Kematian-Kematian Kecil yang Kita Sembunyikan
Kapan kematian itu datang?
Apakah ketika sang malaikat maut menjemput?
Apakah ketika kita tidak lagi menapak di hamparan bumi dan hanya berbaring bersama belatung dalam gelapnya tanah?
Dulu aku juga berpikir demikian.
Bahwa kematian adalah sebuah peristiwa. Sebuah akhir. Sebuah garis yang memisahkan kehidupan dan ketiadaan.
Namun semakin lama hidup, semakin aku menyadari bahwa kematian mungkin jauh lebih dekat daripada yang selama ini kita bayangkan.
Sebab dalam hidup, orang-orang bisa mati berkali-kali sebelum benar-benar tidak bisa terbangun untuk selamanya.
Ada kematian yang tidak mengundang pemakaman.
Tidak ada doa-doa yang dipanjatkan.
Namun sesuatu di dalam diri seseorang benar-benar telah mati.
Mungkin mimpinya.
Mungkin keberaniannya untuk percaya.
Atau mungkin dirinya sendiri.
Berapa banyak dari kita yang pernah tertikam oleh dunia?
Oleh keadaan yang tidak pernah kita pilih?
Atau bahkan oleh pikiran kita sendiri yang terus-menerus menjadi medan perang tanpa henti?
Sedikit demi sedikit.
Hari demi hari.
Sampai akhirnya ada bagian dari diri kita yang perlahan menyerah.
Ada mimpi yang mulai dikubur.
Ada harapan yang tak lagi berani disebutkan dalam doa.
Bukankah manusia hidup karena harapan?
Bukankah banyak dari kita masih bertahan sampai hari ini karena percaya bahwa esok masih mungkin membawa sesuatu yang lebih baik?
Lalu bagaimana ketika satu per satu alasan untuk bertahan itu menghilang?
Bagaimana ketika hidup tak lagi terasa hidup?
Bagaimana ketika pagi hanya menjadi pengulangan dari kelelahan yang sama?
Jangan berbohong.
Sudah berapa kali kamu merasakan kematian?
Sudah berapa kali kamu merasa tidak sanggup lagi, tetapi entah bagaimana tetap bangun keesokan harinya?
Sudah berapa kali kamu menguburkan sesuatu dalam dirimu, lalu berjalan seolah tidak terjadi apa-apa?
Barangkali lebih banyak daripada yang mampu kita hitung.
Dan anehnya, kita masih ada di sini.
Masih membaca.
Masih bernapas.
Masih mencoba memahami hidup yang kadang terasa begitu sulit untuk dimengerti.
Bukankah itu berarti kita berhasil melewati sesuatu?
Mungkin tidak dengan kuat.
Mungkin sambil menangis, sambil marah, sambil kehilangan arah.
Tetapi kita berhasil melewatinya.
Dan untuk itu saja, mungkin diri kita pantas diberi sedikit penghargaan.
Karena tidak semua luka terlihat.
Tidak semua peperangan menghasilkan suara.
Tidak semua orang yang tersenyum sedang baik-baik saja.
Untuk diriku sendiri, dan mungkin untuk sebagian dari kalian juga, ketika suatu hari kembali berada di titik tak lagi merasakan hidup, ingatlah bahwa kita pernah berada di sana sebelumnya.
Kita pernah mati.
Dan kita pernah hidup kembali.
Maka ketika engkau mati lagi, hiduplah satu kali lagi.
Ketika dunia kembali meruntuhkanmu, bangunlah satu kali lagi.
Ketika harapan kembali patah, cobalah percaya satu kali lagi.
Begitu seterusnya.
Sampai tiba saatnya kita benar-benar dinikahkan dengan kematian versi malaikat Israfil.
Karena selama napas masih ada, barangkali kehidupan memang selalu meminta kita untuk terus lahir kembali.
Tidak semua orang beruntung bisa langsung pulang dan dikuatkan oleh Tuhannya.
Ada yang harus berjalan jauh dalam gelap sebelum menemukan cahaya.
Ada yang harus tersesat berkali-kali sebelum menemukan jalan pulang.
Dan ada yang pada akhirnya menemukan pertolongan Tuhan justru melalui manusia-manusia yang dikirim-Nya.
Melalui seseorang yang memilih tinggal ketika yang lain pergi.
Melalui seseorang yang menjadi rumah ketika dunia terasa terlalu asing.
Maka ketika tempat pulangmu hari ini adalah seorang manusia, tidak mengapa.
Jangan terlalu sibuk menghakimi dirimu karena jalanmu berbeda dengan orang lain.
Sebab setiap orang memiliki cara masing-masing untuk kembali kepada Tuhan.
Dan bukankah dalam setiap kebaikan yang kita terima dari sesama, ada jejak kasih-Nya yang sedang bekerja?
Meski berjalan dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh.
Meski kadang harus merangkak ketika orang lain berlari.
Tetaplah hidup satu kali lagi.
Dan satu kali lagi.
Dan satu kali lagi.
Sebab mungkin tugas kita bukan menjadi kuat sepanjang waktu.
Mungkin tugas kita hanya bertahan sampai waktunya benar-benar tiba.
Jadi, tolong...
jangan pulang dulu sebelum dijemput.
.png)
Komentar
Posting Komentar