Belajar Filsafat Islam mulai darimana?

 


"Jika hendak mengkaji filsafat Islam, bukanlah mempelajari Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Ibnu Bajah, dan lain-lain. Bukan! Mereka adalah filsuf Muslim, tetapi belum tentu penganut filsafat Islam. Kalau kita hanya mempelajari sekadar itu, kita hanya akan bertemu lanjutan pikiran Yunani belaka. Filsafat Islam tidaklah akan bertemu pada orang, tetapi kita harus datang kepada sumber telaga Islam, yaitu Al-Qur'an Suci dan hadits Nabi saw. yang shahih. Islam mempunyai filsafat yang berdiri sendiri. Adapun jasa filsuf-filsuf seperti Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd adalah memperjelas filsafat itu. Kalau hendak melihat contoh pengaruh filsafat Islam yang mudah ialah melihat tarikh kehidupan Rasul saw. dan tarikh perjuangan sahabat-sahabat yang menggantikannya di dalam menegakkan pemerintahan keislaman, terutama di zaman Abu Bakar r.a., Umar r.a., Utsman r.a., dan Ali r.a.. Dari sana kita masuk, jangan dari tempat lain.

Islam telah meletakkan perhatiannya terhadap hubungan Al-Khalik (Pencipta) dengan makhluk (yang tercipta). Hubungan di antara manusia dengan dirinya, hubungan antara manusia dengan seluruh yang ada, hubungannya dengan perikehidupan, hubungannya dengan sesama manusia, dan hubungan suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain, di antara angkatan yang telah berlalu dengan angkatan kini dan angkatan kini dengan angkatan yang akan datang. Semua itu dihimpunkan dalam satu pikiran, satu ideal, yang tiada terbagi dan nyata bekasnya pada tiap-tiap bagian.

Itulah simpulan filsafat Islam."



Dalam Buku Buya Hamka, Islam: Revolusi dan Ideologi, hal 174-175


Komentar