Akar Penindasan Perempuan — Women Care

Pembicaraan terhadap kekerasan pada perempuan merupakan hal yang sudah sangat lumrah kita temui, apalagi pada zaman sekarang. Dimana perempuan mulai menyuarakan hak-haknya. Ketika berbicara tentang perempuan maka tidak akan jauh dari yang namanya patriarki, dimana kekuasaan ada pada tangan laki-laki dan perempuan hanya dapat mengerjakan pekerjaan domestik saja. Hingga tercipta suatu istilah perempuan hanya mengurusi "sumur, dapur, kasur", istilah yang sangat tidak asing kita dengar.

Namun dari hal tersebut perlu dipertanyakan, sejak kapan ketidaksetaraan ini terjadi? Apakah memang dari sananya, atau malah hal ini adalah bentukan dari masyarakat. Di kelas perdana Women Care yang merupakan LSO Bidang IMMawati DPD IMM SULSEL ini pada Selasa, 16 Maret 2020 beberapa hari lalu , dipaparkan tentang Akar Penindasan Perempuan yang dibawakan oleh Kak Rhina. 

Dari materi yang dibawakan tersebut, akar penindasan perempuan dibagi menjadi beberapa babak zaman, yaitu:

1. Tahap Kebuasan atau komunal primitif/nomaden, yakni pada saat ini diketahui bahwa manusia tidak memiliki alat produksi, manusia hanya mengandalkan perburuan saja. Di tahap ini laki-laki dan perempuan memiliki posisi yang setara. Sama-sama berburu.

Dari tahap ini, situsai mulai ketika, karena alam ini mulai berubah dengan segala kondisi iklim dan cuaca serta hewan berburu yang tidak muda lagi didapat. Maka di sinilah perempuan menjadi "juru selamat" dimana perempuanlah yang pertama kali mengolah biji-bijian dan ditanam sehingga dikonsumsi oleh manusia.

Disinlah awal mula pertanian, namun pertaniannya masih sangat sederhana jika dibandingkan dengan pertanian sekarang.  Sudah terdapat alat produksi seperti tombak dan lainnya namun benar-benar sangat sederhana.

Dan yang membuat saya mangut-mangut, ada satu hal yang baru saya ketahui yang dikatan oleh kak Rhani bahwa ketika kita melihat pertanian sekarang dimana kita bertani dengan menemukan lahan yang subur jusrtu pertanian pada saat dulu itu sebaliknya, yakni orang bercocok tanam bagaimana bisa menaklukkan rawa-rawa yang tidak bisa dipahami. Antara mencari lahan subur dan menaklukkan lingkungan.

2. Tahap Barbarisme

Dari pertanian yang mulai bangkit ini, maka inilah yang menjadi awal mula terbentuknya patriarki. Petani membutuhkan alat, membutuhkan tenaga, sebelumnya hubungan sex itu tidak menjadi penting. Tapi ketika pertanian ada, sex mulai penting. Karena yang bisa melahirkan dan menyusui hanya perempuan. Sehingga perempuan terpinggirkan dalam kerja-kerja domestik dan laki-laki menguasai alat-alat produksi.

Di tahap barabrisme juga ini, terjadi pendomestifikasian terhadap hewan karena untuk bertani membutuhkan hewan. Sehingga yang dapat mengoperasikan itu hanya laki-laki karena dialah terlebih dahulu yang besentuhan dengan hal tersebut.

Awal mula penindasan perempuan terjadi ditahap ini, dari tahap kebuasan menuju tahap barabrisme. Dimana perempuan muali terpinggirkan, tugas perempuan hanya di rumah, melahirkan dan mengurus anak. Sedangkan untuk aktivitas luar hanya laki-laki karena bertani tentunya membutuhkan tenaga, sedangkan perempuan untuk melahirkan.

3. Tahap peradaban, dimana mulai lahirnya pengaturan dan demokrasi, muncul negara. Dibutuhkan pengaturan untuk bisa menjaga segala hasil pertanian.

4. Zaman perbudakan, dimana siapa yang kuat dia yang berkuasa. Orang-orang yang menjadi budak hanya untuk hidup, bekerja, dan mati.

Ketika berbicara mengenai asal usul penindasan perempuan, mesti juga bicara sejarah perkembangan masyarakat. Karena akab bertemu korelasinya ketika berbicara tentang akar penindasan perempuan kalau tidak bicara tentang perkembangan masyarakat karena penindasan terhadap perempuan itu muncul karena ketika masyarakat sudah dibagi dalam kelas-kelas, dibagi dalam kelas itu ketika sudah ada negara, sudah ada birokrasi.

5. Zaman Feodalisme. Ini yang sering kenal istilahnya. Dimana perempuan tempatnya hanya kasur, sumur dan dapur. Zaman feodalisme juga dinamakan zaman tuan tanah, dimana siapa yang paling banyak tanahnya dia yang berkuasa.

5. Zaman Kapitalisme, zaman kita hari ini. 

Dari tahap dan zaman tersebut, telah jelaslah bahwa perempuan tidak serta menjadi tertindas begitu saja, namun memang ada sejarah dan penyebabnya. Dan dari hal tersebut kita bisa melihat bahwa sejarah penindasan perempuan itu jauh lebih lama, lebih lama dari zaman feodalisme dan perbudakan karena sejarah penindasan perempuan ada sejak zaman barbarisme bahkan hingga hari ini. 

Karena penindasan perempuan ini adalah bentukan masyarakat, karena bentukan baka bukan tidak mungkin bahwa penindasan ini bisa dirubah.

Itulah awal mula bagaimana penindasan perempuan bisa ada dan bahkan bertahan hingga ini. Dari 2 jam diskusi dengan kak Rinha dan teman-teman di Women Care sangat banyak memberikan ilmu yang luar biasa, yang tidak bisa kesemuanya dirangkum dalam satu tulisan.

Berbicara mengenai akar penindasan, bukan saja berbicara mengenai masa lalu namun tentunya bagaimana kondisi relevan perempuan pada saat ini. Namun dengan kita mengetahui akar penindasan tersebut, setidaknya memberikan kita pemahaman bahwa perempuan tertindas hari ini bukanlah karena hakikat perempuan namun karena dampak dari bentukan struktur masyarakat.

Perempuan dan laki-laki memang berbeda, namun itu dari segi biologisnya saja. Ketika berbicara tentang peran, posisinya mestinya sama. Cuma karena adanya pembagian oleh masyarakat dan budaya mengakibatkan laki-laki dan perempuan seolah sudah tersekat-sekatkan bahwa laki-laki sudah kodratnya di bagian ini dan perempuan di bagian itu.

Kita sadari bahwa budaya dan struktur sosial masyarakat sangat sulit untuk dirubah, karena hal itu sudah terjadi secara turun temurun dan menjadi keyakinan dalam hidup bermasyarakat. Namun ketika hal itu hanya diamini dan dibiarkan begitu saja, maka posisi perempuan akan terus seperti ini tanpa ada upaya untuk memotong generasi penindasan terhadap perempuan ini.

Makanya perlawanan perempuan bukan hanya tentang pembebasan dari patriarki saja kata kak Rhani, tapi bagaimana membebaskan masyarakat secara keseluruhan yang adil.

Meskipun dalam penjelasan materinya, kak Rhani sedikit menyinggung tentang perempuan ketika Islam datang, namun hal itu tidak menjadi fokus utama dalam materi kali ini. Semoga bisa juga dibahas kapan-kapan.

Sungguh materi yang luar biasa untuk materi perdana dalam kegiatan Women Care ini. Terima kasih untuk kak Rhani selaku pemateri, Bidang IMMawati DPD IMM SULSEL selaku pelaksana, dan teman-teman yang mengikuti kelas ini yang telah banyak berbagi ilmu. Sampai berjumpa dikelas selanjutnya.

Saya tutup dengan kalimat Lenin,

“Syarat dari revolusi adalah pembebasan perempuan”.

 

Fastabiqul Khaerat.

#StopPenindasanPerempuan

 

 

Writer; Yuliana mawar (KABID MEDKOM PC IMM Bone)

 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian