Bebas Berpikir, atau Sekadar Terbiasa?—Review Buku Pendidikan Kaum Tertindas Karya Paulo Freire
Pendidikan Kaum Tertindas; Paulo Freire; Copyright © 1970, 1993 by Paulo Freire; Introduction © 2000 by Donaldo Macedo; Yogyakarta: Penerbit Narasi, cet.5, 2024; Social Science; U17+
Blurb
Di dunia pendidikan, Paulo Freire melihat bagaimana orang kuat merendahkan masyarakat lemah melalui cara-cara halus namun menindas. Melalui buku ini, Paulo Freire mengritik keras model pendidikan gaya bank barat yang disebutnya sebagai alat penindasan. Sebagai gantinya ia mengajukan konsep pendidikan hadap-masalah yang disebutnya sebagai alat pembebasan. Metodologi Paulo Freire ini terbukti telah membantu orang-orang miskin dan buta huruf yang tak terhitung jumlahnya di seluruh dunia.
Buku ini sebagai referensi generasi baru pendidik, siswa, dan pembaca umum di masa kini dan mendatang.
Review
Dalam Pendidikan Kaum Tertindas, Paulo Freire memulai dari satu gagasan yang sederhana: manusia seharusnya menjadi subjek yang sadar dan aktif dalam dunia, bukan sekadar objek yang dibentuk oleh keadaan.
Namun dalam kenyataannya, banyak manusia hidup dalam kondisi sebaliknya. Mereka menerima, mengikuti, lalu beradaptasi, tanpa benar-benar memahami realitas yang mereka jalani. Bagi Freire, kondisi ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan bagian dari struktur sosial yang lebih besar.
Penindasan, dalam pandangan Freire, tidak selalu hadir dalam bentuk yang kasar atau terlihat jelas. Ia sering kali bekerja secara halus, menyusup ke dalam kebiasaan, nilai, dan cara berpikir, hingga tampak sebagai sesuatu yang normal. Akibatnya, orang yang berada dalam kondisi tertindas tidak selalu menyadari bahwa mereka sedang berada dalam situasi tersebut. Bahkan, mereka bisa menerima keadaan itu sebagai bagian dari kenyataan hidup.
Yang lebih mengganggu, Freire menunjukkan bahwa orang yang tertindas tidak selalu melawan. Dalam banyak kasus, mereka justru menginternalisasi cara berpikir penindas—mengaguminya, menirunya, bahkan menjadikannya sebagai standar dalam melihat diri dan orang lain. Dari sini muncul sebuah paradoks: ketika kesempatan untuk berubah datang, yang terjadi tidak selalu pembebasan, melainkan sekadar pergantian posisi. Yang sebelumnya tertindas bisa saja menjadi penindas, bukan karena niat buruk, tetapi karena pola itulah satu-satunya bentuk relasi kekuasaan yang mereka kenal.
Pola ini tidak berdiri sendiri. Ia diperkuat oleh sistem lain, salah satunya pendidikan. Freire mengkritik apa yang ia sebut sebagai “pendidikan gaya bank”, di mana guru diposisikan sebagai pihak yang aktif dan murid sebagai penerima pasif. Pengetahuan diperlakukan seperti sesuatu yang disimpan, bukan dipahami. Proses belajar menjadi satu arah, tanpa dialog, tanpa ruang untuk mempertanyakan.
Baca juga: Rasa Ingin Tahu Masih Redup: Pendidikan "Gaya Bank" Masih Belum Padam
Dalam sistem seperti ini, pendidikan tidak lagi menjadi sarana untuk memahami dunia, melainkan sarana untuk menyesuaikan diri dengan dunia yang sudah ada. Alih-alih membebaskan, pendidikan justru berfungsi sebagai alat untuk mempertahankan struktur yang ada.
Sebagai alternatif, Freire menawarkan pendekatan pendidikan yang dialogis. Dalam pendekatan ini, guru dan murid sama-sama menjadi subjek yang aktif. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada transfer pengetahuan, melainkan pada dialog yang berangkat dari realitas yang dialami. Belajar menjadi proses memahami dunia, bukan sekadar menghafal informasi.
Tujuan akhirnya bukan hanya pengetahuan, tetapi kesadaran kritis. Kesadaran yang memungkinkan manusia untuk melihat realitas secara lebih utuh, memahami posisinya di dalamnya, dan bertindak secara reflektif. Freire menekankan pentingnya praksis—perpaduan antara refleksi dan tindakan. Tanpa refleksi, tindakan menjadi buta. Tanpa tindakan, refleksi menjadi kosong.
Pembebasan, dalam kerangka ini, bukan sesuatu yang bisa diberikan oleh pihak lain. Ia harus diperjuangkan secara sadar dan kolektif. Lebih dari sekadar mengganti peran antara penindas dan tertindas, pembebasan menuntut perubahan terhadap pola dan struktur yang memungkinkan penindasan itu terus berlangsung.
Meskipun demikian, buku ini bukan tanpa kelemahan. Gaya bahasanya cukup berat dan cenderung repetitif, dengan banyak konsep yang diulang dalam bentuk yang berbeda. Bagi sebagian pembaca, hal ini bisa terasa melelahkan. Selain itu, buku ini relatif minim contoh konkret, sehingga beberapa gagasan terasa abstrak dan membutuhkan usaha lebih untuk mengaitkannya dengan realitas sehari-hari. Gagasan tentang pendidikan dialogis juga, meskipun kuat secara konsep, tidak selalu mudah diterapkan dalam sistem pendidikan yang sudah mapan.
Namun di balik itu semua, kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya untuk mempertanyakan ulang cara berpikir pembaca. Ia tidak hanya menawarkan teori, tetapi juga memaksa pembaca untuk mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap normal.
Pada akhirnya, buku ini mengarah pada satu pemahaman yang cukup mendasar: masalah utama bukan terletak pada kebodohan, tetapi pada ketidaksadaran. Bukan pada kurangnya informasi, tetapi pada cara berpikir yang dibentuk untuk tidak mempertanyakan. Dan yang lebih menyesakkan, manusia bisa saja, tanpa sadar, ikut mempertahankan sistem yang menindasnya. Menurutmu, apakah buku ini masih relevan?
Kutipan
Kebebasan adalah sebuah persalinan yang menyakit-kan. Manusia yang lahir adalah manusia baru yang mampu terus hidup jika pembedaan siapa yang tertindas dan siapa yang menindas bisa dihentikan oleh proses humanisasi manusia seluruhnya. Atau dengan kata lain, solusi dari pembedaan ini bisa dicapai melalui rasa sakit persalinan yang melahirkan manusia baru yang tidak lagi menindas dan tidak juga tertindas, namun manusia yang berada dalam proses menggapai kebebasan. —hal 22
Solidaritas yang sejati hanya ada dalam perbuatan penuh kasih sayang dalam praktiknya. Mengakui manusia yang bebas hanya akan menjadi lelucon jika tidak diikuti oleh perbuatan nyata untuk mewujudkannya.—hal 23
Satu hal yang paling penting, dari sudut pandang pendidikan pembebasan, adalah orang-orang merasakan menjadi pemilik dari pemikiran mereka dengan mendis-kusikan pemikiran dan pandangan dunia secara eksplisit maupun implisit yang terwujud dalam usulan mereka dan rekan sesama mereka. Karena pandangan pendidikan di-mulai dengan keyakinan bahwa pendidikan tidak bisa menghadirkan programnya sendiri namun harus mencari program secara dialogis kepada orang-orang, itu menjadikan kita harus memperkenalkan pendidikan untuk kaum ter-tindas, dalam penjelasannya yang harus melibatkan kaum tertindas.—133
Para pendo-minasi ini tidak dapat bertindak secara dialogis; jika melaku kan hal tersebut, mereka akan kehilangan kekuatan merekau ntuk mendominasi dan bergabung dengan perjuangan kaum penindas, atau kehilangan kekuatan mereka karena salah hitung.—137-138
"...kita tidak bisa mengatakan bahwa dalam proses revolusioner, seseorang membebaskan orang lain, atau seseorang membebaskan dirinya sendiritapi lebih kepada manusia yang bersatu untuk membebaskan satu sama lain.—146-146
Objek dari tindakan dialogis-pembebasan bukan untuk "mengeluarkan" kaum tertindas dari realitas mitologis untuk "mengikat" mereka pada realitas lain. Sebaliknya, objek dari tindakan dialogis adalah membuat kaum tertindas mungkin untuk memilih mengubah realitas yang tidak adil.—206
Pemimpin yang tidak bertindak secara dialogis, namun masih bersikeras untuk memaksakan keputusannya dan tidak mengorganisir masyarakat berarti telah memanipulasi mereka. Mereka tidak membebaskan, tidak pula terbebas-kan: mereka menindas.—212

Komentar
Posting Komentar