Taubat Yang Dibanggakan
Dalam pandangan Ustaz Syafiur Rahman yang kelima yakni, "Tobat dari merasa tobat. Artinya kesadaran tobat kepada seorang hamba sebenarnya berasal dari Allah Swt. sehingga ia tidak bisa mengklaim bahwa dirinya bertobat. Karena itu, yang perlu ditobati adalah kesadarannya yang merasa dirinya bisa atau mampu melakukan tobat, sementara yang memberikan kesadaran untuk bertobat kepada dirinya adalah Allah Swt. Maka, benarlah yang dikemukakan oleh Rabi'ah Al-Adawiyah bahwa, "Istighfar kita perlu diistighfari kembali ". -H. Ahmad Zacky El-Syafa
Kebanggaan dan kelegaan diri akan kita yang mampu bertobat tak jarang membuat kita menjebakkan diri kita ke keamanan yang semu dalam penyembahan, dalan berserah diri kepada-Nya.
Ketika penyerahan diri sudah kita lakukan, kita lupa bahwa penyerahan diri bukan hanya dilakukan sekali saja ketika kita merasa bahwa ini sudah waktunya.
Karena berpasrah seharusnya akan melahirkan bentuk kepasrahan lainnya. Dan kita sering luput dari hal tersebut. Kita sudah merasa menang jika kita mampu merendahkan diri serendah-rendahnya. Tapi lupa setelah itu apa?
Dengan perasaan lega dari sisi perendahan itu, tak jarang kita lantas bangun dan merasa tegap dan bangga sendiri. Bahwa ya saya telah bertobat, dan bukannya Allah menerima taubat?
.
Setelah taubat apa lagi? Berdosa lagi? Lantas tobat lagi? Lantas berdosa lagi?
.
Dimana ketenangan dan makna hakiki dari sebuah pertobatan? Itulah mungkin mengapa Rabi'ah mengatakan bahwa "Istighfar kita perlu diistighfari".
Karena bisa saja istighfar kita pun semu dan hanya sebagai formalitas sebatas ketakutan akan siksaan mungkin yang akan ditimpakan-Nya.
Karena bisa saja istighfar kita pun semu dan hanya sebagai formalitas sebatas ketakutan akan siksaan mungkin yang akan ditimpakan-Nya.
#AmateurWriter
Komentar
Posting Komentar