Apakah Kita Masih Berpikir, atau Hanya Merespons? - Kenapa Buku ini Masih Relevan?
Sekilas, anggapan itu memang sulit dibantah.
Hari ini, orang lebih sering berbicara, lebih cepat mengkritik, dan lebih percaya diri dalam menyampaikan pendapat. Hampir semua orang punya opini, dan hampir semua hal bisa segera ditanggapi. Satu kejadian muncul, beberapa menit kemudian sudah ada ratusan sudut pandang, analisis, bahkan penilaian moral yang terasa sangat yakin.
Semua orang seperti punya posisi. Semua orang seperti tahu harus berpihak ke mana.
Namun, di tengah kondisi seperti itu, muncul satu pertanyaan yang tidak selalu nyaman untuk diajukan: apakah semua itu benar-benar menunjukkan kesadaran, atau hanya bentuk baru dari hal yang sama?
Karena kalau diperhatikan, banyak dari apa yang kita sebut sebagai “kritis” sebenarnya terjadi sangat cepat. Terlalu cepat. Kita melihat sesuatu, lalu langsung menilai. Kita membaca potongan informasi, lalu merasa cukup untuk menyimpulkan. Kita bereaksi sebelum sempat benar-benar memahami.
Menjadi kritis tidak selalu berarti sadar.
Seperti yang ditunjukkan oleh Paulo Freire, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang mampu berbicara atau berpikir, tetapi apakah ia benar-benar memahami dunia yang ia bicarakan, sekaligus menyadari struktur yang membentuk cara berpikirnya.
Di sinilah persoalan mulai terasa lebih dalam.
Di tengah akses informasi yang semakin luas, kita tetap hidup dalam sistem yang tidak terlihat, tapi bekerja terus-menerus. Apa yang kita lihat setiap hari tidak sepenuhnya kita pilih. Apa yang sering muncul di layar kita perlahan membentuk apa yang kita anggap penting. Hal-hal yang jarang muncul, perlahan terasa tidak relevan.
Algoritma tidak memaksa kita. Ia hanya mengarahkan… secara konsisten.
Lama-lama, kita merasa itu pilihan kita sendiri.
Lingkungan juga bekerja dengan cara yang sama. Kita cenderung setuju dengan orang-orang yang satu frekuensi, menghindari yang berbeda, dan tanpa sadar membangun ruang yang memperkuat cara berpikir kita sendiri. Apa yang kita dengar berulang-ulang, pelan-pelan terasa seperti kebenaran.
Kita merasa memilih. Padahal sebagian pilihan kita sudah dipersempit.
Kita merasa berpikir sendiri. Padahal banyak pikiran kita adalah hasil dari apa yang terus-menerus kita konsumsi.
Kita merasa bebas. Padahal mungkin kita hanya bergerak di dalam batas yang tidak kita sadari.
Dalam kondisi seperti ini, kritik sering kali berubah menjadi sekadar reaksi, bukan refleksi. Kita menanggapi banyak hal, tapi jarang berhenti untuk memahami secara utuh. Kita berbicara, tapi belum tentu menyadari posisi kita dalam struktur yang lebih besar—apakah kita benar-benar sedang berpikir, atau hanya meneruskan pola yang sudah ada.
Di titik inilah relevansi buku ini tetap terasa.
Freire menunjukkan bahwa orang yang tertindas tidak selalu melawan. Dalam banyak kasus, mereka justru menginternalisasi cara berpikir penindas, menirunya, bahkan menjadikannya sebagai standar.
Dan kalau dilihat sekarang, ini terasa sangat dekat.
Kita bisa melihat bagaimana seseorang yang menolak otoritas, justru menjadi otoriter dalam ruang yang lebih kecil—dalam diskusi, dalam komunitas, bahkan dalam cara ia memperlakukan orang lain yang berbeda pendapat. Kita juga bisa melihat bagaimana kritik terhadap sistem sering kali dilakukan dengan cara yang sama: merendahkan, menutup ruang dialog, dan merasa paling benar.
Seolah-olah yang berubah hanya posisi. Bukan pola.
Tanpa disadari, pola itu terus berulang. Yang berubah hanyalah bentuknya—lebih halus, lebih modern, tapi tetap sama di intinya.
Pada akhirnya, buku ini tidak terasa usang. Ia justru hadir seperti cermin yang masih relevan, bukan karena dunia tidak berubah, tetapi karena cara manusia berinteraksi dengan dunia tidak berubah secepat itu.
Mungkin masalahnya memang bukan pada kurangnya informasi, atau pada keberanian untuk berbicara, melainkan pada kesadaran.
Kesadaran untuk berhenti sejenak di tengah arus yang serba cepat.
Kesadaran untuk tidak langsung bereaksi.
Kesadaran untuk melihat lebih dalam sebelum merasa paham.
Dan yang paling sulit, kesadaran untuk mempertanyakan bukan hanya apa yang kita pikirkan, tetapi bagaimana kita sampai pada pemikiran itu.
Karena bisa jadi, yang selama ini kita anggap sebagai sikap kritis hanyalah kebiasaan untuk merespons dengan cepat—bukan memahami secara utuh.
Dan jika itu benar, maka buku ini belum selesai dibaca oleh zaman.
Pertanyaannya kemudian menjadi sederhana, tetapi tidak mudah dijawab:
apakah kita benar-benar sudah lebih kritis,
atau hanya semakin terbiasa untuk terlihat kritis?
Baca juga: Bebas Berpikir, atau Sekadar Terbiasa?—Review Buku Pendidikan Kaum Tertindas Karya Paulo Freire

Komentar
Posting Komentar