#BookReview Manuskrip yang Ditemukan di Accra — Paulo Coelho

Manuscrito Encontrado em Accra (Manuskrip yang Ditemukan di Accra); Paulo Coelho; Jakarta 2014; PT Gramedia Pustaka Utama; 208 hlm; ISBN: 978-602-03-0279-9


Blurb

Apakah Kesuksesan itu?

Kesuksesan adalah bisa pergi tidur setiap malam

Dengan jiwa yang damai.

1099. Gerbang-gerbang Yerusalem tengah dikepung. Di dalam tembok kota, orang-orang berkumpul untuk mendengarkan kata-kata bijak seorang lelaki misterius yang dikenal sebagai sang Guru. Mereka bertanya tentang rasa takut, musuh, kekalahan, dan perjuangan; mereka merenungkan tekad untuk beubah, kebajikan dalam kesetiaan serta kesendirian; dan mereka megajukan pertanyaan tentang keindahaln, seks dan keluwesan, cinta, kebijaksanaan, dan masa depan. Dan berabad-abad kemudian, jawaban-jawaban orang bijak itu masih tetap berlaku sebagai rekam jejak nila-nilai manusia yang tak lekang dimakan waktu.

Di tangan Paulo Coelho, Manuskrip yang Ditemukan Di Accra menunjukkan siapa diri kita; ketakutan dan harapan kita untuk masa depan berasal dari pengetahuan serta keyakinan yang ada dalam diri kita, bukan dari kesulitan yang mengepung kita.

 

Review

Paulo Coelho adalah seorang novelis Brasil. Ia merupakan salah satu penulis dengan karya yang paling banyak dibaca di dunia saat ini.

Saya tidak sengaja bertemu buku Manuskrip yang Ditemukan di Accra ini ketika mencari buku-buku yang menarik untuk dibaca, saya lupa dulu carinya buku bagaimana yang jelas sejenis buku Albert Camus dan Fyodor.

Buku ini adalah buku pertama karya Paulo Coelho yang saya baca, dan saya langsung jatuh cinta dengan karya penulis Brasil ini.

Dalam kata pengantar buku ini dijelaskan bahwa dua orang bersaudara menemukan jambangan (dalam KBBI, Jambangan itu tempat  menaruh bunga untuk hiasan) berisi lembar-lembar papirus di dalam gua di wilayah Hamra Don, di utara Mesir pada tahun 1945. Lembar-lembar ini sebagaian dijual, sebagaian lagi dibakar oleh ibu bersaudara tersebut, dan dengan alasan tertentu lebihnya diserahkan kepada seorang pendeta. Pendeta ini menjualnya lagi ke Museum Koptik di Kairo. Dari sinilah lembar-lembar papirus ini diberi nama manuskrip-manuskrip dari Nag Hammadi.

Papirus adalah terjemahan-terjemahan bahasa Yunani atas teks-teks yang ditulis antara akhir abad pertama SM dan M 180, terdiri atas sejumlah karya yang juga dikenal sebagai Kitab-Kitab Apokratif, sebab tidak dimasukkan dalam Alkitab sebagaimana yang dikenal oleh sebagaian besar orang-orang sekarang.

Pada tahun 1974, arkeolog Inggris, Sir Walter Wilkinson, menemukan manuskrip lain, kali ini ditulis dalam tiga bahasa: Arab, Ibrani, dan Latin. Setelah melalui pengujian, diungkapkan bahwa dokumen tersebut relatif masih baru, kemungkinan dari tahun 1307 M. Dan cukup mudah untuk melacak asal-usulnya ke kota Accra, di luar wilayah Mesir.

Singkat cerita, Paulo Coleho bertemu dengan anak laki-laki Sir Walter pada tahun 1982. meskipun awalnya tidak terlalu memberikan perhatian lebih atas manuskrip ini. Namun pada tanggal 30 November 2011, Paulo menerima manuskrip ini. Lalu buku inilah salinan dari manuskrip tersebut.

"Kini, menjelang akhir hayatku, kuwariskan pada mereka yang datang kemudian, semua yang kupelajari saat masih berjalan di muka Bumi. Semoga mereka bisa mendapatkan manfaat darinya." 
—Hal 15

Buku ini diawali dengan sekelompok perempuan dan laki-laki yang menemui si orang Yunani yang disebut sang Guru. Disamping sang Guru ada tiga pemuka agama yang hidup di Yerusalem. Sang Guru sendiri tidak menganut agama apapun. 

"Pengetahuan bukanhlah kebenaran absolut tentang hidup dan mati, melainkan sesuatu yang bisa membantu kita dalam menjalani hidup dan menghadapi tantangan hidup sehari-hari. Penetahuan bukanlah apa yang kita pelajari dari buku-buku, yang hanya memicu debat-debat mubazir tentang hal yang telah atau akan terjadi; pengetahuan tinggal di dalam hati manusia, laki-laki dan perempuan, yang beriktikad baik." 
—Hal 20-21

Sang guru dan para perempuan dan laki-laki tersebut berdiskusi tentang apa yang harus kita bicarakan dengan kondisi pertempuran di Yerusalem yang akan terjadi.

Sang Guru pun berkata, 

"Tak satupun dari kita tahu, apa yang akan terjadi esok, sebab setiap hari memiliki saat-saat baik dan buruknya sendiri. Maka, saat kalian bertanya nanti, lupakan pasukan-pasukan di luar itu dan rasa takut kalian sendiri. Bukan tugas kita untuk meninggalkan catatan tentang peristiwa yang terjadi pada tanggal ini, bagi mereka yang kelak mewarisi bumi; biarlah sejarah yang mencatatnya. Karenanya, marilah kita bicara tentang hidup sehari-hari, tentang kesulitan-kesulitan yang harus kita hadapi. Sebab itulah yang menarik minat masa depan, dan aku yakin tidak banyak yang akan berubah dalam seridu tahun kedepan."

"Saat kalian bertanya", nah dari kalimat ini sudah ada gambaran kira-kira isi lanjutannya akan seperti apa? Yup, isi buku ini berisi dialog antara para perempuan dan laki-laki itu. Dengan berbagai latar belakang yang berbeda serta pekerjaan dan kondisi yang bereda, mereka meminta sang Guru menjabarkan tentang apa-apa yang mereka ingin tahu.

Dari sini, sebenarnya agak tidak asing membaca buku ini, karena buku sangat mirip dengan Buku Khalil Gibran - Sang Nabi. Ketika di buku tersebut, Sang Nabi yang ingin pergi meninggalkan pulau tempat tinggalnya, namun dihalangi oleh masyarakat setempat yang berharap sang Nabi tidak meninggalkan mereka. Maka sang Nabi tidak mau meninggalkan pulau itu dengan sedih, maka dia berdialog dengan masyarakat. Mereka bertanya tentang segala hal dan akan dijawab oleh Sang Nabi. Dan ini mirip sekali dengan buku Manuskrip ini. Cuma dalam buku Sang Nabi, cukup pendek, dan menggunakan bahasa sangat instrumen, jadi benar-benar berpikir keras untuk bisa mendapatkan maknanya.

Dalam buku ini, disampaikan secara jelas dan lugas, dengan bahasa sehari-hari yang sederhana sehingga mudah dipahami. Diawal buku saja, saya banyak mengutip seperti diatas, karena isi bukunya sangat bagus, sampai tidak bisa memilih yang mana part terbaik, karena semua terbaik dengan versinya masing-masing. Setiap lembar demi lembarnya merupakan quote terbaik.

Di kutipan sebelumnya, sang Guru mengakatan "aku yakin tidak banyak yang akan berubah dalam seribu tahun kedepan", nah benar sekali yang dikatakan oleh sang Guru ini. Semua bagian dari buku ini, mulai tentang kekalahan, kesendirian, ketidak bergunaan hidup, perubahan, dan masih banyak lagi, yang kesemuanya masih sangat relevan dengan keadaan kita searang ini.

Kata-kata bijak sang Guru seolah menyihir kita untuk bisa memahami segala kondisi yang kita alami dan bagaimana menyikapi dengan perspektif yang berbeda. 

 

Tentang mereka yang kalah,

"Celakah orang-orang yang tidak pernah mengalami kekalahan! Sebab mereka tidak akan pernah menjadi pemenang dalam hidup ini."

Tentang keyakinan bahwa diri tidak berguna,

"Jalani kehidupan yang sejak dulu kau inginkan. Hindarkan mengkritik orang-orang lain dan berfokuslah untuk mewujudkan impian-impianmu. Mungkin ini kelihatannya tidak terlalu penting bagimu, tetapi Tuhan, yang meilhat semuanya, tahu bahwa contoh yang kau berikan telah membantu-Nya untuk memperbaiki dunia. Dan setiap hari Dia akan melimpahkannya lebih banyak berkat ke dalamnya." 

—Hal 52-53

Tentang perubahan,

"Dan kepada mereka yang berkata bahwa petualangan itu berbahaya, beginilah kukatakan: jalani saja rutinitasmu. Itu akan membunuhmu jauh lebih cepat."

—Hal 65

Tentang masa depan,

"Akan tetapi orang yang paham bahwa dia layak memperoleh buah perjuangnnya selama ini, tentu menyadari bahwa bukan usahanya semata-mata yang telah membawanya ke sana, melainkan ada Tangan yang telah menuntunnya.

Hanya orang yang mampu menghormati setiap langkahnya bisa memahami kelayakan dirinya sendiri." 

—Hal 163

Tentang senjata,

"Di mana ada kesetiaan, senjata menjadi barang tak berguna." —hal 173

"Kesetiaan tak pernah bisa diterapkan dengan paksaan, ketakutan, perasaan tidak aman, maupun intimidasi.

Kesetiaan merupakan pilihan, dan hanya jiwa-jiwa yang kuat yang berani membuat pilihan itu.

Dan karena kesetiaan adalah pilihan, dia takkan mau menerima pengkhianatan, namun akan selalu memaklumi kekeliruan.

Dan karena kesetiaan adalah pilihan, dia takkan lekang oleh waktu dan takkan terpengaruh oleh konflik-konflik sesaat." 

—Hal 177-178

Itulah beberapa quote dari buku ini, cukup sulit untuk memilih quote terkeren karena semuanya keren, maka quote tersebut saya pilih secara random.

Meski diawal saya mengatakan bahwa buku ini mirip karya Sang Nabi, namun tidak serta merta memberikan kesamaan sensasi saat membacanya, keduanya memiliki cara khasnya masing-masing.

Buku ini bisa dibaca tidak berurutan, karena satu bagian dengan bagian lainnya tidak terikat. Jadi bisa dibaca sesuai kondisimu saat ini. Karena memiliki batasan-batasan bagiannya tersendiri.

Ingat ketiga pemuka agama yang berada didekat Sang Guru, yang saya katakan diawal tadi? Nah, sebelum buku ini benar-benar selesai, ketiga pemuka agama ini menambahkan juga dan menjadi penutup, pelengkap, dan kesimpulan yang sangat pas dari pembicaraan yang panjang ini.

 

Bisa dibaca di sini, 

Pesan Penutup oleh Sang Rabi, Sang Imam, dan Sang Pendeta dalam buku Manuscrito Encontrado em Accra

 

Selamat membaca,

Selamat berkelana dalam manuskrip tua ini.


Eitssss...... meskipun tua….

 

OLD BUT GOLD~`

 

 

Writer; Yuls Al Guevara

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gambaran Nyata Perjuangan Palestina, Review Novel 24 JAM Karya Farah Qoonita

Pulang - Leila S. Chudori

Pokoknya Makan Mie Ayam Dulu, Mati Kemudian