Strategi Konseling Pada Perempuan — M.II Women Care



Sabtu, 20 Maret 2021 Materi Kedua kelas Women Care dilanjutkan dengan materi Strategi Konseling Pada Perempuan yang dibawakan oleh kakanda Eka Damayanti S. Psi. M.A. , ketua Pimpinan Wilayah Naisyiatul Aisyiah pada masanya.

Ketika membicarakan tentang psikologi perempuan dan strategi konseling maka membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menuntaskannya, karena keduanya perlu untuk dikaji sendiri-sendiri, makanya pemateri berinisiatif untuk menggabungkan kedua hal ini menjadi strategi konseling pada perempuan.

Adapun sub bahasan utama yang dipaparkan oleh pemateri yakni, memahami psikologi perempuan (teori the Female Brain), Perempuan sebagai Subjek (posisi klien sebagai subjek), Urgensi Konseling (proses untuk membantu seseorang untuk memahami), dan cara konseling sederhana (khusunya pada perempuan yang terdampak kekerasan fisik dan psikis). Dari sub bahasan inilah pemateri memaparkan secara luas terkait materi ini.
 
Berbicara tentang konseling, maka harus ada persepsi yang harus diubah oleh masyarakat secara umum, bahkan mungkin juga diantara kita. Seperti istilah yang dikatakan oleh kak Eka katanya "ajaran sesat" dalam memahami konseling. Bahwa psikologi (konseling) adalah untuk menasehati orang, padahal tidak benar seperti itu. Konseling adalah bagaimana membuat seseorang paham akan apa yang dialaminya, karena orang ini dianggap sebagai subyek yang berdaya, mempunyai daya untuk menyelesaikan masalahnya. Jadi bukan konselor yang mendiktekan apa-apa yang yang harus orang tersebut lakukan.
 
Otak dalam psikologi menjadi stimulator, yang menjadi stimulus atau sesuatu yang menjelaskan tentang rangsangan yang menyebabkan terjadinya respon tertentu. Karena semua manusia mendengar, namun belum tentu penerimaannya sama, apalagi cara pengaplikasian dari apa yang mereka pahami.
 
Inilah juga yang menyebabkan otak laki-laki dan perempuan itu berbeda. Adanya struktur fisiolgis dalam otak yang berdeda tersebut, membuat perempuan dan laki-laki memiliki keluasan jarak pandang yang berbeda. Laki-laki memiliki jarak pandang sempit sehingga ketika mengerjakan sesuatu hanya fokus pada satu hal. Sedangkan perempuan memiliki jarak pandang yang luas, sehingga mampu fokus dan mengerjakan banyak hal secara bersamaan.
 

Selain hal tersebut, adanya juga perbedaan hormon laki-laki dan perempuan. Produksi hormon kortisol pada perempuan tiga kali lipat dibandingkan laki-laki. Hormon kortisol juga dikenal sebagai hormon stres, karena hormon ini diproduksi lebih banyak ketika tubuh mengalami stres. Karena hal inilah menyebabkan perempuan rentan dengan masalah karena susah lupa, kemampuan fokus yang tinggi, serta perlu mengeluarkan kata-kata hingga 21000 kata/perhari yang dibandingkan dengan laki-laki yang hanya 7000 kata perhari.
 
Ketika berbicara tentang masalah, namun bukan serta merta tentang masalahnya tetapi tentang persepsi kita dalam menghadapinya.
 
Perbedaan struktur fisiolgis ini juga menyebabkan perempuan lebih suka secara sosial sedangkan laki-laki lebih menyukai kesuksesan. Hal ini mengakibatkan perempuan biasa mengalami syndrom/fear of succes. Sehingga mengakibatkan ada asumsi kenapa pemimpin perempuan itu sedikit karena banyaknya ketakutan-ketakutan yang dialami oleh perempuan.
 
Ada yang berpikir bahwa "saya tidak takut jadi pemimpin kok", ya ini bukannya untuk melegitimasi kekurangan perempuan namun itu hanya dampak struktur fisiolgis yang berbeda, karena nyatanya ketika kita melihat kondisi hari ini toh sudah cukup banyak perempuan yang menjadi pemimpin.
 
Itu tadi mengenai struktur fisiologis otak perempuan, kita lanjutkan tentang urgensi konseling.
 
Urgensi konseling
 
Yakni proses untuk membantu seseorang untuk memahami diri dan lingkungannya. Bahwa seorang konselor seperti dikatakan diawal tadi tidak mendiktekan solusi kepada orang yang berkonsultasi, namun mengadakan dialog-dialog dan mencari penyelesaian secara bersama. Konselor membantu seseorang untuk bisa memahami sendiri masalah yang dihadapinya sehingga orang tersbut juga mampu untuk menyelesaikan masalahnya itu, mengembangkan kemampuan dan potensi klien sehingga dapat berfungsi secara optimal dan mereka mampu mengatasi kesulitan secara efektif. 
 
Konseling ini berbentuk wawancara/tatap muka antara konselor dan klien. Namun ketika orang tersebut sudah tidak mampu lagi menyelesaikan masalahnya, maka perlu untuk diarahkan ke terapi khusus.
 
Dalam konseling, perlu menggunakan prinsi-prinsip dan keahlian tertentu. Jika bukan dari jurusan BK dan Psikologi, maka harus menjalankan pelatihan selama 6 bulan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa melakukan konseling tidak bisa sembarang dilakukan.
 
