Katanya sih berfilosofi



Kita sekarang dihadapkan pada musim yang tak menentu. Cuaca yang senantiasa berubah. Sebentar terik, sebentar hujan. Ditaksir sudah masuk musim penghujan, malah terik. Dikira musim panas, malah sering hujan.

Ini juga berdampak pada bagaimana penanaman di ladang persawahan, seperti padi, jagung dan lainnya.

Dengan keadaan cuaca dan musim tak menentu membuat penanaman juga sukar untuk ditakar. Sebenarnya cocoknya menanam apa. Tak jarang penanaman menjadi tidak maksimal, apalagi dengan keadaan ladang dan sawah yang tak mempunyai sumber air yang tetap hanya mengandalkan keadaan alam. Menghasilkan hasil panen yang sangat sedikit, bahkan lebih nampak seperti tanah lapang yang lebih banyak ditumbuhi tumbuhan liar daripada tanaman padi atau jagung itu sendiri.

Pernahkah kita memperhatikan bagaimana ladang atau sawah ditumbuhi rumput liar? Yang ketika kita menanam lantas tidak maksimal merawatnya, bahkan meninggalkannya sama sekali, hanya mengandalkan kepercayaan bahwa kita menanam maka akan pula tumbuh tanaman apa yang ditanam tersebut. Namun nyatanya tidak kan? Ketika sawah itu tidak terawat maka jangan heran jika yang menguasainya adalah rumput liar dan bahkan tak jarang berkolaborasi apik dengan hama.

Begitulah filosofi niat. Ketika kita telah melakukan sesuatu, kita sering berdalih 'toh yang penting niat kita baik', sampai lupa untuk bertanggung jawab langkah jangka panjang dari niat tersebut. Alasan klasik atas ketidakmampuan kita untuk mengurus lebih panjang apa yang telah dimulai. Hanya alasan pembenaran yang penting kita sudah niat baik.

Sadarkah, bahwa niat kebaikan yang kita lakukan harus senantiasa dibarengi dengan pemantauan pula. Kita harus pastikan bahwa niat baik itu sampai pada hasil kebaikan pula. Bukan malah meninggalkannya ditengah jalan. Karena hanya modal niat saja itu sangatlah keliru, apalah arti niat yang baik jika toh hasilnya keburukan.

Karena dengan niat saja itu tidaklah cukup. Pemantauan sangatlah penting. Lihatlah ladang yang dipantau, apakah kita punya kuasa terhadap rumput liar yang tumbuh? Sama halnya hidup, ada beberapa hal yang tidak sesuai yang bahkan kita tidak harapkan sama sekali, tidak masuk dalam planing kita, dan ternyata datang menampar kita secara bertubi-tubi, maka kita harus senantiasa waspada terhadap hal tersebut dan berpikir dan bergerak cepat dalam menemukan solusi yang tepat. Bukannya malah pasrah dengan dalih mungkin kehendak Tuhan.

Semua memang kembali kepada kehendak Yang Maha Kuasa, tapi bukan berarti menjadi alasan kita untuk berleha-leha, dan begitu saja memasrahkan kepada-Nya dengan dalih yang penting niat. Bahkan dengan dalih niatpun dapat diragukan apakah itu memang benar niat atau hanya ucapakan omong kosong belaka karena ketidak mampuan untuk menyelesaikannya.

Jadi ketika niat memang baik, tetap maksimalkan usaha untuk mencapai hasil yang baik itu. Senantiasa memantau proses dalam setiap kebaikan-kebaikan yang dilakukan agar usaha kita bisa maksimal dan menghasilkan sesuai apa yang diharapkan. Nah, ketika semua usaha sudah kita kerahkan semaksimal-maksimal mungkin tapi akhirnya tidak sesuai harapan, barulah saat itu kita pasrah dan mengeluarkan kata kepasrahan tersebut.

Intinya berhentilah untuk membenarkan logika sendiri karena ketidakmampuan untuk bertanggung jawab dengan dalih yang penting niat baik!

Sekian.


#AmateurWriter


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian