Dari QS. An-Nas sampai An-Nazi'at (Sebuah Refleksi)

 

List Ramadan kali ini memperbanyak baca terjemahan Al-Qur'an. Membaca terjemahan tidak menjamin kita untuk memahami arti dari sebuah ayat. Tapi ini bentuk refleksi tersendiri untuk mengetahui apa-apa saja yang dibahas dalam Al-Qur'an.

Dari beberapa ayat yang saya baca, ada beberapa ayat yang "ternotice". Setiap ayat punya keunikan tersendiri, apalagi ketika membaca surah pendek di juz 30 akhir. Tapi karena ini bukan mencoba menafsirkan ayat secara profesional, jadi saya hanya menjelaskan ayat yang menurut saya terasa "ohhh" pada saat membacanya.

Yang pertama, ada 2 jenis nama neraka yang baru saya notice. Dan itu ternyata masuk di jenis surah yang sangat sering untuk dibaca.

  1. Neraka Hutamah — ada di surah Al-Humazah, yakni api (azab) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. Api itu ditutup rapat atas (diri) mereka, (sedangkan mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.

  2. Neraka Hawiyah (QS Al-Qari'ah), yaitu api yang sangat panas.

Di ayat-ayat makkiyah ini memang banyak sekali membahas neraka, azab, hari kiamat, dan hal-hal serupa. Saya sempat bertanya, kenapa ya ayat makkiyah fokus pembahasannya seperti ini? Apakah karena itu tahun-tahun penanaman tauhid? Entahlah, kutitip ingatan dulu di sini. Nanti kapan-kapan kalau kepo baru dicari tahu lagi.

Lanjut, yang kedua, tentang malaikat penjaga manusia. Yang umum diketahui, bahwa manusia memiliki 2 malaikat yang mencatat amal baik dan buruk. Tapi ternyata ada 4, ada yang menjaga depan dan belakang. Eh, ternyata ada 10. Lalu dibaca lagi tafsirnya lebih jauh, oh ternyata ada 20. Masyaallah.

Nah, saya lupa ini ada di surah apa. Sebenarnya ini bukan ayat tentang malaikat secara khusus. Ada tafsir ayat yang saya baca, tapi menghubungkan dengan QS. Ar-Ra'd ayat 11 yang membahas tentang malaikat penjaga itu. Jadi aku jelasin versi tafsir Ar-Ra'd ya.

Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. (Ar-Ra'd, [13:11])

Artinya, ada malaikat-malaikat yang selalu menjaga hamba Allah secara bergiliran. Ada yang di malam hari, ada pula yang di siang hari untuk menjaganya dari hal-hal yang buruk dan kecelakaan-kecelakaan. Sebagaimana bergiliran pula kepadanya malaikat-malaikat lainnya yang bertugas mencatat semua amal baik dan amal buruknya. Mereka menjaganya secara bergiliran, ada yang di malam hari, ada yang di siang hari — yaitu di sebelah kanan dan sebelah kirinya — bertugas mencatat semua amal perbuatan hamba yang bersangkutan. Malaikat yang ada di sebelah kanannya mencatat amal-amal baiknya, sedangkan yang ada di sebelah kirinya mencatat amal-amal buruknya.

Karena terlalu panjang, aku simpan linknya saja ya kalau mau baca wkwkwk. Soalnya pembahasan ini tuh banyak referensi tambahan, jadi akan panjang banget kalau dijelasin di sini.

Nah, pada saat saya menulis ini, saya bingung. Referensi yang saya baca sebelumnya yang mana ya? Saya sudah kulik-kulik tafsiran ayatnya, tapi kok tidak ketemu jenis-jenis malaikat yang jumlahnya 20 ya? Memang tidak secara eksplisit disebutkan 20, tapi dari kumpulan beberapa riwayat kalau dikumpulkan, totalnya bisa 20 gitu loh.

Ini tujuannya buat refleksi dan catatan pribadi untuk mengingat. Belum cukup 24 jam, malah lupa dan kehilangan jejak. Yoweslah, simpan dulu. Siapa tahu kapan-kapan ketemu lagi, hahaha.

Oke, lanjut deh. Yang ketiga, banyak ayat perulangan.

  1. Al-Insyirah:
    "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5). Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)."

  2. Surat At-Takatsur:
    "Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu) (3). Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui (4)."

  3. Surat Al-Kafirun:
    "Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah (2). Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah (3). Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah (4). Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah (5)."

Ya, kayaknya itu deh. Mungkin masih ada lagi, tapi aku cuma cantumin itu. Itupun bantuan AI, soalnya saya sudah lupa, ahahaha. Sebenarnya aku merasa belum puas sih, tapi ya gimana lagi, ingat yang cuma berapa MB mana tahan lama.

Oke, the last but not least. Membaca terjemahan setiap ayat seolah membaca sajak-sajak puitis. Terjemahan Indonesianya saja, masyaallah puitis sekali. Kebayang betapa indahnya susunan kosa kata Arabnya. Kepikiran, pantas saja di zaman Al-Qur'an diturunkan tidak ada yang bisa membantah secara "logis" kalau Al-Qur'an itu karangan manusia, karena dari segi susunan kata, kalimat, frasa, itu tidak ada yang menandingi. Bahkan orang Arab pun pada saat itu merasa bahasa Al-Qur'an adalah bahasa yang indah — terlepas apakah mereka menerima atau tidak. Ya begitulah cerita yang sering terdengar, dan saya baru merasa "relate" sekarang. Mungkin begini ya perasaan mereka membaca sajak-sajak yang indah dan dalam.

        Apabila matahari digulung,
        dan apabila bintang-bintang berjatuhan,
        dan apabila gunung-gunung dihancurkan,
        dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak terurus),
        dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,
        dan apabila lautan dipanaskan,
        dan apabila ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh),
        dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
        karena dosa apa dia dibunuh?
        dan apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar,
        dan apabila langit dilenyapkan,
        dan apabila neraka Jahim dinyalakan,
        dan apabila surga didekatkan,
        maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.
        Aku bersumpah demi bintang-bintang,
        yang beredar dan terbenam,
        demi malam apabila telah larut,
        dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing.
 
        (At-Takwir ayat 1-18)

Oke, itu saja dulu untuk kali ini. Kudoakan diriku sendiri semoga bisa lebih rajin lagi baca terjemahan dan menulisnya seperti ini. Seperti kata pepatah, "Ikatlah ilmu dengan menulisnya", kan? Semoga bisa mengikat banyak ilmu dan diabadikan dalam tulisan agar ilmunya awet, dan insyaallah bisa dibaca kapan saja.

Bye!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian