Belajar dari Buku Seri Ilmu Hidup Cak Nun


Emha Ainun Nadjib atau akrab disapa Cak Nun seorang budayawan dan salah satu tokoh intelektual muslim Indonesia. Beliau telah menghasilkan karya, juga dalam bentuk tulisan seperti puisi dan esai. Beliau telah menerbitkan sangat banyak buku. Terakhir saya menyelesaikan bukunya itu tahun 2019 dan pada saat itu sebenarnya saya belum terlalu familiar dengan beliau, hanya saja cukup tertarik dengan judul bukunya. Kala itu buku yang saya baca, "Tidak, Jibril Tidak Pensiun!".

Beberapa hari ini saya membaca karya beliau yang Seri Ilmu Hidup, ada tiga buku yakni Kagum Kepada Orang Indonesia (2015), Istriku Seribu (2015), dan Orang Maiyah (2015). Buku ini bukan buku baru sih, karena juga pernah diterbitkan di tahun 2007 dan 2008 dengan judul yang sama.

Oke next..

Saya ingin mereview dan beropini sedikit tentang ketiga buku ini. Sebenarnya untuk review bukunya sudah saya posting di ig saya, @mawaryuliana_, tapi tidak apa akan saya bahas ulang dalam tulisan ini.

Buku yang pertama saya baca itu yakni Seri Ilmu Hidup: Kagum Kepada Orang Indonesia. Buku ini berisi 9 esai yang menggambarkan karakter dan watak menarik dari orang-orang Indonesia. Tapi lucunya watak-watak asli Indonesia diartikan dalam hal yang berbeda, dan pengemasan yang juga menarik. Dan membuat tulisan-tulisan dalam buku ini malah terkesan memang untuk satire. Tapi cara penyampaiannya cukup kocak menurut saya, malah sering ketawa-ketawa tiap membaca tapi dilain sisi ya saya sadar memang sebegitu mirisnya bangsa kita.

"Kalau kita bilang, 'Negara kita sedang krisis', itu semacam tawadlu sosial, suatu sikap yang menghindaran diri dari sikap sombong. Kalau pemerintah kita terus berutang triliunan dolar, itu strategi agar kita disangka miskin. Itu taktik agar dunia meremehkan kita. Karena kita punya prinsip religius bahwa semakin kita direndahkan oleh manusia, semakin tinggi derajat kita di hadapan Allah. Semakin kita diperhinakan oleh manusa di bumi, semakin mulia posisi kita dilangit."

Bagaimana menurut kamu quote di atas? Kalau saya sih, jujur ngakak bacanya. Sindiriannya sungguh luar biasa, tapi maknanya dibaliknya ahahaha. Kita terlalu baik untuk bisa dibanggakan, kita itdak sombong untuk mau memakerkan surga alam bangsa kita, segala kemampuan manusia kita. Ya kita terlalu baik dan tidak boleh sombong nanti banyak yang iri hati. Padahal kenyatannya, keadaan negeri kita? We know what the reality wkwkwk

Next....

Buku yang kedua yaitu Seri Ilmu Hidup: Istriku Seribu. Kalau buku sebelumnya itu berisi dengan 9 esai yang memiliki judul tersendirinya masing-masing, kalau dalam buku Istriku Seribu ini hanya memiliki satu topik pembahasan saja. Meskipun ada pemisah-pemisah antar ceritanya tapi semuanya tetap berkesinambungan satu sama lain. Sehingga ketika melihat daftar isi terbagi beberapa esai, namun ketika membaca seolah hanya satu cerita yang berkelanjutan.

Dibandingkan dengan buku sebelumnya, buku ini jauh lebih tipis yakni hanya 44 halaman saja. Namun untuk pemaknaannya dari segi kapabilitias otak saya yang pas-pasan, 44 halaman ini cukup ruweh untuk dipahami. Karena dalam buku ini Cak Nun seolah berdiskusi dengan tokoh bernama Yai Sudrun, dan karena saya tergolong baru sebagai pembaca Cak Nun jadi awalnya saya kurang paham siapa sih Yai Sudrun ini? Hingga terpaksa googling sendiri, sehingga menemukan bahwa ternyata Tokoh Sudrun ini memang digunakan dalam beberapa tulisan beliau.

Kayaknya sih, kayaknya yaa, Yai Sudrun ini mewakili opini Cak Nun sendiri. Seperti, mungkin ada sebagaian dari kita, yang biasa untuk beropini sendiri lantas opini kita seolah terbalas dengan opini yang lain. Kita seolah berdebat dengan diri kita sendiri, entah yang sebenarnya bagaimana. Tapi itu biasa terjadi. Aapakah kamu pernah mengalami diskusi dengan dirimu sendiri? Kalau saya sih, sering pembantahan opini dengan diri sendiri. Dan kayaknya dalam buku ini juga begitu. Kayaknya ya hahahah, saya ragu sebenarnya sih. Tulisan Cak Nun bukantipe tulisan yang to the point tapi mengemas opininya dengan sesuatu yang perlu pemaknaan lebih untuk bisa memahaminya.

Nah, pertanyaannya, kenapa sih dengan Yai Sudrun ini? Bukannya hal biasa jika ada pembagian tokoh dalam cerita? Yap, benar sekali, tapi kenapa saya membahas yai Sudrun ini, karena saya tidak paham :v kan judulnya Istriku Seribu, tapi kok ceritanya malah tentang naskah dan Yai Sudrun, pembahasan tentang istrinya kemana? Hehehe

Jadi setelah memperhatikan, menimbang, dan memutuskan (kayak baca SK) bahwa cerita diawal bersama Yai Sudrun ini merupakan sebuah pengantar untuk memaknai esensi dari judul tersebut. 

Istriku seribu dalam buku ini sebenarnya pemahamannya dibawa ke pemahaman yakni berarti saudara kita semuslim. Menggunakan perumpamaan ini memang menjadi sebuah pemisalan tersendiri yang digunakan oleh Cak Nun. Karena melihat bagaimana spesialnya istri/suami dalam kehidupan pasangan rumah tangga. Kenapa menggunakan kata istri? Karena Cak Nun kan laki-laki, andaikan perempuan mungkin judulnya lain lagi,bisa jadi Suami Seribu? Mungkin, bisa jadi ahahaha (maaf suka ketawa).

Istriku seribu diibaratkan adalah saudara seiman kita seharusnya menyadarkan kita bahwa semua audara kita pada dasarnya harus diperlakukan sebaik mungkin, sebaik kita memerhatikan doi kita. Lebih jelasnya, pengartian istri bukan kepada bahasa tapi lebih kepada artian prioritas kita. Apalagi ketika kita seorang tokoh, maka diri kita bukan hanya milik pasangan kita, tapi juga milik ummat.

Jadi istriku seribu bagaikan hubungan horisontal kita denga sesama manusia, semata-mata karena hubungan vertikal kita dengan Allah SWT. Seperti dalam kata basmalah, bismillahirrahmanirahim bukan bismillahirrahimirrahman, dimana terdapat perbedaan bahwa kita mengutamakan Ar Rahman dulu baru Ar Rahim, bagaimana prioritas kita utamakan untuk kita sesama manusia bukan hanya fokus kepada cinta kepada Allah SWT. Kalau kata Cak Nun, "beres cinta sosial dulu barulah ketentaraman cinta pribadi kita".

Meskipun secara umum kita dibawa untuk memahami cinta sosial kita kepada sesama muslim khusunya dan kepada manusia umumnya. Tapi dalam buku ini juga tetap disampaikan bagaimana pembahasan terkait poligami dan artian "istri" sebenarnya, tapi semuanya selaras, karena pembahasannya cukup general sehingga semuanya terkemas dalam satu tema yang sejalan.

Dibandingkan dengan buku sebelumnya, menurut saya buku ini cukup serius. Berbeda dengan sebelumnya yang penuh retjeh.

Next...

Buku ketiga...

Diluar dari dugaan, saya kira pembahasan ini cukup ringkas. Tapi nyatanya...terlalu panjang ya? Jadi saya mempertimbangkan keefektifan aka dilanjut ditulisan selanjutnya.

((Keefektifan? Padahal malasnya kambuh kan? Hahaha, saya mau cupir dulu, see you soon))

Se abal-abal apapun tulisanku, jangan bosan membacanya ya?:D

Sekian...

Salam Literasi.



Writer; Yuls Al Guevara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian