Rasa Ingin Tahu Masih Redup: Pendidikan "Gaya Bank" Masih Belum Padam
Setiap hari kita belajar, tapi untuk siapa? Untuk nilai, atau untuk jadi manusia bebas?
Di kelas bimbel, saya sering bertanya, “Kenapa tidak ada yang berani naik menjawab?” Mereka menjawab, “Takut salah, Kak.” Dan saya sadar, rasa takut itu bukan datang dari rumus, tapi dari sistem yang bikin mereka cuma mau benar, bukan mikir.
Paulo Freire, dalam Pendidikan Kaum Tertindas Bab 2, menjelaskan perbedaan antara konsep pendidikan gaya bank dan pendidikan hadap-masalah.
Dalam pendidikan gaya bank, proses belajar seperti menabung: murid dianggap celengan kosong yang harus diisi oleh guru. Alih-alih menciptakan komunikasi, guru hanya memberi pernyataan, dan murid cukup menerima, menghafal, dan mengulang.
Pengetahuan dalam sistem ini dianggap sebagai hadiah dari mereka yang merasa berilmu kepada mereka yang dianggap tidak tahu. Ini bukan proses pencarian makna bersama, tapi bentuk relasi kekuasaan yang menindas.
Secara implisit, pendidikan gaya bank membentuk dikotomi antara manusia dan dunia: manusia sebagai penonton pasif, bukan subjek yang menciptakan ulang realitas. Mereka diposisikan bukan sebagai makhluk sadar yang aktif, tapi sebagai wadah kosong yang harus diisi oleh dunia luar.
Freire menegaskan bahwa siapa pun yang ingin membebaskan manusia harus menolak pendidikan gaya bank secara total. Pendidikan harus berangkat dari manusia sebagai makhluk sadar, yang punya kapasitas untuk memahami dan mengubah dunia.
Pendidikan hadap-masalah mengajak murid dan guru bersama-sama menghadapi realitas, berpikir kritis, dan berdialog atas masalah hidup mereka sendiri. Pengetahuan bukan dipindahkan, tapi dipahami dan dikembangkan bersama. Disinilah dialog menjadi kunci — bukan sekadar ngobrol, tapi proses sadar bersama untuk memahami dunia dan mengubahnya.
Pendidikan ini menolak relasi dominasi dan membangun hubungan yang setara antara guru dan murid. Kalau pendidikan gaya bank membius dan mematikan kreativitas, pendidikan hadap-masalah justru membangkitkan kesadaran dan mendorong tindakan kritis terhadap realitas.
Saya memang belum pernah terlibat langsung dalam pendidikan formal seperti di sekolah, tapi saya tumbuh dari sistem itu, mengalami berbagai kurikulum, dan sekarang mendampingi siswa lewat bimbel. Dampak pendidikan gaya bank masih terasa jelas: siswa pasif, takut salah, dan hanya fokus pada hasil akhir. Ketika saya mencoba memantik pemikiran kritis atau menjelaskan proses, mereka sering merasa itu membuang waktu. Mereka hanya ingin “inti jawabannya” — seolah proses berpikir itu beban.
Saya juga merasa siswa jarang diberi ruang untuk menyuarakan pendapatnya. Dialog yang terjadi sering hanya menyentuh permukaan — sebatas curhat atau komentar soal cara guru mengajar — tapi belum sampai ke dialektika mendalam soal materi yang sedang dipelajari.
Sekarang, dengan teknologi dan platform AI di mana-mana, seharusnya akses ke pengetahuan makin terbuka. Tapi kenyataannya, gaya bank justru makin kuat. Bedanya, kini bukan guru yang mendikte — tapi siswa sendiri yang memosisikan diri untuk didikte oleh mesin.
Alih-alih
jadi lebih reflektif, banyak siswa makin terbiasa dengan jawaban instan, makin
jauh dari proses berpikir kritis. Zaman sudah berubah. Kurikulum sudah berganti
berkali-kali. Tapi jejak pendidikan gaya bank masih terasa membekas — bahkan
diperkuat oleh cara kita mengonsumsi pengetahuan hari ini.
"Meski kadang terasa sia-sia, tetap ada ruang kecil untuk dialog. Mungkin pelan-pelan, dari bimbel, dari obrolan yang sederhana, kita bisa mulai ulang cara belajar — bukan untuk nilai, tapi untuk nalar."

Komentar
Posting Komentar