Lanjut Baca atau Skip?
Membaca buku bukan lagi hal yang asing dalam hidup kita, telah banyak tersebar bagaimana budaya-budaya membaca dibumikan. Sehingga diharapkan para pegiat literasi khususnya budaya membaca ini bisa menyentuh segala lini dan segala hati.
Dalam membaca buku pastinya kita akan membaca buku yang kita butuhkan, atau paling tidak yang menarik untuk dibaca sehingga menjadi salah satu semangat tersendiri dalam membalikkan kertas demi kertas hingga akhir buku. Tapi tak jarang juga kita menemukan buku yang membuat kita tertarik untuk melahapnya, tapi ketika telah membacanya ternyata tidak membuat semangat kita diawal lantas mampu menyelesaikannya. Ada saja alasan-alasan tertentu tentang kondisi kita sendiri atau bahkan kondisi bukunya.
Kendala yang biasa saya alami ketika mandek itu memiliki tiga alasan utama. Pertama, memang moodnya sedang tidak sinkron dengan isi buku. Kedua, merasa bahwa buku itu belum waktunya saat baca. Terakhir, karena isi bukunya yang menurut saya tidak saya sukai atau bahkan kadang merasa bukannya tambah ilmu malah terjebak dengan dogma baru dan merasa otak malah tercemari.
Diantara ketiga ini yang paling berpengaruh ketika solusi membaca ditawarkan, biasanya yang paling ampuh adalah masalah ketiga. Yang paling tidak disukai, tapi malah itu yang bisa diselesaikan.
Kenapa? Ini bermula beberapa bulan lalu saya mengembalikan buku di Sinjai Info judul bukunya Akhir Zaman. Buku ini sudah berapa bulan belum saya kembalikan, karena mengingat waktu sementara peminjaman juga tidak lama setelah itu Covid19 masuk di Indonesia sehingga mengharuskan untuk #DirumahAja.
Saya ingat percakapan saya dengan kak Zaenal Abidin Ridwan - Direktur Sinjai Info (akrab disapa kak Enal). Kurang lebih seperti ini, saya mengatakan "kak, ini bukuta. Lama sekalimi di rumah. Tapi sebenarnya belum saya selesaikan kak", "Kenapa?", kata kak Enal. "Seru sekali sebenarnya ini buku kak, tapi terlalu cocok dengan kondisi sekarang, sekarang lagi terdampak wabahki dan pada saat dibuku itu juga bahas wabah. Sekarang itu yang penuh pernyataan terkait Covid itu hanya konspirasinya Illuminati, aduh itu sekalimi juga nabahas kak. Bahkan hingga di Indonesia kak. Pokoknya itu, tidak bisaka sedding karena terganggu sekali otakku narasa", jawabku. Panjang dih jawabanku? Iyya hehehe.
Beliau kemudian berkata, "Justru malah itu bagus. Setidaknya tetap diselesaikan, karena itu akan menjadi referensi bacaan baru lagi bagi kita".
Nah semenjak beliau sudah mengatakan hal seperti itu maka setiap saya mendapatkan buku yang sebenarnya ingin diselesaikan tapi ketika membaca merasa bahwa ini adalah polusi bagi otak saya, saya langsung mengingat kata-kata beliau. Bahwa saya tidak boleh langsung skip, saya harus selesaikan, jangan sampai saya menjustifikasi buku ini sedangkan belum saya selesaikan. Siapa tahu setelah selesai bahwa ada insight baru yang saya dapatkan, yang jauh dari ekspektasi sebelumnya. Dan jikalaupun memang tetap kurang nyaman, setidaknya ketika saya telah selesaikan saya bisa memberikan penilaian dan menjadi pendapat sendiri ketika orang-orang ingin membacanya. Minimal menjadi salah satu pertimbangan untuk orang lain ketika ingin membacanya.
Dan ini menjadi amunisi yang ampuh untuk menuntaskannya, lebih ampuh dari hanya sekedar alasan mood dan belum sesuai (meskipun ada unsur paksaan digunakan hehehe).
Itu yang saya kendala utama yang umum saya rasakan ketika membaca buku. Dan satu solusi bagaimana menetralsirnya.
Bagaimana dengan kamu?
Writer; Yuls Al Guevara

Komentar
Posting Komentar