Mengenal Luka Batin — Review Buku Yang Belum Usai


Yang Belum Usai: Kenapa Manusia Punya Luka Batin?; Pijar Psikologi; Jakarta, 2020; PT Elex Media Komputindo; 187 hlm; ISBN: 978-623-00-1530; Self Improvement 18+

 
Blurb:

Apa itu luka batin, bagaimana mengidentifikasinya dan bagaimana cara memulai perjalanan untuk pulih dari luka batin? Buku ini adalah kompilasi esai penulis-penulis Pijar Psikologi mengenai luka batin. Penulis-penulis artikel dalam buku ini ingin mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat dengan luka batin. Kita perlu terbiasa mendengar, membaca, dan membicarakan luka batin agar luka tersebut bisa benar-benar kita rawat dan kita sembuhkan.
 
Semoga buku ini dapat membumikan pembicaraan mengenai luka batin selayaknya pembicaraan mengenai luka fisik saat kita terjatuh ketika menaiki sepeda.
 
REVIEW
 

"Time heals nothing."

"Selama ini ada konsepsi bahwa luka batin akan sembuh dengan sendiri seiring berjalannya waktu. Bahwa pada akhirnya kita akan mampu memaafkan orang-orang yang telah menyakiti hati kita. Bahwa trauma kita akan hilang. Bahwa kita akan baik-baik saja. Namun, itu semua keliru."

 

Buku ini menjelaskan tentang luka batin. Luka yang selama ini tak terbayangkan oleh kita bahwa ternyata istilah tersebut ada dalam istilah psikologi. Luka batin pun memiliki pembagian, ada trauma, primal wounds, unfinished buseines, dan lainnya.
 
Buku ini terbagi menjadi 4 part. Part pertama, tentang definisi luka batin dan segala yang berhubungan dengan luka batin. Kedua tentang bagaimana melepaskan pola lama, memahami dan mengenali sampah-sampah yang menyebabkan luka batin. Ketiga menyembuhkan luka batin, bagaimana proses perdamaian, penerimaan diri dan bagaimana menjaga keseimbangan mental. Terakhir, tentang bagaimana mencintai diri apa adanya.
 
Setiap part tersebut terbagi menjadi beberapa bagian. Dan di bab terakhir terdapat meditasi cinta kasih, bagaimana melakukan meditasi untuk mendamaikan diri dengan cara mencintai.
 
Buku ini menggunakan bahasa yang mudah dipahami, diluar bahasa-bahasa psikologi yang digunakan. Namun cara pembawaanya yang santai dan sangat related dengan kondisi real. Sehingga tidak membosankan ketika membacanya.
 
Setiap part, dan bagian-bagiannya, dilengkapi dengan ilustrasi yang memiliki makna sesuai apa yang akan dibahas. Ilustrasi ini sangat menarik, dan keren. Menjadi daya tarik sendiri dalam menikmati buku ini.
 


"Buku ini hadir untuk mengedukasi masyarakat bahwa luka batin bisa berakar dari hal-hal yang "sepele", tapi tetap saja bisa menyakiti jiwa. Buku ini hadir untuk mematahkan persepsi bahwa luka batin hanya akan hadir ketika kita mengalami peristiwa-peristiwa besar yang mebawa trauma. Nyatanya, "hanya" dengan ucapan yang merendahkan, pengabaian-pengabaian, dan pola pikir yang bisa menimbulkan luka bagi diri kita, terlebih ketika kita tidak pernah sadar bahkan hanya menumpuknya dan tidak pernah kita obati"., hal ix.
 

Waktu SMA saya menyadari bahwa apa yang kita pelajari waktu SD sangat berpengaruh bagaimana pengetahuan kita di masa SMP dan SMA, ini dalam perpektif ilmu pengtahuan di sekolah. Dengan melihat realita yang terjadi dengan teman-teman semasa sekolah saya berani menyimpulkan hal tersebut.
 
Namun setelah membaca buku ini, saya tidak hanya berkesimpulan pengaruh itu bukan hanya sebatas pelajaran, namun ternyata segala apa yang kita alami memberikan dampak yang signifikan dalam penjalanan hidup kita.
 
Di awal buku ini telah menyampaikan bahwa buku ini tidak bermaksud membuat kita untuk menduga setiap pengalaman masa lalu adalah luka batin. Namun dalam diri saya pribadi, setiap part ini membuat saya kembali berkontemplasi terhadap apa yang saya lakukan semasa kecil, meskipun kecil dalam artian saya masih SD, dan dari hal tersebut saya mendapatkan jawaban atas segala apa yang terjadi, pembentukan sikap karakter, dan secara mental bahwa sangat banyak dipengaruhi oleh masa lalu tersebut.
 
Hal ini bukan menjadi legitimasi oleh kita bahwa apa yang terjadi sekarang semata-mata kerena luka batin, tapi dari menyadari hal tersebut setidaknya kita bisa mengenali bahwa secara psikologi kita tertanam oleh hal-hal yang tak kita sangka. Dan dari pengenalan tersebut, kita bisa lebih memahami dan mencari solusi untuk menyembuhkannya.

"Sudah waktunya  bagi kita untuk menengok ke dalam, mencari bagian mana yang lalai kita perhatikan yang menyebabkan rasa sakit itu masih saja kita simpan dan tidak kita sembuhkan. Maka, sembuhkanlah luka-luka itu, selesaikanlah masalah-masalah dalam diri dan terimalahh segala peristiwa hidup sebagai ladang untuk belajar. Terimalah diri kita sendiri dan pelan-pelan maafkan diri ino. ,aafkan diri kita yang belum mampu melindungi diri dengan sempurna. Maafkan diri kita yang masih terluka dan belum pulih. Karena memaafkan diri sendiri adalah upaya kita memulihkan segala luka dan melepaskan beban emosi karena "merasa tersakiti". —Hal 29

 
Luka batin sering kita tidak sadari. Kita tidak sadar bahwa hal-hal tertentu telah membuat luka dalam batin kita, namun kita tidak bisa melihat realita itu. Tapi sayangnya luka tersebut tertanam dalam sisi psikolgi kita dan membentuk cara berpikir dan sikap kita. Dengan kata lain segala luka tersebut tertanam di alam bawah sadar kita, tanpa kita tahu. Dan kita merasa bahwa memang sikap kitalah yang seperti ini, padahal bisa jadi hal tersebut adalah luka batin di masa lalu yang belum disembuhkan.
 
Kita berfikir dengan berjalannya waktu, segala yang kita alami akan tersembuhkan dengan sendirinya, namun ternyata kita salah. Ketika hal tersebut tidak terselesaikan, maka akan menjadi asupan yang tidak sehat untuk mental kita.
 
Buku ini tidak menjamin, bahwa setelah membacanya kita akan terbebas dari namanya luka batin. Namun dapat menjadi informasi awal untuk mengenalinya sebelum jauh tertanam diri kita, dan bagaimana menemukan solusi untuk hal tersebut.
 
Selain dengan berkonsultasi dengan psikiater tentunya, di buku terdapat  cara bagaimana menyelesaikan luka batin tersebut. Namun hal itu tentunya butuh waktu dan tidak instan. Bahkan banyak dari buku tersebut belum saya praktekkan hehehe.
 
Dengan kita mudah mengenal luka fisik,
Maka luka batinpun juga harus kita kenal seperti itu.
 

“Hidup tidak akan pernah terbebas dari luka, sekalipun kita berusaha menjaga diri atau menghindari luka, sehingga hidup bukan tentang bagaimana agar tidak terluka. Namun, bagaimana caranya kita menyembuhkan luka? Terlebih, masih banyak dari kita hanya menyadari pentingnya mengobati luka fisik dan mengabaikan luka psikis.” —Hal 101

 


Writer; Yuls Al Guevara (Ig. @mawaryuliana_)


Jenis-Jenis Luka Batin — Buku "Yang Belum Usai"

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian