Jenis-Jenis Luka Batin — Buku "Yang Belum Usai"

 


Kali ini saya akan memaparkan isi dari part-part dari buku Yang Belum Usai. Yang belum baca rewiew nya, silakeun dibaca dulu di sini yaaa, yang sudah mari kita lanjut.

Sebenarnya saya agak bingung bagaimana memaparkan point dari buku ini, karena menurutku semuanya penting sih. Dan jangan sampai malah semuanya dikutip wkwkwk kan bisa terkena copyright hadeuhh.

But, i'll try.

Saya akan berusaha memaparkan isi buku ini, tidak hanya mengambil semuanya, apa bedanya coba dengan copyan dan buku ilegal ahahaha. Saya berusaha menjelaskan dan menggabungkan dari perspektif saya dan juga dari literatur lain ketika misalnya ada yang perlu dijelaskan lebih.

Selamat membaca.

 

Part I: Luka Batin

Luka bukan haya luka fisik, tapi ada juga luka batin. Sedari kecil, kita jarang membicarakan luka batin, karena terlalu absurd, abstrak dan mungkin terlalu tabu. Berbeda dengan luka fisik yang jelas wujudnya.

Luka sendiri awalnya adalah istilah medis untuk menyebutkan luka pada fisik. Akan tetapi, secara populer di dunia kesehatan mental, istilah luka batin digunakan agar mudah dipahami oleh masyarakat.

Menurut Lawson, luka batin adalah suatu formatif dari pengalaman menyakitkan masa lalu yang dapat menentukan pandangan, sikap, emosi, dan reaksi seseorang. Sedangkan menurut Hardjowono, luka batin adalah adanya tekanan yang sangat berat yang diberikan secara terus menenrus pada lapisan batin terdalam seseorang. Dari dua pengertian tersebut sudah ada gambarankan terkait luka batin? Jadi dapat dikatakan kalau luka batin itu ada sesuatu yang terjadi dalam jiwa kita entah kita sadari atau tidak yang dengan berjalankannya waktu, luka itu mempengaruhi sikap atau perilaku seseorang.


Unfinished Business

Dalam dunia psikologi, ada beberapa istilah yang dekat dengan luka batin: trauma, primal wound, unfnished business, dan lainnya. Setiap istilah memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memandang luka batin.

Trauma

Pasti kita tidak asing dengan kata trauma. Kejadian dimasa lalu yang membekas dala diri kita sehingga kita akan cemas jika diperhadapkan dengan sistuasi yang hampir atau bahkan sama.

Secara klnis, trauma adalah reaksi emosional yang sangat kuat akbiat terpaparnya seseorang dengan pengalaman terkait kematian, cedera serius, atau kekerasan sesksual. Namun trauma ini masuk pada koridor Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) yakni sebuah gangguan mental yang tercatat dalam buku klasifikasi gangguan jiwa. Namun penggunaan istilah pada praktik psikologi sehari-hari berkembang secara meluas. Seperti yang mungkin kita pahami pada saat sekarang, istilah trauma digunakan untuk merujuk pada peristiwa spesifik yang menyakitkan batin, membekas, yang menajdikan kita takut, enggan, dan menjauhi sesuatu.

Ketika seseorang memiliki trauma, ia dapat terganggu hidupnya hingga pada tahap tidak bisa berfungsi dengan baik sebagai manusia. Adapun beberapa hal yang sering dialami orang yang sedang trauma.

Pertama, selalu terbayang-terbayang oleh peristiwa traumatik tersebut, dan ketika hal itu terjadi maka dapat memicu reaksi ketakutan dan stress seperti dia mengalami pengalaman tersebut untuk pertama kalinya (re-experincing).

Selain mengalami kilas balik memori tersebut, orang trauma juga kadang mudah sekali tersinggung, marah, dan tidak bisa mengontrol emosinya. Hal ini tterjadi karena mereka selalu merasa waspada (hyperarousal) terhadap segala sesuatu di sekitar mereka.

Terakhir, mereka yang mengalami trauma juga selalu berusaha menghindari (avoidance) berbagai hal yang dapat menstimulus  ingatan mereka terhadap peristiwa yang traumatik tersebut.


Primal Wounds

Sudah baca review buku ini? Di beberapa paragraf akhir saya menceritakan tentang trauma, nah itulah yang masuk kategori primal wounds. Yang mana itu? Yakni merupakan luka emosional yang kita pendam dan berakar dari masa kecil kita.

Primal Wounds berdampak sekali pada kehiudpan sehari-hari, terutama perasaan dalam diri kita. Bahkan bisa jadi memengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Wow kan? Ada yang mulai sadar bahwa tingkah laku kita sekarang bisa jadi efek dari primal wounds ini? Tapi bisa jadi juga tidak, jangan sampai hal ini membuat meligitimasi dan membuat kita menjustifikasi diri kita sendiri.

Oke lanjut, dalam primal wounds menganggap bahwa luka batin dalam diri kita tidak selalu berasal dari sejarah hidup kelam atau peristiwa yang mencekam. Malah bisa jadi itu berasal dari peristiwa-peristiwa "sederhana" yang tetap bisa membuat kita dihantui oleh perasaan yang bahkan kita tidak tahu apa namanya.

Karena hal-hal sederhana yang bahkan isa jadi kita tidak sadari malah ini yang membuat kita susah untuk mencari solusi ektika kita mengalaminya. Karena ketika kita mengakui primal wounds ini berarti kita mengakui kelemahan kita. Jadi butuh waktu untuk bisa menyadari lukaa yang kita alami, bahkan kadang membutuhkan dialog dengan psikolog untuk bosa menyadari dan mendeskripsikannya.


Unfinished business

Istilah unfinshed business berawal dari psikolgi Gestalt, aliran psikologi yang berfokus pada wholeness atau keseluruhan. Seseorang yang memiliki unfinished business bearti tidak menyadari dirinya secara utuh. Terdapat perasaan yang tidak disadari (unrecognized emotions) yang menghambat kebahaiaan dan kesejahteraan seseorang.

Pernah dengan bahwa waktu akan menyembuhkan segalanya? Sepertinya ini yang cocok dengan unfinished business. Mungkin kita memiliki masalah di masa lalu yang belum tuntas, namun kita berusaha untuk melupakan bukan menyelesaikan, okeyy disini berbeda yaa natara melupakan dan menyelesaikan. Sehingga hal tersebut tertanam dalam diri kita dan kita merasa bahwa ada sesuatu yang kurang dalam diri kita. Ketika kita menyadari hal tersebut maka penting untuk kita belajar menelaah kembali dengan pelan-pelan terhadap memori kita tentang apa saja yang pernah terjadi. Dan ketika kita sudah menemukannya, berusahalah untuk mengkauinya dan menerima peristiwa tersebut. Isitilah berdamai dengan masa lalu. Latihan ini tidak mudah, dan cukup berat untuk kembali ke masa lalu dengan peristiwa yang meyakitkan buat kita. Perlu latihan khusus atau langsung bertemu dengan psikolog. Bisa juga dengan afirmasi positif, yang ada di part terakhir buku ini.

Sebenarnya istilah ini hampir mirip dengan primal wounds, hanya saja unfinished business lebih digunakan untuk menekankan bahwa luka batin yang kita miliki harus kita sembuhkan agar tidak membuat kehidupan kita kacau.


Negative Core Beliefs Sebagai Dampak dari Luka

Istilah negative cores beliefs memiliki posisi yangg sedikit berbeda dengan ketiga istilah sebelumnya, karena istilah ini lebih bermain dengan pikiran dan perilaku kita. Negative core beliefs juga bisa menjadi gerbang untuk mengetahui luka batin yang kita miliki.

Core beliefs (kepercayaan inti) adalah bagaimana kita meyakini sesuatu pada diri kita, yang sering kali salah. Keyakinan ini tertanam kuat di pikiran kita dan menjadi sebuah pikiran otomatis yang muncul dalam kondisi sehari-hari. 

Pernah berpikir bahwa diri kita "tidak bisa apa-apa", "tidak layak ini dan itu", dan segala ketidakmampuan lainnya? Nah ini yang dimaksud dalam negative core beliefs ini. Pikiran-pikiran ini muncul karena kita memiliki luka batin yang akhirnya megotomatisasikan pikiran kita.


Cara mengidentifikasi Luka Batin

Sebenarnya cara untuk mengidentifikasi dan menyembuhkannya paling cepat adalah dengan menemui profesional. Tapi setidaknya kita mampu menyadari pergulatan luka batin yag terjadi dalam diri kita.

1. Sadari pola yang berulang dalam dirimu.

2. Sadari kalimat apa yang sering kamu gunakan.

3. Kata-kata apa yang sering Anda gunakan saat Anda mengeluh.

4. Coba akui, siapa orang yang paling kamu benci atau paling membuatmu sakit hati?

Menjawab pertanyaan tersebut tentu tidak mudah, namun jika kamu mampu melakukannya akan ada banyak interpretasi baru atas luka batik yang kita miliki. Jika melakukannya masih terlalu berat maka ada baiknya meminta bantuan psikiater.


Mungkin cukup itu yang bisa disampaikan dalam tulisan ini, mengerucutkan isi buku ternyata sangat sulit. Saya kira dalam tulisan ini saya bisa menjelaskan Part I secara keseluruhan atau bahkan dua part sekaliagus. Ternyata hanya bisa menyimpulkan Part I, bagian 1, dan bagian satunya satue lagi wkwkwkwk.

Menurutku semua pembahasan dalam buku ini sangat penting, ada baiknya ketika ingin tahu lebih dalam disarankan untuk membaca bukunya. Dan juga akan memberikan kita pemahaman yang utuh. Jangan sampai kita sudah tahu jenis luka batin yang ada dalam diri kita, lantas kita mendoktrin diri kita sendiri terhadap luka tersebut. Sedangkan mengenali luka batin tidak hanya sebatas tahu jenis-jenisnya saja, tapi banyak faktor yang mempengaruhi, dan juga cara untuk kita mengenal penyebab-penyebab dan penyelesaian dari luka tersebut. Karena ketika informasi bias yang tertanam dalam diri kita, bukannya menyelesaikan malah bisa jadi menjadi tambahan masalah hehehe.



Nah, itu sedikit daftar isinya. Kan kan, banyak kan anak-anaknya wkwkwk. Belum lagi part III dan IV nya. Jadi………

 

Sekali lagi, silakeun dibaca bukunya. :)

 

 

 

Writer; Yuls Al Guevara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian