Percaya mana, Sains atau Agama?


—Minyak dan Air—
.
Filosofi minyak dan air; tidak bisa bersatu hanya bisa berdampingan. Ketika toh bersatu (karena sabun), malah menghancurkan partikel-partikelnya.


Dalam buku Dan Brown—Angels & Demons terdapat satu tempat terbesar namanya CERN (Conseil Europeean pour la Recherche Nucleaire, FASILITAS PENELITIAN ILMU pengetahuan terbesar di dunia) dimana para ilmuwan hebat berkumpul dalam satu wadah, tempat mereka mengeksplorasi segala keahlian mereka.

Melihat gambar diatas, saya teringat dengan tempat tersebut.

Dan dalam buku itu, seolah ada usaha dalam memisahkan antara sains dan agama—yang dalam buku itu fokus membahas agama Nasrani. Perseteruan antara keyakinan gereja dan perkembangan ilmu pengetahuan.


Pada saat ini, masih ada saja yang beranggapan bahwa agama (khususnya Islam) tidak bisa disatukan dengan sains. Meskipun telah banyak bukti kebenaran Al-Qur'an, masih saja ada yang membantah bahwa sains tidak bisa diselaraskan dengan agama.

Sains digambarkan sebagai sesuatu yang senantiasa berkembang dan maju, sedangkan agama dianggap sebagai keterbelakangan dan terlalu konservatif. Masa lalu yang telah lewat, dan sekarang sudah beda zamannya.


Dalam buku Dan Brown juga disampaikan, seolah Tuhan modern sekarang ya Sains. Agama hanya sebagai penghalang berkembangnya ilmu pengetahuan, dan bisa dikatakan musuh nyata Ilmu pengetahuan.

_

Kita seolah tidak bisa menyatukan sains dan agama, sains hanya untuk orang-orang intelektual, sains sangat liberal dan agama hanya persoalan religius dan ritual penghambaan semata.

Kita telah lupa—atau bahkan tidak tahu—atau menolak tahu. Bahwa Islam pernah berjaya dan bahkan memegang peranan penting dalam perkembangan pengetahuan, para ilmuwan hebat lahir dan menjadi tonggak yang tidak bisa diremehkan dalam memberikan kontribusi yang luar biasa dalam setiap zaman, dan nyatanya mereka tidak menjauhkan sains dari agama, malah pemaknaan terhadap agama membuatnya semangat dalam terus pengupayaan peningkatan pemahaman, dan memperoleh tingkatan keyakinan sendiri dalam menghamba.

Kita tidak sadar diburamkan oleh tokoh-tokoh terkenal, yang dimana tidak menitik beratkan pada aspek ketuhanan tokoh, sehingga hanya fokus pada luar biasanya karyanya luput memaknai latar belakangnya seperti apa, semangatnya karena apa, niatnya seperti apa.

Kefokusan kita hanya pada kehebatan, keliberalan, ke-wow-an, kekerenan quotes nya. Hingga lupa bahwa dibalik keberhasilan dan kesuksesan ada sebuah perjuangan yang perlu kita pahami.

Banyak tokoh-tokoh hebat di dunia ini, bahkan juga belum terlalu tren dikalangan dewasa ini. Terkaburkan karena kefokusan sejarah yang tumpang tindih.

Terutama para tokoh Islam yang berpengaruh, yang bahkan landasan ilmunya masih terpakai hingga kini. Yang namanya dialihkan oleh para penyusun sejarah, dan juga kita pun tidak punya ketertarikan dalam menelisik dan mempelajarinya.

Islam pernah berjaya, dan tidak menutup kemungkinan akan lagi meraih masa itu.

Dan bagaimana bisa kembali, jika bahkan kita enggan untuk belajar dari sejarah kejayaan kita sendiri?




Writer; Yuls Al Guevara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian