Pesan Penutup oleh Sang Rabi, Sang Imam, dan Sang Pendeta dalam buku Manuscrito Encontrado em Accra
Manuscrito Encontrado em Accra (Manuskrip yang Ditemukan di Accra); Paulo Coelho; Jakarta 2014; PT Gramedia Pustaka Utama; 208 hlm; ISBN: 978-602-03-0279-9
Ada pesan penutup yang saya sangat sukai dalam buku ini, karena mungkin agak panjang dan sayang kalau dipenggal dan diambil quote nya saja. Maka saya berinisiatif untuk memostingnya saja.
Seharusnya reviewnya dulu baru penutupnya ya? Hehehe, ya sudah begini sajalah.
Mungkin ada juga diantara kita yang pernah mendengar nasihat salah satu dari ketiga ini, atau bahkan bisa saja semuanya. Namun meskipun begitu, tak akan sia-sia kok jika membacanya berulang. Bisa jadi memberikan makna yang berbeda dari pembacaan biasanya. Karena sebenarnya pesan-pesan ini dapat dikatakan cukup umum diantara sebagian orang.
But no problem. Old but Gold.
***
Malam telah turun. Sang Guru menoleh kepada para pemuka agama semenjak tadi mendengarkan semua perkataannya, dan dia bertanya adakah yang hendak mereka tambahkan. Ketiganya mengangguk.
***
Dan sang Rabi berkata:
Ketika seorang rabi besar melihat bangsa Yahudi dianiaya, dia pun masuk ke dalam hutan, menyalakan api suci, dan memanjatkan doa khusus kepada Tuhan, memohon supaya Tuhan melindungi bangsanya. Dan Tuhan mengirimkan keajaiban untuknya.
Sesudahnya, muridnya masuk ke dalam hutan yang sama itu dan berkata, "Tuhan penguasa Alam Semesta, aku tidak tahu cara menyalakan api suci, tetapi aku tahu doa khusus itu; kumohon, dengarkanlah doaku!" dan keajaiban itu kembali terjadi.
Satu generasi berlalu. Dan seorang rabi lain melihat bangsanya ditindas; diapun masuk ke dalllam hutan dan berkata, "Aku tidak tahu cara menyalakan api suci, aku juga tidak tahu doa khusus itu, tetapi aku masih mengingat tempat ini. Tolonglah kami, ya Tuhan!" Dan Tuhan mengirimkan pertolongan.
Lima puluh tahun kemudian, seorang rabi lain yang jalannya timpang, berkata kepada Tuhan, "Aku tidak tahu cara menyalakan api suci, aku tidak tahu doa khusus itu, dan aku bahkan tidak bisa menemukan tempat di dalam hutan itu. Aku hanya bisa menyampaikan kisah ini dan berharap Tuhan akan mendengarkanku."
Dan lagi-lagi keajaiban itu terjadi.
Maka dari itu, pergilah dan sampaikan cerita yang kalian dengar sore ini.
***
Sang imam yang selama ini merawat Mesjid Al-Aqsa, menunggu dengan khidmat sampai sang rai sahabatnya selesai berbicara, lalu dia berkata:
***
Seorang lelaki mengetuk pintu rumah temannya, seorang Badui, untuk meminta pertolongan:
"Bisakah kau meminjamkan padaku enpat ribu dinar untuk membayar utang?"
Temannya menyuruh istrinya mengumpulkan semua barang berharga mereka, namun tetap saja jumlahnya tidak cukup. Mereka terpaksa pergi meminta-minta kepada para tetangga, sampai terkumpul jumlah yang dibutuhkan.
Setelah orang itu pergi, si istri melihat suaminya menangis.
"Kenapa kau bersedih? Apakah kau takut kita tidak akan sanggup membayar utang-utang kita kepada para tetangga?"
"Tidak, bukan itu. Aku menangis karena dia sahabatku yang kusayangi, tetapi aku tidak tahu-menahu tentang kesulitan-kesulitannya. Aku baru tahu setelah dia datang mengetuk pintu dan meminta pinjaman uang."
***
Setelah sang imam selesai berbicara, si pendeta Kristen berkata:
***
Adalah seorang penabur keluar untuk menaburkan benih. Pada waktu dia menabur, sebagaian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu diinjak orang dan burung-burung di udara memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah berbatu-batu, dan setelah tumbuh dia menjadi kering karena tidak mendapat air. Sebagian lagi jatuh di tengah semak berdurri, dan semak itu tumbuh bersama-sama dan mengimpitnya sampai mati. Dan sebagian jatuh di tanah yang baik, dan setelah tumbuh berbuah tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, seratus kali lipat.
Karenanya, tebarkanlah beni itu ke mana pun kau pergi, sebab kita tak pernah tahu mana benih yang akan tumbuh dan berbuah dan menjadi terang bagi generasi mendatang.
***
Itu tadi nasihat penutup dari buku ini. Semoga bisa dipetik segala hikmahnya. Entah itu dari si rabi, imam, ataupun pendeta. Yang pasti kesemuanya memiliki nilai hikmah yang sangat tinggi.
Review bukunya soon ya, hehehe. Karena berhubung tangan juga belum pulih benar jadi postnya sedikit-sedikit:D
Writer; Yuls Al Guevara

Komentar
Posting Komentar