Kebaikan adalah Keburukan?
Kenapa hal-hal yang sering viral itu hal yang tidak baik? Ada yang sering berpikiran seperti itu? Bahkan tak jarang ada saja konten yang dianggap "sampah".
Kenapa yang diviralkan itu sesuatu yang baik? Apakah kita kekurangan orang baik? Tidak sama sekali. Justru bisa saja kita malah menjadi bagian dari orang-orang yang menghentikan pergerakan mereka.
Kenapa? Karena ketika men-share hal yang baik, maka kita akan terkena penyakit doktrin "riya". Entah itu dari orang yang sinis yang asal ngejulid, bahkan juga orang yang paham akan pentingnya bertabayyun.
Pikiran kita seolah telah dibentuk, bahwa share kebaikan, share sedekah, segala gerakan bantuan, dan sebagainya, pasti ada saja yang komen "kalau memang ikhlas ya tidak perlu diperlihatkan kali", "dasar riya", "cuma mau dibilang baik", alah "cuma...." Balblabla. Dan segala kalimat-kalimat justifikasi lainnya.
Makanya jangan heran kalau kita selalu mendapatkan kebanyakan informasi "sampah", karena memang kita lebih menerima hal tersebut untuk dishare, dibandingkan dengan sesuatu yang baik.
Jangan berharap, agar kebaikan bisa merajalela disekitar kita, kalau kita sendiri berlum bisa menerima dan bertabayyun atas kebaikan-kebaikan yang telah disebar. Kita didoktrin, bahwa orang yang melakukan kebaikan dan dipublikasikan adalah tipe orang yang tidak baik, riya, sombong, dan sebagainya.
Dunia seolah telah dibentuk, untuk mem'biasa'kan kita menerima hal-hal yang lebih tidak baik daripada yang baik.
Pasti banyak yang pernah bertanya, "kenapa sih kok yang sering viral hal-hal yang tidak baik?" Karena memang kita seolah membutuhkan bahan untuk menjulid, sebuah bahan untuk melihat seberapa 'peduli' kita ketika hal-hal yang tidak baik viral, untuk menjadikan kita seolah benar dan telah bersikap baik dengan merespon hal-hal yang tidak baik tersebut.
Kita telah memberikan panggung kepada mereka yang ingin terkenal lewat sampah-sampahnya.Dan kita telah menutup pintu bagi kebaikan-kebaikan untuk bisa merangkul.
"Kalau memang benar-benar mau lakukan kebaikan, ya lakuin aja, kenapa mesti harus pikrian orang? Kentara banget tidak niatnya, masa iyya mau lakukan kebaikan mesti pikirkan pendapat orang? Lakuin aja kalau memang itu baik, kan?" Hey, tidak semua orang itu sama, tidak semua orang itu tahan untuk julidan netizen yang seolah maha benar.
Yang paling membuat miris adalah, orang-orang yang paham akan proses tabayyun. Tidak semua. Tapi realitanya ada juga orang-orang yang seharusnya mendukung kebaikan tersebar malah dia menjadi "kebenaran" yang harus dibenarkan.
"Saya juga lakukan hal tersebut kok. Tapi tidak usah disebar, tidak usah dipublik." , "Si fulan atau fulanah, melakukan kebaikan yang jauh lebih besar tapi tidak juga difoto sana sini". Hal-hal beginilah yang membuat kita skeptis dan sinis sendiri dengan kebaikan. Karena orang menganggap bahwa penyebutan nama oleh para malaikat dilangit lebih penting daripada penyebutan nama di bumi.
Yayaya.. saya tidak menyalahkan hal tersebut. Karena bagaimana pun itulah yang terbaik ketika nama kita dilangitkan daripada sekedar pujian duniawi.
Tapi beberapa hal tidak serta merta tentang amal tersembunyi ataukah amal yang terlihat, bukan sebatas lebih mengharapkan pujian Allah daripada manusia. Tidak bukan semata hal tersebut.
Ini tentang bagimana kita bisa berbagi kebaikan, dan menjadikan kebaikan agar senantiasa tersebar. Bukan hanya persoalan "pahala"mu sendiri dengan Tuhanmu, tapi tentang bagaimana membuat orang lain bisa mendapatkan "pahala" dan kenikmatan masing-masing ketika melakukan kebaikan, lantas juga kebaikan itu tersebar. Rantai merantai membentuk jaringan kebaikan yang tidak akan putus hanya karena persoalan keegoan ingin mendapatkan pahala sendiri.
Dalam persoalan agama kita seolah dituntut untuk hanya mempersoalkannya dengan Tuhan masing-masing. Seolah beragama hanya persoalan akhirat semata. Kita ditanamkan dengan apalah arti duniawi, sehingga beragama hanya boleh fokus dengan hubungan vertikal saja.
Tapi mirisnya. Banyak yang membuatnya salah paham. Pembentukan pola pikir yang cenderung malah menjadikan bahan untuk bisa menjustifikasi ini dan itu.
Rasulullah tidak pernah menyuruh kita untuk benar-benar melupakan dunia bukan?
Apakah saya marah dengan hal-hal seperti hal tersebut? Bahwa pendapat Allah jauh lebih baik, bahwa mengejar akhirat lebih baik, ataukah hal yang lebih baik lainnya'?
Tidak, tidak sama sekali. Hanya saja ada rada kecewa dengan segala pola pikir yang terbentuk. Entah karena apa.
Seperti teko yang yang diisi air, yang harusnya ketika disiram pada tanaman bisa membuatnya subur. Namun malah mengeluarkan lumpur atau bahkan racun. Kenapa bisa lain yang dimasukkan, lantas yang keluar juga lain? Tentu bisa, karena teko itu milik kita masing-masing dan terserah kita teko berisi air itu ingin kita campurkan apa, tanahkah? Hingga yang keluar air keruh seperti lumpur, pupuk kah? Hingga bisa menyuburkan tanaman? Atau... Bahkan racun? Hingga bisa mematikan? Itu bergantung pada diri kita masing-masing.
Teko inilah ibarat akal kita. Sejauh mana kemampuan kita untuk mengisinya dengan hal-hal yang positif atau sebaliknya.
Kebaikan perlu disebar dan tebar. Agar bisa menjadi rantai dan kita tidak abai. Dan persoalan niat dan pahala, adalah urusan pribadi masing-masing. Semoga setiap apa yang dilakukan senatiasa diluruskan dan dimurnikan niatnya.
Semua pilihan ingin menebar dan melakukan kebaikan seperti apa, bergantung pada cara pribadi masing-masing, bukan berarti mereka terlihat lantas riya, bukan berarti kamu tidak terlihat lantas ikhlas kan?
Fastabiqul Khaerat. Berlomba-lomba dalam kebaikan, bukan bersaing menjadikan hanya diri saja yang bisa melakukan kebaikan.
Writer;Yuls Al Guevara

Komentar
Posting Komentar