Selanjutnya menganggap klien sebagai subyek yang bedaya, seperti yang dipaparkan diawal tadi. Terakhir kita harus paham bahwa setiap klien itu berbeda. Meskipun masalahnya sama, yang dialami klien pasti berbeda. Makanya perlu untuk tahu masalah dan respon dari pasien sehingga konselor bisa paham benar apa yang dialami oleh klien.
 
Adapun klasifikasi kebutuhan klien dalam konseling yakni, untuk meningkatkan relasi dengan orang lain, memproses emosi pribadi atas stres yang dialami, mengembangkan pengetahuan dan ide, masalah perkembangan, membuat keputusan, dan menghadapi krisis.
 
Perlu dipahami bahwa masalah yang sebenarnya adalah persepsi kita terhadap masalah.
 
Karena setiap klien berbeda, maka penting untuk mengetahui bagaimana pembentukan perilaku. 

Adapun perilaku manusia dari berbagai mahzab psikolgi, sebagai berikut;
 
1. Psikoanalisis, yakni dimana pengalaman yang tertanam dalam alam bawah sadar muncul dalam bentuk perilaku. Adanya pengalaman di masa lalu atau pada saat ketika masih kecil yang dia tidak sadari, bahwa pengalaman tersebut ternyata tertanam dalam alam bawah sadarnya sehingga tidak menyadari bahwa perilaku dia sekarang adalah dampak pengalamannya sewaktu kecil. Maslah seperti biasa terjadi pada fase anal/fase perkembangan oral dimana ketika fase ini kurang terpenuhi maka seseorang seringkali menuruti kepuasannya tanpa menghargai orang lain, tidak memikirkan akibat saat tidak menghargai orang lain, dsb.

2. Behavioristik, mahzab ini bertentangan dengan psikoanalisis. Dimana behavioristik menganggap bawha permasalahan berasal dari kondisi lingkungannya. Perilaku kekerasan/trautamitk berdasarkan masa lalu.

3. Humanistik, berperilaku karena mau mengaktualisasikan diri. Manusia memiliki beragam kebutuhan dalam dirinya, seperti aspek fisiologisnya, tempat, cinta, keamanan, penghargaan dan ketika semuanya sudah dirasa didapatkan maka akan terus ada keinginan untuk mendapatkan sesuatu yaitu bagaimana dia bisa mengaktualisasikan dirinya.

4. Transpersonal atau psikologi timur, yakni manusia berperilaku bukan karena itu semua yang tadi dipaparkan sebelumnya, melainkan untuk mengabdi kepada Tuhan. Mahzb ini fokus pada sisi spiritual yang membahsa keadaan dan proses pengalaman manusia secara lebih mendalam dan luas.

Pentingnya memahami bagaimana pembentukan perilaku ini karena setiap masalah yang ada dalam manusia tentunya harus diketahui jenis masalahnya apa, sehingga ketika tahu jenis masalahnya maka akan dapat menemukan solusi yang tepat atas masalah tersebut.

 
Terakhir, teknik Konseling individual

1. Identifikasi masalah, meliputi attending, mendengarkan aktif, empati, refleksi, eksplorasi, bertanya, parafrashing, mendorong.

2. Tahap pertengahan, meliputi menyimpulkan sementara, memimpin, mendengarkan dengan aktif, mengambil inisiatif, menafsirkan, memberikan treatment (jika dibutuhkan).

3. Tahap akhir, menyimpulkan secara bersama, membantu klien merencanakan, membuat penilaian bersama, mengakhiri konseling.
 
Itulah materi yang dipaparkan oleh kak Eka Damayanti, tentunya sangat banyak kekurangan dalam pemaparan materi ini. Karena kondisi penerimaan materi yang sangat tidak kondusif, sehingga mungkin tidak utuh dalam penerimaan dan pemahaman materi. Jika ada banyak kekeliruan, siap untuk dibenarkan.

Setelah pemaparan materi, ada proses tanya jawab dengan para peserta women care. Karena materi yang sangat bagus dan menarik membuat banyak pertanyaan-pertanyaan. Seperti yang dikatakan ppemateri diawal bahwa perlu waktu lebih untuk bisa lebih memahami psikolgi perempuan serta konseling, dan kami pun berharap semoga materi tentang psikologi ini dapat berlanjut dilain waktu.
 
Sebagai penutup kak Eka mengatakan, bahwa edukasi bukan hanya untuk perempuan saja namun seharusnya laki-laki juga. Karena tidak akan ada interaksi berlangsung jika tidak ada laki-laki dan perempuan.
 
Karena ketika berbicara tentang perempuan maka tidak akan jauh pemabahasan dengan laki-laki, maka perlu adanya edukasi secara kesuluruhan. Karena ketika hanya peremuan saja yang paham, maka akan tetap ada ketimpangan yang terjadi. Perempuan berusahan menyuarakan haknya namun laki-laki tidak paham perspektif yang dipahami oleh perempuan. Maka perlua danya keseimbangan pemahaman antara laki-laki dan perempuan, entah dari perspektif apaun sehingga menghasilkan pemahaman yang utuh sebagai sesama manusia.
 
Terima kasih kepada Kak Eka sebagai pemateri, Yunda BIDIM DPD sebagai pelaksana kelas Women Care, dan juga teman-teman yang telah ikut dan membagikan ilmunya. Sampai jumpa dikelas selanjutnya.
 
Quote penutup dari kak Eka,
"Masalah adalah persepsi kita terhadap masalah."

 
Fastabiqul Khaerat

Hidup perempuan



Writer; Yuls Al Guevara


Komentar