Apakah Kau Puas dengan Apa Adanya Dirimu? — Sebuah Pesan dari Buku Berani Tidak Disukai

 

#quoteofbooks Berani Tidak Disukai

APAKAH KAU PUAS DENGAN APA ADANYA DIRIMU?

FILSUF: Kalau begitu, aku ingin bertanya tentang hal ini. Menurutmu, kenapa kau ingin menjadi seperti Y? Kurasa kau hanya ingin menjadi orang yang berbeda, entah itu Y ataupun orang lain. Tapi apa tujuannya?

PEMUDA: Kau bicara tentang tujuan lagi? Seperti yang tadi kukatakan, aku hanya mengaguminya dan kurasa aku akan lebih bahagia kalau bisa jadi seperti dia.

FILSUF: Kau merasa akan lebih bahagia kalau menjadi seperti dia. Yang artinya sekarang kau tidak bahagia, benar?

PEMUDA: Apa!

FILSUF: Saat ini, kau tidak bisa merasa benar-benar bahagia. Ini karena kau belum belajar mencintai dirimu sendiri. Dan untuk mencoba mencintai diri sendiri, kau berharap bisa terlahir sebagai pribadi yang berbeda. Kau berharap bisa menjadi seperti Y, dan membuang dirimu saat ini. Benar?

PEMUDA: Ya, kurasa itu benar! Jujur saja: aku benci diriku sendiri! Aku, yang sedang bermain-main dengan percakapan tentang filsafat kuno ini, dan yang benar-benar tak berdaya untuk tidak melakukannya ya, aku benar-benar benci diriku sendiri.

FILSUF: Tidak apa-apa. Seandainya kau menanyai orang-orang tentang siapa yang menyukai dirinya sendiri, kau akan sangat sulit menemukan seseorang yang dengan bangga membusungkan dada dan berkata, "Ya, aku suka diriku sendiri."

PEMUDA: Bagaimana dengan engkau? Apakah kau menyukai dirimu sendiri?

FILSUF: Sekurang-kurangnya, aku tidak merasa ingin menjadi orang lain dan aku menerima diriku apa adanya.

PEMUDA: Menerima dirimu apa adanya?

FILSUF: Begini, tak peduli seberapa besar harapanmu untuk menjadi Y, kau tidak bisa dilahirkan kembali sebagai dirinya. Kau bukan Y. Tidak masalah bagimu untuk menjadi dirimu sendiri. Akan tetapi, aku tidak berkata bahwa menjadi "persis seperti dirimu sekarang" itu sudah cukup. Kalau kau tidak bisa benar-benar merasa bahagia, jelas ada yang tidak beres dengan keadaanmu saat ini. Kau harus terus melangkah, dan tidak berhenti.

PEMUDA: Itu cara yang keras untuk menggambarkannya, tapi aku mengerti maksudmu. Jelas ada yang tidak beres dengan diriku saat ini. Aku harus melangkah maju.

FILSUF: Mengutip lagi kata-kata Adler: "Yang penting bukanlah dengan apa seseorang dilahirkan, namun bagaimana dia memanfaatkannya." Kau ingin menjadi Y atau orang lain karena kau berfokus penuh pada pemikiran dengan apa kau dilahirkan. Sebaliknya, kau justru harus berfokus pada bagaimana kau bisa memanfaatkannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian