Tujuan Manusia Menurut Aristoteles

 


Menjadi manusia secara utuh, disadari atau tidak, menjadi cita-cita kita, manusia. Namun dalam realitasnya kita menemukan bahwa manusia tidak utuh, mereka bengkok, miring, berat sebelah, aneh, lumpuh, dsb.

Aristoteles mau menunjukkan bahwa manusia sebagai makhluk yang berpikir dapat mengetahui bagaimana seharusnya ia hidup. Dalam pendekatan Aristoteles dalam pertanyaan tentang tujuan manusia dilakukan melalui langkah-langkah logis. Ia memulai dari suatu fakta: fakta bahwa apapun yang dilakukan manusia selalu dilakukannya demi sebuah tujuan.

Sesederhana apakah kita ingin makan atau tidur, mau keluar bersama teman atau tetap di rumah, mau menonton TV atau pergi konser, sampai apakah kita mau berbohong atau berkata jujur. Semuanya pasti punya tujuan.

Apabila manusia mau mengatur kehidupannya dengan menggunakan akal budinya, maka pertanyaan kunci baginya adalah: Apakah tujuan manusia?

Hidup kita akan terarah apabila kita melakukannya sedemikian rupa hingga kita melakukannya sedemikian rupa hingga kita mencapai tujuan kita. Orang yang hidup dengan cara yang tidak sesuai dengan tujuannya akan tercecer. Apapun yang dicapainya akhirnya tidak akan bermakna karena dirinya sendiri berantakan. Oleh karena itu pertanyaan dasar agar manusia dapat mengatur kehidupannya adalah pertanyaan tentang tujuan manusia.

[2]

Aristoteles mengemukakan perbedaan yang penting terkait tujuan manusia ini. Menurutnya, ada yang dimaksud dengan tujuan sementara dan ada tujuan akhir.

Tujuan sementara hanya sarana untuk tujuan lebih lanjut. Misalnya, ketika tujuan kita sekolah/kuliah untuk memperoleh ijazah, ijazah ini buka tujuan merupakan sarana, sarana untuk mendapatkan pekerjaan, sedangkan pekerjaan bukan tujuan merupakan sarana untuk mencari nafkah, mengembangkan bakat, atau sebagai batu loncatan untuk kedudukan lebih tinggi, begitu seterusnya.

Nah, tetapi, apakah ada suatu tujuan yang merupakan tujuan akhir, yang tidak kita cari demi tujuan lebih lanjut seperti contoh sebelumnya? Tujuan yang apabila tercapai kita bisa betul-betul puas?

Menurut Aristoteles, tujuan terakhir mestinya sesuatu yang kalau tercapai, tidak ada lagi yang kita inginkan selainnya. Selama masih belum tercapai, manusia belum akan puas dan harus selalu mencari.

Apakah tujuan terakhir itu? Jawaban Aristoteles adalah: Kebahagiaan. Kalau seseorang sudah bahagia, tidak ada yang masih diinginkan setelahnya. Dan sebaliknya, selama ia belum bahagia, apapun diperolehnya tidak akan membuatnya merasa puas. Apakah hidup yang kita jalani berhasil, dapat diukur pada tingkat kebahagiaan yang kita capai di dalamnya.

[3]

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: pertama, kebahagiaan sebagai tujuan terakhir manusia tidak perlu dipertentangkan dengan tujuan akhir yang disebutkan oleh agama. Agama sendiri justru menegaskan bahwa tujuan akhir itu mengahasilkan kebahagiaan. Kalau seseorang percaya bahwa menghamba kepada Tuhan merupakan tujuan terakhir manusia, hal itu tidak bertentangan dengan anggapan Aristoteles bahwa tujuan akhir adalah kebahagiaan. Karena menurut agama, menghormati Tuhan dengan sendirinya merupakan kebahagiaan tertinggi bagi manusia.

Kedua, kalau kebahagiaan merupakan tujuan akhir manusia, maka sekaligus menjadi jelas bahwa beberapa hal yang umumnya menjadi tujuan hidup, tidak memadai. Misalnya uang. Uang bukanlah kebahagiaan, namun sarana untuk mencapai kebahagiaan. Ada yang mendapatkan kebahagiaan karena uang sebagai sarana tersebut, tapi tidak sedikit juga yang memiliki kekayaan berlimpah namun masih belum menemukan kebahagiaan.

Ketiga, perlu diperhatikan bahwa kebahagiaan tidak bisa langsung diusahakan. Kebahagiaan itu bukan semacam sarana yang bisa langsung kita bidik. Kebahagiaan kita terima apabila kita menjalani hidup yang menunjang hal tersebut. Hidup itulah yang bisa dan perlu kita usahakan, bukan kebahagiaan itu sendiri.

Dan pertanyaan nya sekarang, lantas hidup macam apa yang menghasilkan kebahagiaan?

Kalau menurut Aristoteles sih, ada tiga cara yang menjadi tujuan hidup yakni hidup mengejar nikmat, filsafat, dan politik. Ha? Apa memang iyya begitu?

Ini baru bagian satu dari bukunya ya (1. Tujuan Manusia), bukan review full:) Lagipula ini sifatnya rangkuman sih. Rangkuman iyya rangkuman  , tapi tetap masih kepanjangan ygy ahahaha

Semoga bermanfaat:)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian