Menjadi Spesial Hanya Berguna Bagi Mereka Yang "Mampu"
Panggil saja dia Ara.
Dia merupakan anak perempuan yang ketika melihatnya sangat biasa saja. Tampilan, muka, pakaian, kepintaran, semuanya biasa saja.
Tak pernah terbesit bahwa dia adalah anak spesial, oleh teman-temannya, kelurganya kalau ternyata di otaknya tersimpan saraf kompleks seperti orang-orang cerdas dunia.
Karena keadaan lingkungan keluarga dan sekitarnya yang tidak memberikan keluasan bagi perkembangannya makanya dia tumnuh dengan biasa saja. Meredam segala imajinasi yang berkeliaran di dalam kepalanya.
Sampai pada, seorang guru menyadari kemampuan Ara. Maka Ara dipercayakan untuk menjadi sosok 'panutan' dalam sekolahnya. Sehingga temannya yang lain menyadari bahwa ternyata Ara selama ini sepandai itu.
Gurunya senantiasa memberinya pemantik untuk melihat sejauh mana kecerdasan Ara ini.
Dengan melihat kecerdasannya, gurunyapun memiliki harapan yang lebih kepada Ara, agar Ara bisa melanjutkan kiprahnya dalam bidang Biologi.
Seperti memercayakannya sebagai asisten guru untuk membantu memahamkan teman-temannya, hingga dia diajak untuk mengikuti setiap lomba yang ada.
Namun guru ini tidak menyadari, bahwa kecerdasan Ara adalah alami, bukan buatan hasil dari pembiasaan belajar. Sehingga terlalu berharap lebih agar Ara bisa meraih kesuksesan yang dia harapkan. Dia tidak tau bahwa Ara bukanlah anak yang rajin, seperti lainnya, yang senantiasa belajar terus menerus ketika ingin menggapai sesuatu apalagi menghadapi perlombaan yang akan diikutinya. Benar-benar hanya alami karena kemampuannya untuk menyerap cepat.
Hingga pada sang guru kecewa, karena nyatanya Ara tidak bisa memberikan kebahagaiaan lebih selain daripada kegesitannya dalam memahami dan menjawab soal yang diberikan.
Ara kini terhempaskan, tenggelam oleh harapan setiap orang akan kepandaiannya. Namun tak bisa memahami, bahwa dirinya tidak sespesial itu, dia butuh dorongan yang lebih dan lebih lagi.
Namun apa daya, kesadaran itu datang terlambat. Ketika Ara telah menyerah dan memilih untuk hidupnya yang pada kenyataannya tidak disetujui oleh semua gurunya.
Namun harus bagaimana lagi? Mereka hanya mengharapkan nama Ara harum, namun tidak membantu Ara untuk mengejarnya. Sedangkan Ara hanya anak yang ekonominya terbatas, yang sadar diri akan hal-hal yang terlalu jauh untuk digapainya.
Ara terlalu takut untuk bermimpi tinggi seperti dengan teman-temannya, dia takut karena ketidakmampuan diri serta pasti orang tuanya tidak akan membenarkan segala mimpi-mimpi yang telah diharap-harapkan.
Maka semua hal yang sudah teringinkan dalam benaknya, harus dikubur dalam-dalam tak perlu oeang lain tahu. Biarlah ini menjadi kesesakan keci di dada yang selalu teringat, bahwa hidup tidak seperti yang kita inginkan.
Lagipula mungkin memang inilah jalannya untuk melanjutkan hidup. Tidak muluk-muluk, semoga bisa lulus, kerja, dapat uang, lantas menanghungi hidup orang tua. Harapan yang sepertinya sangat cukup bagi orang sepertinya.
Writer; Yuls Al Guevara

Komentar
Posting Komentar