Peace Movements In Islam, Review Buku
Meneropong Dimensi Sejarah, Agama, dan politik pada Gerakan Perdamaian dalam Islam
Editor : Juan Cole (Esais dan Profesor Sejarah di University of Michigan)
Penerjemah: Arman Tarmizi
Blurb
Dalam perspektif Barat, pandangan mengenai Islam sering kali terdistorsi sebagai sebuah ajaran yang mengedepankan kekerasan. Demi menandingi stereotipe semacam itu, terdapat sederet organisasi dan tokoh Muslim yang telah bekerja keras untuk proses rekonsiliasi sepanjang sejarah.
Al-Qur'an, kitab suci umat Islam, justru penuh dengan ayat-ayat perdamaian yang mengutamakan pembalasan kejahatan dengan mendoakan kedamaian bagi para pengganggu. Porsi mengenai ini justru lebih dominan dibandingkan dengan ayat-ayat tentang perang yang kerap disalahtafsirkan.
Buku ini akan mengisi lubang menganga dalam literatur tentang gerakan perdamaian global, bahwa ada banyak sekali gerakan perdamaian dan pembawa damai di dunia Muslim.
Buku terjemahan dengan XXVIII + 294 hlm ini berisi 9 kumpulan esai tentang perdamaian Islam dari beberapa latar belakang. Setiap esai ditulis oleh kontributor yang berbeda dengan latar belakang studi yang mumpuni sesuai dengan esai masing-masing.
Saya tidak punya ekspektasi apa-apa sebelum membaca buku ini, karena buku ini bukan masuk dalam wishlist. Tapi karena ada diskon, dan judul cukup terlihat menarik makanya saya beli. Dan di penghujung tahun 2025, memilih untuk membaca tanpa ada pemikiran awal apapun tentang buku ini.
Kumpulan esai ini, bukan hanya sekedar opini atau sudut pandang pribadi dari penulis. Tapi ditulis berdasarkan referensi ilmiah sesuai dengan tema masing-masing. Kondisi Islam dari berbagai sudut pandang, daerah, tahun, dan kondisi yang berbeda-beda. Semua esai mencantumkan semua referensi yang digunakan, yang bisa dijadikan acuan atau jika pembaca ingin pemikiran yang lebih mendalam.
Kalau biasanya catatan kaki ada di baris bawah halaman, kalau buku ini mengumpulkan semua referensi di akhir setiap bab. Untuk membacanya kita harus effort untuk ke halaman terakhir dari bab, yang terkadang membuat malas untuk mencarinya lagi ketimbang catatan kaki biasa, yang langsung tertera pada halaman tulisan yang dimaksud. Tapi dilain sisi, saya memaklumi kejadian ini. Karena sumber referensi dan catatan tambahan terkadang cukup panjang juga bisa jadi ketika disimpan di bagian catatan kaki dan kemungkinan bisa mendisraksi pembaca atau persoalan kerapihan buku juga kemungkinan bisa jadi alasan. Intinya bukan masalah besarlah.
Kesan pertama membaca pengantar dari Juan Cole, wahh CAPEK ahahaha. Pengantar saja sudah hampir 30 halaman. Biasanya pengantar akan menjadi gambaran umum terkait isu dan isi yang menggambarkan buku. Tapi karena saya sebenarnya belum siap membaca buku ini, makanya otak terasa syok, "WAH, APA INI!". Makanya sekitar 2/3 halaman, saya menyerah dan memulai bab 1 saja dahulu, nanti selesai baru kembali ke pengantar.
Bab 1? Saya juga merasa, hm apalagi ini, "Referensi ayat-ayat Al-Quran" di situ saya berpikir, wait, apakah semua isi buku ini seperti ini? Untungnya tidak. Bukannya alergi ayat Al-Qur'an ya, cuma saya dalam kondisi yang minat studinya bukan hanya fokus yang bintang utamanya hanya dalil. Lebih suka kalau referensi yang beragam.
Saya sebenarnya bingung mau membahas esai ini bagaimana, setiap tulisan punya kesannya masing-masing. Setiap bab bukan hanya memberikan pandangan, tapi bisa menjadi pembuka untuk didiskusikan lebih lanjut karena memiliki pembahasan yang menarik.
Buku ini memuat pengetahuan dan banyak referensi yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan. Di beberapa part saya sering nyeletuk "iyakah?", "Wihh, ada yang begini ya", "wah, keren". Sesekali, pernyataan skeptis "masa sih?".
Semua bab, sangat menarik. Tapi kalau memilih 3 terbaik. Saya akan memilih Bab 2, 6, dan 9. Saya ingin sekali sebenarnya mereview tiap bab, soalnya menarik banget! Tapi kapan-kapanlah, berhubung ini kali pertama saya kembali menulis lagi, khawatir isinya nanti terlalu absurd. Jadi saya akan membahas gambaran ketiga bab tersebut.
Bab 2 - Ajaran Al-Qur'an tentang berbuat baik kepada Musuh, Juan Cole
Ini sesuai judulnya memaparkan tentang dalil bahwa keburukan itu harus dibalas dengan kebaikan. Tapi yang menarik di sini, Jualn Cole tidak hanya menggunakan dalil dari Al-Qur'an, tapi juga mengomparasikan dengan dalil dari Bible, dan beberapa dari agama lain. Jadi unik banget sih. Salah satu bab juga yang mau saya bahas khusus, ada beberapa pernyataan yang membuat ragu dan menurutku perlu didiskusikan lebih lanjut.
Bab 6 - Rasyid Ridha dan Konferensi Perdamaian Paris 1919, Elizabeth F. Thompson
Isinya tentang pemikiran Rasyid Ridha dan bagaimana proses berpikir dan pengambilan sikapnya terhadap perdamaian. Kalau tulisan lain banyak menjelaskan tentang orang yang awalnya "keras" terhadap sistem Islam menjadi lebih lunak. Saya melihat hal berbeda dalam esai ini, Rasyid Ridha yang awalnya sangat mengutamakan perdamaian bahkan mengecam sistem Islam yang berlebihan, malah karena suatu situasi mengubah seluruh pandangan dan sikapnya dengan arah yang berlawanan dari sebelumnya. Diakhir esai sayapun bertanya, "Ha? Ini arahnya kemana?".
Bab 9 - Wanita, Agama, dan Kepemimpinan Perdamaian di Bosnia dan Herzegovina, Zilka Spahic Siljak
Penutup esai yang menyoroti bagaimana kepemimpinan wanita yang bergerak atas bawaan agama yang mereka anut. Bahkan mereka tidak paham apa itu kepemimpinan, tapi jalan-jalan yang mereka tempuh adalah sebuah jalan pergerakan dan pemberdayaan bukan hanya untuk perempuan tapi juga untuk masyarakat. Di sini kita melihat bahwa kepemimpinan dibentuk atas naluri mereka yang punya kepekaan yang tinggi terhadap kondisi sosial di daerahnya.
Wah ngeyapping banget yaa. Buku yang sangat bagus untuk dibaca bagi orang-orang ketika tertarik dengan pemikiran Islam tapi dari sudut pandang yang tidak lazim. Bukan hanya untuk non muslim tapi juga cocok untuk memperluas khazanah para muslim. Meski ini buku terjemahan tapi susunan bahasanya sangat rapih. Dan nyaman untuk dibaca. Sesekali mungkin harus cek KBBI untuk kata ilmiah ya, tapi tidak banyak kok!
Terima kasih kalau kamu selesai baca sampai sini. Salam hangat :)
Sikap non-kekerasannya bukanlah penolakan terhadap konflik bersenjata dan perjuangan pada masa awal Islam, melainkan pemahaman tentang fungsi jangka panjangnya yang membuat dia dapat mereguk kebebasan. —hal 136
Bahwa jihad papan tulis merupakan instrumen yang lebih baik untuk menyebarkan Islam daripada jihad pedang. —hal 137





Komentar
Posting Komentar