjid Al-Aqsha sudah lama digaungkan. Al-Quds sudah penuh dengan penduduk ilegal Yahudi, bendera Israel berkibar di tiap sudut. Proyek penggalian bawah tanah situs Yahudi sudah mengular dan mengancam keselamatan Masjid Al-Aqsha.

Malam itu, misi rahasia penghancuran Kubatus Sakhra dimulai. Syekh Faruq, salah satu pemimpin para murabithun menemukan bom sebesar 2 ton tepat di bawah fondasi Kubatus Sakhra. Timer penghitung mundur di badan bom menunjukkan waktu:

24:00:00

24 jam menuju kehancuran Al-Aqsa. Mampukah para pejuang terdepan menyelamatkan Masid Suci Umat Islam Sedunia?

Tidak semua novel hadir hanya untuk menghibur. Ada yang datang untuk mengingatkan. 24 Jam adalah cerita tentang janji setia yang tidak goyah, tentang kehormatan yang dijaga dalam tekanan, dan tentang keimanan yang tetap berdiri meski ancaman datang dari segala arah.

Sejak awal, kisah ini tidak menawarkan kenyamanan. Ia membawa pembaca pada situasi yang mencekam, penuh kengerian, sekaligus memperlihatkan bahwa keyakinan bukan sekadar ucapan, melainkan sesuatu yang diperjuangkan, bahkan ketika risikonya adalah kehilangan segalanya.

Konflik dalam novel ini terasa kuat karena ia berakar pada sesuatu yang benar-benar ada. Kompleks Masjid Al-Aqsa bukan sekadar latar cerita, melainkan tempat yang selama bertahun-tahun menjadi pusat ketegangan. Nama Al-Aqsa sering muncul dalam berita internasional karena statusnya yang sensitif dan diperebutkan.

Pada tahun 2015, ketegangan di kawasan ini kembali memanas. Sejumlah media internasional seperti BBC dan Al Jazeera memberitakan masuknya kelompok ekstremis Yahudi ke area Al-Aqsa yang menyerukan pembangunan “kuil ketiga”. Peristiwa itu memicu reaksi luas dan memperlihatkan bahwa isu penghancuran atau perubahan status tempat suci ini bukan sekadar rumor, melainkan bagian dari dinamika konflik yang nyata.

Novel ini kemudian mengambil suasana tersebut sebagai latar. Tidak ada pengklaiman bahwa semua peristiwanya benar-benar terjadi persis seperti di cerita, tetapi novel ini berdiri di atas kegelisahan yang memang ada. Karena itulah ketegangannya terasa sangat dekat, tidak berlebihan, dan seolah ini sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.

Walaupun ceritanya terasa sangat nyata, tetap perlu diingat bahwa ini adalah novel. Konflik di Al-Aqsa memang benar-benar ada dan terus terjadi, bahkan hingga detik ini, tetapi bom dua ton dengan hitungan mundur 24 jam itu adalah bagian dari dramatisasi cerita. Itu yang membuat ketegangannya terasa lebih hidup dan mendesak.

Namun, di situlah justru letak kekuatannya. Diambil dari kegelisahan yang nyata, lalu dibungkus dalam alur yang membuat pembaca ikut merasa terdesak. Jadi bukan sekadar membaca berita, tetapi benar-benar merasakan bagaimana rasanya berada di tengah ancaman.

Cerita ini tidak berdiri di atas imajinasi kosong, tetapi juga bukan berarti semuanya fakta. Perpaduan antara realitas dan imajinatif inilah yang membuatnya terasa lebih nyata.

Bagian yang paling bikin jantung deg-degan tentu saja saat bom dua ton itu ditemukan tepat di bawah fondasi Kubatus Sakhra. Lalu muncul angka 24.00.00 yang mulai menghitung mundur. Sejak detik itu, rasanya cerita langsung melaju cepat. Waktu bukan cuma latar, tetapi menjadi ancaman yang terus mendekat.

Countdown ini benar-benar terbayang secara visual. Sulit membayangkannya tanpa melihat angka merah yang terus berkurang. Cara ini sangat efektif karena membuat cerita lebih fokus. Tidak ada bagian yang terasa bertele-tele. Semua bergerak karena satu hal: waktu yang semakin habis.

Namun, meski demikian, ketegangannya tidak terasa dipaksakan. Justru terasa pas. Setiap keputusan para murabitun menjadi penting karena mereka tahu waktunya terbatas. Kita sebagai pembaca ikut merasa tertekan, ikut bertanya-tanya apakah mereka akan berhasil sebelum angka itu mencapai nol. Meskipun mungkin kita menerka-nerka bahwa pasti akan terselamatkan, namun proses menuju ke sana justru membuat tegang dan memikirkan jalan baik mana yang akan diperlihatkan Tuhan kepada para pejuang tersebut.

Di balik bom dan hitungan mundur itu, ada orang-orang yang membuat cerita ini terasa hidup. Di awal cerita, fokus pada tokoh Syeikh Faruq sebagai pemimpin murabitun, bukan cuma tokoh utama biasa. Ia digambarkan sebagai pemimpin yang tenang, religius, tetapi juga cerdas dan strategis. Saat dirinya ditangkap dan disiksa, bahkan keluarganya ikut disiksa dengan keji, anak perempuan dan istrinya, ia tetap tidak goyah, begitu pun dengan keluarganya. Di situ terasa sekali bahwa yang dipertahankan bukan sekadar bangunan, tetapi keyakinan.

Lalu ada para murabitun, para penjaga Al-Aqsa yang memilih tetap bertahan walau tahu risikonya besar. Mereka tidak digambarkan seperti pahlawan super. Mereka tetap manusia yang bisa takut, bisa lelah, tetapi tetap berdiri karena merasa ini adalah tanggung jawab mereka.

Yang menarik juga, bukan cuma generasi tua yang ditampilkan. Banyak pejuang-pejuang muda yang beriman dan kompeten. Mereka cerdas, sigap, dan punya semangat yang sama kuatnya. Jadi perjuangannya tidak terasa milik satu generasi saja. Ada kesinambungan serta estafet perjuangan yang dilanjutkan dengan keteguhan.

Dan yang paling terasa, ini bukan cerita tentang satu orang pahlawan yang menyelamatkan segalanya sendirian. Tidak ada heroisme yang berlebihan. Yang ada justru perjuangan bersama, kolektif. Semua bergerak karena tujuan yang sama, bukan demi nama pribadi.

Salah satu hal yang penting dari novel ini adalah cara menyajikan isu yang berat tanpa membuat pembaca merasa sedang membaca buku teori politik. Konflik Al-Aqsa itu kompleks dan sensitif, tetapi di tangan penulis, dikemas dalam alur yang mudah diikuti. Tidak terasa seperti sedang membaca laporan panjang atau data sejarah yang kaku.

Countdown 24 jam itu juga menjadi kekuatan besar. Cerita jadi fokus dan tidak berputar-putar. Setiap bab terasa punya arah. Tidak ada bagian yang sekadar pengisi. Ketegangannya terjaga, tetapi tetap masuk akal dalam alur cerita. Tidak terasa dipaksakan hanya demi drama.

Menurutku, ini yang membuat novel ini bisa menjangkau pembaca yang mungkin sebelumnya tidak terlalu tertarik membaca buku nonfiksi tentang Palestina. Isu beratnya tetap ada, tetapi dibungkus dengan cerita yang hidup dan emosional. Jadi pembaca tidak hanya tahu, tetapi juga bisa merasakan kondisi nyata perjuangan di Palestina.

Novel ini tipe cerita yang membuat perasaan naik turun. Ada marah karena melihat ketidakadilan. Ada sedih saat pengorbanan mulai terasa nyata. Ada haru ketika melihat keteguhan para tokohnya. Dan di satu titik, muncul juga rasa malu.

Bukan malu yang dramatis, tetapi lebih ke kesadaran kecil: ternyata ada orang-orang yang mempertaruhkan banyak hal demi keyakinan dan tanah suci mereka, sementara banyak dari kita sering terjebak di rutinitas yang itu-itu saja. Cerita ini seperti pengingat, tanpa harus menggurui.

Yang membuat emosinya kuat bukan karena dibuat berlebihan, tetapi karena latarnya memang diangkat dari realitas konflik yang benar-benar terjadi. Jadi rasanya bukan sekadar fiksi yang selesai begitu halaman ditutup. Ada jejak yang tertinggal setelahnya.

Pada akhirnya, novel ini bukan cuma soal hitungan waktu 24 jam. Bukan cuma soal konflik, strategi, atau ketegangan yang membuat jantung ikut berdebar. Lebih dari itu, cerita ini tentang makna perjuangan, tentang tanggung jawab, dan tentang keyakinan yang dijaga meski risikonya besar, bahkan kematian. Kalau bahasa buku, “syahid”. Dan justru kata inilah yang menjadi penguat untuk tidak takut pada apa pun selama itu untuk perjuangan.

Yang membuatnya kuat adalah kesadaran bahwa perjuangan dan tanggung jawab sering kali tidak terlihat. Kadang bentuknya adalah bertahan. Kadang adalah tetap menjaga. Dan bahkan kadang tetap percaya ketika situasi terasa mustahil.

Di tengah dunia yang serba cepat, sebagian besar manusia memang sibuk dengan kehidupan pribadi. Deadline, target, notifikasi, rutinitas. Semua terasa mendesak. Tanpa sadar, isu-isu besar yang menyangkut kemanusiaan bisa tenggelam begitu saja, kalah oleh distraksi.

Novel ini seperti alarm kecil. Bukan untuk membuat panik, tetapi untuk mengingatkan bahwa ada tanggung jawab moral yang tidak boleh hilang. Bahwa kepedulian tidak harus selalu diwujudkan dalam aksi besar, tetapi setidaknya dimulai dari kesadaran.

Cerita ini juga menunjukkan bahwa sejarah bukan sesuatu yang jauh dan asing. Ia hidup di sekitar kita. Dan ketika diangkat dalam bentuk novel, ia jadi lebih mudah dipahami, lebih mudah dirasakan.

Setelah selesai membaca, yang tersisa bukan hanya alur cerita, tetapi pertanyaan-pertanyaan kecil dalam diri. Tentang apa yang dianggap penting. Tentang bagaimana waktu digunakan. Dan tentang apakah 24 jam yang dimiliki hari ini sudah benar-benar berarti?




Kubatus Sakhra


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian