Teman Sefrekuensi adalah Obat
Saya tidak tahu harus mulai darimana. Perasaan gregetan terus kepikiran menulis. Sekali menulis rasanya mau menulis terus. Hehe
Kapan terakhir kali kamu ketemu orang sevibes dengan kamu? Atau perasaan yang mengingatkan bahwa kamu dulu senang loh bercengkrama seperti ini? Kalau saya sih, sudah lama bangetttt. Bahkan saya lupa kalau pernah ada bagian dari hidup yang berpikir seperti itu. Dan hari ini, perasaan itu hadir kembali. Berasa, "ih ini yang kucariiiii", sambil nangis dikit.
Hari ini ketemu dengan teman lama, setelah SMA tidak pernah ketemu lagi karena dia lanjut studi di Jogja sedangkan saya di Bone. Sebenarnya waktu SMA saya tidak dekat juga, dekat itu pas jaman-jaman SMP. Tapi vibes dekatnya tuh, yang dekat tapi nda dekat bagaimana sih ahahaha. Intinya seperti itu.
Dia itu aktivis dakwah, saya sering ikuti postingan-postingannya, dan menurutku beliau ini keren. Nah mumpung sama-sama di daerah, makanya saya iseng ajak ketemu deh. Tanpa ekspektasi apa-apa, sekedar temu kawan lama.
Pas baru duduk, langsung bahas perkara moderat. Berat kali pembahasan ini𤣠tapi ini karena saya sendiri sih pemantiknya. Malah belepotan lagi. Maaf tidak pernah diskusi, tiba-tiba otak dan mulut tidak sinkron.
Diskusi adalah hal yang sangat biasa untukku. Aku bisa berdiskusi dengan siapa saja, pembahasan apa saja. Tapi kali ini, kurasa vibes diskusinya beda banget. Ngobrol perkara Islam, ummat, dakwah, hal-hal visioner yang duuluu sempat kuelu-elukan. Hal selama ini terasa hilang dari diriku semenjak habis masa kepemimpinan di organisasi.
Yang sempat hilang arah, lupa niat, visi, misi yang pernah tercanangkan. Hari ini semua ghirah itu kembali, memanggil jiwa yang pernah menggebu-gebu kalau berhubungan dengan ummat dan dakwah. Ahh, terharu sekali dalam momen ini.
Pembahasan memang agak random, tapi tidak jauh-jauh dari yang tadi saya katakan. Dia punya seluas gudang referensi, cara pengucapan yang fasih, dan penyampaian yang halus. Tidak espek kalau ternyata pertemuan ini bisa sehidup itu. Aku yang merasa hidup ya, entah dia siapa tau merasa beban karena tidak setara ahahaha. Baru kali ini, habis diskusi, perasaan insecure nya kuat banget.
Mau sekali bergabung, uuu, tapi apalah daya jarak memisahkan. Dia berhasil memantik jiwa "suci"ku kembali lagi. Saya sudah terlalu jauh melangkah meninggalkan niat-niat baik yang pernah tercanangkan. Penuh dengan kekecewaan. Tapi ternyata dengan kejadian hari ini, aku sadar bahwa rasa itu ternyata masih ada dan masih hidup. Selama ini hanya ditenggelamkan oleh kesesatan jiwa dan pikiran.
Ini akan menjadi pijakan refleksi untuk menjalani kehidupan 2026 selanjutnya. Terima kasih Tuhan, telah menyadarkan bahwa ternyata saya masih berada di pijakan ini, meski telah jauh tersesat.
Semoga jalan-jalan pulang selalu kutemukan, dimanapun dan dengan siapapun saya memijakkan kaki.
Terima kasih untuk pertemuannya, Dew <3

Komentar
Posting Komentar