Di Tengah Dunia yang Tidak Memberi Ruang untuk Runtuh
Dalam usia tertentu, hidup mulai terasa seperti perlombaan diam-diam.
Ada rasa tertinggal ketika melihat orang lain perlahan berkembang, sementara diri sendiri terasa berjalan di tempat. Di tengah teknologi dan sosial media hari ini, membandingkan diri menjadi semakin mudah dan semakin menyakitkan. Kita bisa melihat kehidupan orang lain kapan saja. Pencapaian mereka, hubungan mereka, kebahagiaan mereka, bahkan versi terbaik yang sengaja dipertontonkan kepada dunia.
Perlahan muncul pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak pernah benar-benar tenang:
“Aku ke mana?”
“Aku mau jadi apa?”
“Kenapa semua orang terlihat melangkah, sementara aku masih bingung menentukan arah?”
Ironisnya, di tengah krisis identitas seperti itu, manusia tetap dituntut terlihat baik-baik saja.
“Aku baik-baik saja,” menjadi kalimat pamungkas untuk menyembunyikan hidup yang sebenarnya sedang berantakan.
Banyak orang memilih berpura-pura tenang bukan karena mereka kuat, tetapi karena dunia tidak benar-benar memberi ruang untuk runtuh. Keresahan dianggap kelemahan. Tangis dianggap ketidakmampuan. Dunia seperti menuntut manusia untuk selalu terlihat sempurna, seolah runtuh berarti gagal menjadi manusia.
Akhirnya, banyak orang belajar menyembunyikan takut dan lelahnya sendiri.
Bukan karena sudah sembuh.
Tapi karena sadar, tidak semua orang benar-benar peduli.
Di saat yang sama, kehidupan modern justru membuat manusia semakin sepi.
Teknologi berkembang begitu cepat. Komunikasi menjadi semakin mudah. Kita bisa berbicara dengan siapa saja kapan saja. Namun anehnya, hubungan manusia terasa semakin dangkal.
Kita terlalu sibuk mencari pelarian kecil yang memberi dopamin sementara, sampai lupa mendekat kepada orang-orang di sekitar kita sendiri.
Perlahan, media sosial terasa lebih memahami isi kepala kita dibanding manusia yang hidup dekat dengan kita.
Algoritma tahu apa yang kita sukai, apa yang kita takutkan, bahkan apa yang membuat kita bertahan menatap layar berjam-jam. Sementara di dunia nyata, banyak orang bahkan tidak benar-benar tahu bagaimana cara mendengarkan satu sama lain.
Dan mungkin, semua itu berawal dari kehidupan yang terlalu cepat memaksa manusia menjadi dewasa.
Tidak semua orang memiliki masa muda yang utuh.
Beberapa anak tumbuh dengan tuntutan untuk selalu benar, selalu patuh, dan tidak membuat kecewa. Kesalahan kecil dianggap kegagalan. Pilihan hidup yang berbeda dianggap jalan yang salah.
Akhirnya mereka tumbuh menjadi manusia yang terlalu takut melangkah.
Hidup dijalani dengan terus menjaga perasaan orang lain, terus memenuhi ekspektasi lingkungan, dan terus berusaha menjadi versi yang dianggap “baik”.
Namun di tengah semua itu, mereka lupa bertanya kepada dirinya sendiri:
“Apakah ini benar-benar hidup yang aku mau?”
Banyak orang akhirnya hidup tanpa benar-benar mengenal dirinya sendiri. Mereka hanya bertahan.
Menjalani hidup seperti kewajiban panjang yang harus diselesaikan, sambil diam-diam berharap semesta suatu hari berpihak dan memberi mereka sedikit ruang untuk bernapas.
.jpg)
Komentar
Posting Komentar