19 Mei, Dia Yang Ku Panggil Babba


https://pin.it/5jro3th
ttps://pin.it/5jro3th

Tak terasa rambut itu mulai beruban.

Sudah setengah abad raga itu mengarungi kerasnya kehidupan dunia.

Sosok yang menjadi pelindung bagi keluarganya. Sosok yang begitu tegar dalam menjalankan amanahnya sebagai kepala keluarga.

Tak pernah aku mendengar keluhan yang keluar dari mulutnya tentang betapa susahnya mencari pekerjaan sehingga bisa mendapatkan penghasilan agar mampu memenuhi kebutuhan keluarganya.

Bagi orang yang ber'ada' dan memiliki gaji yang tetap, mungkin tak akan menilai seberapa banyaknya yang dihasilkan. Tapi bagi kami, dari situlah salah satu sumber kehidupan kami. Yang meskipun kami anak-anaknya terlalu sering luput untuk mensyukurinya.

Umurnya sudah 50 tahun, namun pedihnya diri ini, dengan segala kesadaran, nyatanya dengan seumur itu belum ada yang bisa kuberikan.

Menjadi anak yang sholeh masih sangat jauh dari harapan, jangankan membahagiakannya dunia akhirat, untuk duniapun sampai sekarang kutidak mampu.

Aurat yang selama ini kututupi dari yang bukan mahram, salah satu alasan awalnya karena kuterlalu takut menjerumuskannya ke dalam neraka. Hanya karena anak yang sudah tahu akan kewajibannya, lantas tidak mau menunaikannya.

Sejauh ini hanya itu yang bisa kulakukan untuk mengurangi bebannya diakhirat kelak, namun itupun tidak bisa dijamin juga, karena aku sadar bahwa aku belum sesempura itu untuk menjaga akhlak dan yang lainnya yang harus kujaga.

Ahh, sungguh anak yang tidak tahu diri bukan? Yayaya, saya tahu..

Guratan pada raut wajah itu kini semakin jelas. Membuatku melayang kepada renungan diri, sejauh mana anak ini bisa berbakti kepada orang tuanya. Bahkan dalam umur yang sudah seberapa, tidak ada tanda-tanda kedewasaan, hanya ada pikiran dangkal dalam memaknai hidup. Belum memiliki visi dan misi yang jelas dalam hidup. Lantas bagaimana memahami masa depan keluarga sendiri?

Ada sebuah riwayat yang Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dia berkata  bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ

“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan datang pada hari kiamat bersamaku” (Anas bin Malik berkata : Nabi menggabungkan jari-jari jemari beliau). (HR Muslim 2631)

Mendidik dua orang perempuan saja bisa membersamai Rasulullah kelak diakhirat, bagaimana denganku? Bahkan tidak hanya 2, aku bersaudara tiga orang perempuan.

Tapi aku sungguh tak begitu yakin, apakah kami bisa mengantarnya ke surga dan mempertemukannya dengan Rasulullah? Sungguh besarnya harapan hambamu ini Ya Allah, sedangkan tindak tanduk kami terlalu menyimpang hingga sangat jauh bisa dikatakan sebagai perempuan muslimah.

Begitulah hardikku pada diriku sendiri. Aku mengakui segala kebobrokanku sebagai anak, tapi hanya sebatas mengetahui tak ada sedikitpun kemampuan untuk bisa berbenah diri. Menjadi anak yang bisa dibanggakan sepertinya hanya sebuah ilusi yang orang tuaku harapkan kepadaku.

Aku berharap beliau senantiasa sehat dan berbahagia dalam lindungan-Nya. Dan apakah ada niat seorang anak untuk masa depannya selain membahagiakan orang tuanya? Itulah impian satu-satunya sebagai anak untuk berbakti kepada orang tuanya, yang meskipun sungguh tidak akan pernah bisa sebanding dengan apa yang orang tua kita berikan.



Catatan 19 Mei Lalu,
kepada dia,
Salah satu orang terhebat yang ku punya,
Yang ku panggil Babba.




Writer; Yuls Al Guevara




Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nice..lngsung dri hati deh,klo sy biasax nda bisa brbicara byk soal parent krn psti nda akn tahan

      Hapus
  2. Hehehe terima kasih. Persoalan orang tua memang cukup sensitif.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian