Amar Ma'ruf Nahi Munkar dalam Social Distancing



Amar Ma'ruf, Nahi Munkar

Mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari yang munkar. Bukan hanya sebagai selogan pergerakan belaka.

Dengan kondisi social distancing juga tidak membuat selogan yang selama ini kita agung-agungkan lantas sirna dikarenakan kegiatan kita #14haridirumahsaja.

Amar Ma'ruf Nahi Munkar seharusnya juga dapat kita dinamiskan, menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Tidak menjadikan lingkungan sebagai alasan untuk berhenti berbuat baik dan mencegah dari kemungkaran.

Dengan social distancing bukankah semakin mudah untuk melakukan amar ma'ruf? Dengan bermodalkan gadget dan kuota kita bisa leluasa menebar kebaikan, membagi informasi yang berguna. Jangan sampai kita totalitas rebahan, dengan alasan toh kita tidak ada kegiatan, tidak ada yang perlu dilakukan. Nantilah kajian-kajiannya. Nantilah gerakan-gerakannya kalau kondisi sudah pulih kembali.

Padahal tidak seperti itu. Banyak dan mungkin 99.9% orang melakukan #14haridirumah malah senantiasa memegang gadget, jadi kita gunakan wadah itu semaksimal mungkin bagaimana bisa menebar kebaikan.

Juga jangan lupa, bahwa temannya Amar Makruf, ada Nahi munkar. Lantas bagimana mencegah kemungkaran dengan menggunakan gadget? Tak usah muluk-muluk, mulai saja dengan diri sendiri.

Kita sadar bahwa hampir setiap menit kita memegang android, searching sana, searching sini, buka aplikasi, Wa, Ig, Tele, Fb, Twitter, begitu seterusnya. Percayalah kita akan menemukan yang namanya titik jenuh dalam memainkan andorid kita.

Nah menyadari hal tersebut, cepat alihkan tangan nakal itu untuk melakukan hal yang bisa mengalihkannya membuka atau mencari hal-hal yang sebenarnya tak perlu dicari dan tak perlu untuk diketahui.

Kita tidak tahu sejauh mana penjagaan diri kita terhadap hal-hal yang bersifat tidak baik. Dan jangan kira tidak ada yang melihat membuatnya aman-aman saja.

Social distancing secara tidak sadar akan membuat pola pembiasaan baru kepada kita, kita maksimalkan agar habbit yang dibentuk adalah habbit yang baik bukan malah sebaliknya.

Mari senantiasa membuat diri membersihkan toksin dari pikiran-pikiran yang telah mengganggu kita, bukannya malah menambah racun dalam tubuh. Agar nantinya ketika keluar dari zona ini, kita seperti orang yang sudah mensterilkan diri dari hara-huru dunia, dan dengan jiwa yang baru siap menjalani kehidupan agar lebih baik.

Maksimalkan waktu.



#AmateurWriter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian